Jumat, 29 Juni 2018

Kentjan Pertama

Shijack hanya kamuflase
Memperlama waktu bercengkrama
Beralas tikar beratap daun
Kita duduk menghadap jalan
Sekitar kita begitu berisik
Kawula muda sibuk bercanda
Guyonan khas malam minggu
Jalanan ramai kendaraan
Sorot mobil membuat mata ingin beralih
Menatapmu?
Ah, jika semudah itu aku ingin sekali melakukannya
Lebih lama, menyelami kisah demi kisah yang tersirat disana
Jika saja jantungku tidak sekencang itu bersuara
Tentu sudah kuberanikan diri sedari tadi
Kita diam, memperhatikan jalanan
Menyeruput susu cokelat hangat yang tak ingin segera kuhabiskan
Tapi apa daya perut lapar tak bisa berbohong
Susu telah habis, kita masih di posisi yang sama
Begitu banyak yang ingin kuceritakan
Begitu banyak yang ingin kutanyakan
Tapi mulut telanjur kelu
Kita diam
Menerka
Perasaan
Di pikiran
Masing-masing

Senin, 25 Juni 2018

P U N A H

Terbanglah ke pucuk pohon

Barangkali rindu bersarang di sana

Menyelamlah ke dasar sungai

Barangkali rindu bersembunyi di cangkang remis

Susurilah hutan sunyi menuju gulita

Barangkali rindu menyamar kesepian

Bila tak jua ketemu

Barangkali rindu memang sudah benar-benar punah

Rabu, 20 Juni 2018

Di Pemakaman

Di setiap upacara pemakaman

Ketika peti diturunkan ke liang

Ada yang pikirannya terlalu liar

Dan berandai-andai menggantikan almarhum

Jika dia yang di liang

Masihkah kau sisakan kesedihan untuknya?

Atau justru senyum bahagia yang kelak kau tunjukkan?

Dia ingin tahu

Dia ingin memastikan ekspresi itu

Walaupun tubuhnya di liang

Ruhnya melayang-layang bak daun kamboja yang gugur

Mudah baginya melihat isi hatimu

Yang benar-benar atau hanya pura-pura

Kamis, 07 Juni 2018

Sebwa Pertanyaan

Di usiaku yang belum ada seperempat abad

Aku sudah merasa lelah menjalani hidup

Apa aku harus bercita-cita seperti Gie?

MATI MUDA?

Ah, tapi dia dinamis

Dia tak pernah diam semasa hidupnya

Sementara aku

Hanya diam

Meratap

Larut

Sok bangkit

Dan berulang lagi

Pantaskah aku mati muda?