Jumat, 20 Oktober 2017

Karma Does Exist

Karma.
Percaya nggak?
Aku sih yes. Apapun istilahnya, semua orang pasti tahu apa yang dia tabur itulah yang dia tuai. Tapi beberapa ada yang nggak percaya sih. Terus istilahnya diganti apa yang kamu tabur belum tentu kamu tuai. Masuk akal juga sih kalau dibawa ke zaman sekarang. Tapi konteksnya mungkin lebih ke menyindir para pejabat yang suka ngambil uang rakyat. Hihihi. Yah tapi apalah aku ini yang nggak ngerti masalah politik. Tapi kamu tahu kan kalau aku selalu berusaha ngertiin kamu? Aku juga ngerti gimana cara masakin mamamu masakan yang enak lho. Halaaahhh... 😂
Back to the point: Karma. Aku sih percaya karma itu ada. Mungkin istilahnya aja yang beda-beda. Ketika kamu banyak menolong kamu akan ditolong, ketika kamu banyak memberi kamu akan diberi lebih, ketika kamu banyak mengeluh kamu akan diberi masalah lagi, ketika kamu banyak mendengar kamu akan didengarkan, ketika kamu banyak mengasihi orang kamu akan banyak dikasihi, dan ketika kamu banyak memberi harapan palsu ke orang kamu juga akan dapat balasan diberi harapan palsu. ToT
Nggrantes to? Belakangnya nggak enak ya. Wkwkwk. But, that's a truth. Aku merasa begitu. Entah ada orang yang mengalami hal sepertiku atau tidak?
Sebenarnya agak kesal ketika seorang mas-mas yang pernah sangat dekat denganku bilang, "kamu tuh dek, semua cowok mbok perlakuin sama. Mbok anggep temen semua. Php ah." Sebenarnya aku cuma melongo waktu itu. Terus mikir, ini masnya belum tak tolak aja udah berani ngatain php. Btw, ini masnya baru dekat ya statusnya, bukan pacar, tapi ngomongnya udah bikin aku nggak ingin lebih dekat sama dia. Wkwkwkwk. Lama banget aku kepikiran sama kata-kata masnya itu. Tapi akhirnya aku sampai di simpulan "mungkin masnya benar, selama ini kita sering PHP-in anak orang tanpa kita sadari." Ya kadang kita nggak nyadar apa yang kita lakuin itu termasuk PHP. Misal nih ada yang PDKT terus kita nanggepin chatnya. Udah asyik banget eh tiba-tiba kita mulai berubah. Nggak seaktif dulu lagi membalas chatnya. Kadang juga nggak sengaja PHP karena kita nggak tahu dia ternyata lagi PDKT ke kita. Bisa gini? Bisa. Nggak semua perempuan peka to? Aku termasuk golongan ini. Wkwkwk. Jadi, kadang nggak ngerti kalau PHP karena ya kita nggak ngerasa lagi di PDKTin, apalagi kalau cowoknya nggak to the point.
Sebenarnya yang protes itu cuma satu orang ya. Tapi setelah kupikir ada benarnya, baru ingat yang jadi korban nggak cuma satu orang. Mhehehe. Tapi beneran ya nggak sengaja. Balik ke karma does exist, ternyata hal yang nggak kita sengaja kayak gini pun dapat balasannya. Suatu saat pasti ada yang PHPin balik. Sakit to? Ya emang. Tapi kan mereka yang dulu mbok PHPin juga sakit. Impas to? Dulu pas mereka nyadar kena PHP akhirnya mundur kan? Nah, sekarang belajarlah dari mereka. Mending udah kalau di PHP. Dianya nggak serius ngapain diseriusin kan? Nangis boleh, sedih boleh. Tapi hidupmu masih panjang kan? Ikhlasin, nanti pasti gantinya lebih baik lagi. Anggep dia sebagai pelajaran hidup, salah satunya tentang karma. Jadi, jangan suka PHPin anak orang meski itu cuma faktor ketaksengajaan. Pikirkan akibatnya sebelum berbuat. :)

Selasa, 17 Oktober 2017

Curhat (lagi)

"Bekerjalah sesuai passionmu maka hasil kerjamu pasti memuaskan." Ah, bagus ya nasehatnya, kelihatan memotivasi sekali. Padahal kalau kita bawa ke kehidupan nyata, rasanya sulit menemukan pekerjaan yang sesuai passion kita. Contoh saja zaman sekarang banyak sekali sarjana non ekonomi yang bekerja di bank. Sebenarnya agak aneh juga ketika beberapa waktu yang lalu moncer sindiran Pak Presiden kepada wisudawan salah satu kampus pertanian mengenai mayoritas lulusannya yang tidak bekerja di bidang pertanian, justru malah di perbankan. Menurutku pribadi itu nggak salah sih ketika seseorang bekerja tidak sesuai bidang studinya. Bisa saja bidang studinya nanti dia manfaatkan sebagai hobi saja.
Aku adalah salah satu dari sekian banyak sarjana yang pernah bekerja tidak sesuai bidang studiku. Waktu itu aku baru saja lulus kemudian diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta. Tentu saja aku merasa bangga. Di saat teman-temanku masih pontang-panting nglamar sana-sini sementara aku sudah diterima bekerja, rasa syukurku muncul berkali lipat. Awalnya demikian. Aku merasa sangat bersyukur. Aku merasa beruntung. Namun, seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa tempatku bukan di perusahaan itu. Aku mulai merindukan suasana kelas yang gaduh candaan murid-murid, aku merindukan curhatan khas anak baru gede yang bribikannya selalu lebih dari satu, aku merindukan bicara di depan mereka dan mengawasi mereka dari belakang kelas. Akhirnya kuputuskan keluar dari perusahaan tersebut. Dan sekarang aku mengajar? Belum! Hidup tak membawaku pada jalan semudah itu.
Statusku sekarang jobless alias pengangguran. Tapi tidak sepenuhnya karena aku memiliki samben sebagai tentor les privat. Tapi menurutku itu bukan pekerjaan. Meski begitu, aku senang melakukan samben ini. Sedikit banyak, kerinduanku akan ruang kelas terobati. Selama ini aku bekerja di depan monitor yang hanya bisa berkedip. Dan sekarang yang kuhadapi adalah manusia beranjak remaja yang suka sekali bercerita tentang cemewewnya di sekolah. Lucu mereka ini hahaha.
Aku ini idealis sekali. Aku masih bersikukuh pada keinginanku untuk mengajar di kelas formal. Jadi aku hanya memasukkan lamaran ke sekolah-sekolah, menunggu panggilan, dan ternyata sampai sekarang belum ada panggilan. Hari ini tepat 3 bulan aku resign dari perusahaan itu. Keidealisanku mulai sedikit terkikis, pikiranku mulai realistis. Satu yang baru aku percayai "mencari pekerjaan sesuai passion itu susah". Banyak yang harus dipertaruhkan, semisal waktu. Temanku harus menunggu setahun setelah wisuda, baru dia mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sekolah formal. Memang aku harus bertaruh waktu jika masih kukuh mempertahankan cita-citaku tersebut. Dan sepertinya aku sudah tidak menikmati waktu luangku ini seperti dulu. Pagi hariku terlalu longgar hingga aku bingung karena tidak ada kesibukan sama sekali. Sepertinya kalimat bekerjalah sesuai passion mulai lenyap dari pikiranku. Sepertinya aku tidak bisa sesabar teman-temanku yang menunggu kesempatannya bekerja sesuai passion datang. Sepertinya, realistis akan menang dari idealis. Bekerja nggak sesuai passion lagi? Entahlah. Time will answer. :)

Minggu, 08 Oktober 2017

Debat Kusir

Jalanan ini mulai sepi
Kepalaku masih ramai percakapan
Jarum pendek menunjuk angka dua
Lelah, rebah
Sayang, mata tak mau pejam
Dialog mereka begitu kejam
Ini dini hari yang mencekam
Banyak makhluk aneh berkeliaran
Kepalaku masih ramai
Mereka mulai berdebat
Sial, aku sudah ingin lelap
Mengapa mereka tetap saling memaki?
Di luar rintik mulai berhenti
Di hati rintik mulai terjadi
Menderas, menjadi-jadi
Kepala kembali memaki
"dasar bodoh, makanya lepaskan"
Hati membalas, tak terima
"kamu yang bodoh, dia terlalu berharga untuk dilepas"
Kepala tertawa, "kamu bisa hancur jika terus bertahan begini"
Hati sudah lelah berdebat
Tapi rintiknya yang deras tak terhentikan
Dia penuh, sudah tak mampu menampung
Mulai bocorlah dinding-dindingnya
Dia meronta kesakitan
Kepala tertawa merasa menang
Pembuluh-pembuluhnya penuh
Akhirnya meledak, dummm
Dia hancur, remuk redam
Kepala benar
Kepala tertawa terbahak
Logika selalu menang
Perasaan selalu kalah

Miris

Miris itu saat kamu bisa nasehatin orang lain, kamu bakal sembuh kok. Percayalah, waktu itu menyembuhkan. Dia akan digantikan dengan perempuan lain yang lebih baik. Tapi hatimu sendiri masih belum bebas dari kekangan masa lalu. Miris!

Jumat, 06 Oktober 2017

Dasar Lemah!

"Kamu tidak akan bisa memulai sesuatu yang baru jika masih terikat dengan masa lalu." Aku menasehatinya. Mataku setengah melototinya. Dia hanya diam seperti tak peduli.
Ah, bikin kesal saja. Dia lebih tua dariku, seharusnya lebih dewasa bukan? Berkali-kali kubilang bersetialah pada satu hati. Jika hatimu masih tertinggal di satu perempuan, jangan terburu-buru pindah ke perempuan lain. Hatimu cuma satu, jika sebagian masih di orang lain, kasihan perempuanmu yang tak mendapatkan hatimu secara utuh.
Ah, tapi dia keras kepala. Sama sepertiku. Harusnya dia paham, akupun mengalami hal yang sama. Bedanya aku menunggu sembuh dulu baru memutuskan menemukan yang baru. Jika waktu tak menyembuhkan, percayalah ikhlas adalah satu-satunya jalan keluar. Aku percaya selama aku belum sembuh, selama itu pula aku belum ikhlas melepasnya. Ikhlas juga butuh proses, butuh waktu. Sulit memang jika dari awal kamu terlalu bergantung padanya. Namun, aku yakin nanti sembuh dan menemukan lelaki yang tepat untuk membersamaiku.
Lagi-lagi aku kesal pada lelaki itu. Mengapa dia sangat lemah pada masa lalunya? Mengapa dia terlalu gampang memutuskan untuk berpindah hati? Dasar lemah!
Tanpa sadar aku bercermin. Lalu terkekeh. Mengapa aku mengumpati laki-laki itu? Bukankah kata-kata itu juga pas untukku? "Dasar kau, lemah sama masa lalu!" Aku mengumpat lagi di depan cermin.

Kamis, 05 Oktober 2017

Kamu Terlalu Baik Untukku

Apa salahnya sih kalau memutuskan hubungan dengan alasan "kamu terlalu baik untukku"? Aku rasa ini alasan yang logis kok daripada bilang aku mau fokus ujian dulu.
Ada orang-orang yang dibersamakan tapi perasaannya belum sama. Aku pernah merasakan ini, disayangi dengan sebegitunya tapi aku tak ada perasaan sama sekali. Dia baik. Baik sekali malah. Dia yang selalu berusaha, sementara aku hanya diam menebak perasaanku sendiri. Dia pernah melakukan kesalahan kecil, tapi dia meminta maaf dengan cara yang besar. Aku tak sebaik dia. Aku seorang gadis yang melulu hidup dalam payung masa lalu. Dusta kalau harus mengatakan akupun menyayangimu sementara hati masih tertaut masa lalu.
Memang ada sesuatu yang bergejolak saat kami bergandengan tangan, namun itu hanya sesaat. Aku memastikan perasaanku sendiri bahwa aku tak pernah menyayanginya. Kukatakan padanya dia terlalu baik untukku. Kujelaskan bahwa aku berusaha menyayanginya, tapi perasaan tak dapat dipaksa. Dia paham, namun tak semudah itu menyerah. Meski pada akhirnya, acuhku membuat dia lelah dan memutuskan menyerah.
Syukurlah sekarang dia dibersamakan dengan perempuan yang baik. Aku lega dan tak menyesal sama sekali. Terima kasih pernah mengusahakan yang terbaik untukku. Percayalah, aku sungguh-sungguh ketika mengatakan "kamu terlalu baik untukku."

Selasa, 03 Oktober 2017

Anti Nganu-nganu Club

People nowadays lagi banyak banget yang bikin kaos anti nganu-nganu club. Nganu-nganunya itu maksudnya banyak ya, bisa pacaran-pacaran, korupsi-korupsi, galau-galau, dll. Terserah yang bikinlah pokoknya. Ada juga yang sok-sok'an jadi anti mecin-mecin club. Ini aku banget sih. Jujur aku kalau masak emang nggak pernah pakai mecin. Tapi kalau jajan di luar sama aja aku juga makan mecin kan? Nah sok-sok'an juga kan aku. Bikin cilok nggak pakai mecin, tapi makannya pakai saos sambel kemasan. Sama aja makan mecin kan ya? Jadi, sebenernya susah juga ngejalanin anti nganu-nganu club. Apalagi yang anti balikan-balikan club. Hello, kalau Tuhan maunya kalian barengan lagi sama mantan, kalian bisa apa? Makanya nggak usah sok-sok'an jadi anti nganu-nganu club, daripada dibilang nggak konsisten. Ada suatu hal yang kadang tak bisa kita lawan. Yash, kehendak Tuhan. :"