Jumat, 20 Oktober 2017

Karma Does Exist

Karma.
Percaya nggak?
Aku sih yes. Apapun istilahnya, semua orang pasti tahu apa yang dia tabur itulah yang dia tuai. Tapi beberapa ada yang nggak percaya sih. Terus istilahnya diganti apa yang kamu tabur belum tentu kamu tuai. Masuk akal juga sih kalau dibawa ke zaman sekarang. Tapi konteksnya mungkin lebih ke menyindir para pejabat yang suka ngambil uang rakyat. Hihihi. Yah tapi apalah aku ini yang nggak ngerti masalah politik. Tapi kamu tahu kan kalau aku selalu berusaha ngertiin kamu? Aku juga ngerti gimana cara masakin mamamu masakan yang enak lho. Halaaahhh... 😂
Back to the point: Karma. Aku sih percaya karma itu ada. Mungkin istilahnya aja yang beda-beda. Ketika kamu banyak menolong kamu akan ditolong, ketika kamu banyak memberi kamu akan diberi lebih, ketika kamu banyak mengeluh kamu akan diberi masalah lagi, ketika kamu banyak mendengar kamu akan didengarkan, ketika kamu banyak mengasihi orang kamu akan banyak dikasihi, dan ketika kamu banyak memberi harapan palsu ke orang kamu juga akan dapat balasan diberi harapan palsu. ToT
Nggrantes to? Belakangnya nggak enak ya. Wkwkwk. But, that's a truth. Aku merasa begitu. Entah ada orang yang mengalami hal sepertiku atau tidak?
Sebenarnya agak kesal ketika seorang mas-mas yang pernah sangat dekat denganku bilang, "kamu tuh dek, semua cowok mbok perlakuin sama. Mbok anggep temen semua. Php ah." Sebenarnya aku cuma melongo waktu itu. Terus mikir, ini masnya belum tak tolak aja udah berani ngatain php. Btw, ini masnya baru dekat ya statusnya, bukan pacar, tapi ngomongnya udah bikin aku nggak ingin lebih dekat sama dia. Wkwkwkwk. Lama banget aku kepikiran sama kata-kata masnya itu. Tapi akhirnya aku sampai di simpulan "mungkin masnya benar, selama ini kita sering PHP-in anak orang tanpa kita sadari." Ya kadang kita nggak nyadar apa yang kita lakuin itu termasuk PHP. Misal nih ada yang PDKT terus kita nanggepin chatnya. Udah asyik banget eh tiba-tiba kita mulai berubah. Nggak seaktif dulu lagi membalas chatnya. Kadang juga nggak sengaja PHP karena kita nggak tahu dia ternyata lagi PDKT ke kita. Bisa gini? Bisa. Nggak semua perempuan peka to? Aku termasuk golongan ini. Wkwkwk. Jadi, kadang nggak ngerti kalau PHP karena ya kita nggak ngerasa lagi di PDKTin, apalagi kalau cowoknya nggak to the point.
Sebenarnya yang protes itu cuma satu orang ya. Tapi setelah kupikir ada benarnya, baru ingat yang jadi korban nggak cuma satu orang. Mhehehe. Tapi beneran ya nggak sengaja. Balik ke karma does exist, ternyata hal yang nggak kita sengaja kayak gini pun dapat balasannya. Suatu saat pasti ada yang PHPin balik. Sakit to? Ya emang. Tapi kan mereka yang dulu mbok PHPin juga sakit. Impas to? Dulu pas mereka nyadar kena PHP akhirnya mundur kan? Nah, sekarang belajarlah dari mereka. Mending udah kalau di PHP. Dianya nggak serius ngapain diseriusin kan? Nangis boleh, sedih boleh. Tapi hidupmu masih panjang kan? Ikhlasin, nanti pasti gantinya lebih baik lagi. Anggep dia sebagai pelajaran hidup, salah satunya tentang karma. Jadi, jangan suka PHPin anak orang meski itu cuma faktor ketaksengajaan. Pikirkan akibatnya sebelum berbuat. :)

Selasa, 17 Oktober 2017

Curhat (lagi)

"Bekerjalah sesuai passionmu maka hasil kerjamu pasti memuaskan." Ah, bagus ya nasehatnya, kelihatan memotivasi sekali. Padahal kalau kita bawa ke kehidupan nyata, rasanya sulit menemukan pekerjaan yang sesuai passion kita. Contoh saja zaman sekarang banyak sekali sarjana non ekonomi yang bekerja di bank. Sebenarnya agak aneh juga ketika beberapa waktu yang lalu moncer sindiran Pak Presiden kepada wisudawan salah satu kampus pertanian mengenai mayoritas lulusannya yang tidak bekerja di bidang pertanian, justru malah di perbankan. Menurutku pribadi itu nggak salah sih ketika seseorang bekerja tidak sesuai bidang studinya. Bisa saja bidang studinya nanti dia manfaatkan sebagai hobi saja.
Aku adalah salah satu dari sekian banyak sarjana yang pernah bekerja tidak sesuai bidang studiku. Waktu itu aku baru saja lulus kemudian diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta. Tentu saja aku merasa bangga. Di saat teman-temanku masih pontang-panting nglamar sana-sini sementara aku sudah diterima bekerja, rasa syukurku muncul berkali lipat. Awalnya demikian. Aku merasa sangat bersyukur. Aku merasa beruntung. Namun, seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa tempatku bukan di perusahaan itu. Aku mulai merindukan suasana kelas yang gaduh candaan murid-murid, aku merindukan curhatan khas anak baru gede yang bribikannya selalu lebih dari satu, aku merindukan bicara di depan mereka dan mengawasi mereka dari belakang kelas. Akhirnya kuputuskan keluar dari perusahaan tersebut. Dan sekarang aku mengajar? Belum! Hidup tak membawaku pada jalan semudah itu.
Statusku sekarang jobless alias pengangguran. Tapi tidak sepenuhnya karena aku memiliki samben sebagai tentor les privat. Tapi menurutku itu bukan pekerjaan. Meski begitu, aku senang melakukan samben ini. Sedikit banyak, kerinduanku akan ruang kelas terobati. Selama ini aku bekerja di depan monitor yang hanya bisa berkedip. Dan sekarang yang kuhadapi adalah manusia beranjak remaja yang suka sekali bercerita tentang cemewewnya di sekolah. Lucu mereka ini hahaha.
Aku ini idealis sekali. Aku masih bersikukuh pada keinginanku untuk mengajar di kelas formal. Jadi aku hanya memasukkan lamaran ke sekolah-sekolah, menunggu panggilan, dan ternyata sampai sekarang belum ada panggilan. Hari ini tepat 3 bulan aku resign dari perusahaan itu. Keidealisanku mulai sedikit terkikis, pikiranku mulai realistis. Satu yang baru aku percayai "mencari pekerjaan sesuai passion itu susah". Banyak yang harus dipertaruhkan, semisal waktu. Temanku harus menunggu setahun setelah wisuda, baru dia mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sekolah formal. Memang aku harus bertaruh waktu jika masih kukuh mempertahankan cita-citaku tersebut. Dan sepertinya aku sudah tidak menikmati waktu luangku ini seperti dulu. Pagi hariku terlalu longgar hingga aku bingung karena tidak ada kesibukan sama sekali. Sepertinya kalimat bekerjalah sesuai passion mulai lenyap dari pikiranku. Sepertinya aku tidak bisa sesabar teman-temanku yang menunggu kesempatannya bekerja sesuai passion datang. Sepertinya, realistis akan menang dari idealis. Bekerja nggak sesuai passion lagi? Entahlah. Time will answer. :)

Minggu, 08 Oktober 2017

Debat Kusir

Jalanan ini mulai sepi
Kepalaku masih ramai percakapan
Jarum pendek menunjuk angka dua
Lelah, rebah
Sayang, mata tak mau pejam
Dialog mereka begitu kejam
Ini dini hari yang mencekam
Banyak makhluk aneh berkeliaran
Kepalaku masih ramai
Mereka mulai berdebat
Sial, aku sudah ingin lelap
Mengapa mereka tetap saling memaki?
Di luar rintik mulai berhenti
Di hati rintik mulai terjadi
Menderas, menjadi-jadi
Kepala kembali memaki
"dasar bodoh, makanya lepaskan"
Hati membalas, tak terima
"kamu yang bodoh, dia terlalu berharga untuk dilepas"
Kepala tertawa, "kamu bisa hancur jika terus bertahan begini"
Hati sudah lelah berdebat
Tapi rintiknya yang deras tak terhentikan
Dia penuh, sudah tak mampu menampung
Mulai bocorlah dinding-dindingnya
Dia meronta kesakitan
Kepala tertawa merasa menang
Pembuluh-pembuluhnya penuh
Akhirnya meledak, dummm
Dia hancur, remuk redam
Kepala benar
Kepala tertawa terbahak
Logika selalu menang
Perasaan selalu kalah

Miris

Miris itu saat kamu bisa nasehatin orang lain, kamu bakal sembuh kok. Percayalah, waktu itu menyembuhkan. Dia akan digantikan dengan perempuan lain yang lebih baik. Tapi hatimu sendiri masih belum bebas dari kekangan masa lalu. Miris!

Jumat, 06 Oktober 2017

Dasar Lemah!

"Kamu tidak akan bisa memulai sesuatu yang baru jika masih terikat dengan masa lalu." Aku menasehatinya. Mataku setengah melototinya. Dia hanya diam seperti tak peduli.
Ah, bikin kesal saja. Dia lebih tua dariku, seharusnya lebih dewasa bukan? Berkali-kali kubilang bersetialah pada satu hati. Jika hatimu masih tertinggal di satu perempuan, jangan terburu-buru pindah ke perempuan lain. Hatimu cuma satu, jika sebagian masih di orang lain, kasihan perempuanmu yang tak mendapatkan hatimu secara utuh.
Ah, tapi dia keras kepala. Sama sepertiku. Harusnya dia paham, akupun mengalami hal yang sama. Bedanya aku menunggu sembuh dulu baru memutuskan menemukan yang baru. Jika waktu tak menyembuhkan, percayalah ikhlas adalah satu-satunya jalan keluar. Aku percaya selama aku belum sembuh, selama itu pula aku belum ikhlas melepasnya. Ikhlas juga butuh proses, butuh waktu. Sulit memang jika dari awal kamu terlalu bergantung padanya. Namun, aku yakin nanti sembuh dan menemukan lelaki yang tepat untuk membersamaiku.
Lagi-lagi aku kesal pada lelaki itu. Mengapa dia sangat lemah pada masa lalunya? Mengapa dia terlalu gampang memutuskan untuk berpindah hati? Dasar lemah!
Tanpa sadar aku bercermin. Lalu terkekeh. Mengapa aku mengumpati laki-laki itu? Bukankah kata-kata itu juga pas untukku? "Dasar kau, lemah sama masa lalu!" Aku mengumpat lagi di depan cermin.

Kamis, 05 Oktober 2017

Kamu Terlalu Baik Untukku

Apa salahnya sih kalau memutuskan hubungan dengan alasan "kamu terlalu baik untukku"? Aku rasa ini alasan yang logis kok daripada bilang aku mau fokus ujian dulu.
Ada orang-orang yang dibersamakan tapi perasaannya belum sama. Aku pernah merasakan ini, disayangi dengan sebegitunya tapi aku tak ada perasaan sama sekali. Dia baik. Baik sekali malah. Dia yang selalu berusaha, sementara aku hanya diam menebak perasaanku sendiri. Dia pernah melakukan kesalahan kecil, tapi dia meminta maaf dengan cara yang besar. Aku tak sebaik dia. Aku seorang gadis yang melulu hidup dalam payung masa lalu. Dusta kalau harus mengatakan akupun menyayangimu sementara hati masih tertaut masa lalu.
Memang ada sesuatu yang bergejolak saat kami bergandengan tangan, namun itu hanya sesaat. Aku memastikan perasaanku sendiri bahwa aku tak pernah menyayanginya. Kukatakan padanya dia terlalu baik untukku. Kujelaskan bahwa aku berusaha menyayanginya, tapi perasaan tak dapat dipaksa. Dia paham, namun tak semudah itu menyerah. Meski pada akhirnya, acuhku membuat dia lelah dan memutuskan menyerah.
Syukurlah sekarang dia dibersamakan dengan perempuan yang baik. Aku lega dan tak menyesal sama sekali. Terima kasih pernah mengusahakan yang terbaik untukku. Percayalah, aku sungguh-sungguh ketika mengatakan "kamu terlalu baik untukku."

Selasa, 03 Oktober 2017

Anti Nganu-nganu Club

People nowadays lagi banyak banget yang bikin kaos anti nganu-nganu club. Nganu-nganunya itu maksudnya banyak ya, bisa pacaran-pacaran, korupsi-korupsi, galau-galau, dll. Terserah yang bikinlah pokoknya. Ada juga yang sok-sok'an jadi anti mecin-mecin club. Ini aku banget sih. Jujur aku kalau masak emang nggak pernah pakai mecin. Tapi kalau jajan di luar sama aja aku juga makan mecin kan? Nah sok-sok'an juga kan aku. Bikin cilok nggak pakai mecin, tapi makannya pakai saos sambel kemasan. Sama aja makan mecin kan ya? Jadi, sebenernya susah juga ngejalanin anti nganu-nganu club. Apalagi yang anti balikan-balikan club. Hello, kalau Tuhan maunya kalian barengan lagi sama mantan, kalian bisa apa? Makanya nggak usah sok-sok'an jadi anti nganu-nganu club, daripada dibilang nggak konsisten. Ada suatu hal yang kadang tak bisa kita lawan. Yash, kehendak Tuhan. :"

Jumat, 29 September 2017

Jika... Maka...

Jika tinggal membuatmu sesak
maka pergi adalah pilihan terbaik

Sengaja

Menenggelamkan diri di air
Aku bisa setenang
Saat aku ada dipelukmu

Kolam

Kepalaku adalah kolam
dan kau satu-satunya perenang
yang bertahan

Spontanitas

Menyayangimu adalah spontanitas
Tiba-tiba saja
Tak ku rencanakan

Tak Tertebak

Kau seperti hujan
yang tiba-tiba datang
tiba-tiba henti
tiba-tiba deras
tiba-tiba rintik
Tak tertebak, cepat berubah
Sedang rinduku adalah badai
yang tak kan mereda

Selasa, 26 September 2017

Ikhlas

Kamu yang belum pernah ngrasain
Dipatah hatikan oleh bocah
Nggak usah sok-sokan ngomongin
Ikhlasin ajalah
.
.
Ikhlas itu susah! 

Senin, 25 September 2017

Minggu, 24 September 2017

Berkali Lagi

Aku jatuh sekali lagi
Pada matamu yang bulat seperti bumi
Oleh karena itu,
Sejauh apapun pengembaraanku
Aku akan tetap kembali
Menemukanmu
Dan jatuh cinta berkali lagi

Rabu, 20 September 2017

Wagu

"Mbak, kapan jalanmu benar?"
"Maksude piye?"
"Mbok kalau jalan kayak perempuan. Rapet kakinya. Masak kayak preman gitu."
"Hehehe...Udah kebiasaan gini."

Yaaash, cara jalanku dikomentari. Jadi kepikiran aja. Mengapa tidak dari dulu kuperbaiki cara jalanku. Padahal sekarang sudah menjadi kebiasaan.
Belakangan aku jadi berpikir. Kalau begini terus, nanti pas nikah gimana. Mosyok wagu banget jalannya mbadongi. Iyaaa, yang paling kutakuti dari cara jalanku yang aneh adalah pas nikah nanti. Mau di pemberkatan atau di resepsi, manten pasti jalan melewati para tamu undangan. Nggak bisa bayangin kalau nanti dikomentari ibu-ibu tetangga "Ishhh, mantene wedok mlakune koyo lanang." Aaaaa, nggak mau begitu. Mau nggak mau harus mengubah kebiasaan cara jalan. Mau nggak mau harus kayak cewek pada umumnya. Mau nggak mau harus belajar dari adek sepupu yang cewek banget. Mau nggak mau harus belajar pakai heels. Mau nggak mau harus mikirin nikahnya sama siapa. Lha wong calon belum ada kok udah mikir sampai mantenan. :"

Asumsi

Aku merasa geli ketika temanku mengomentari "percuma kamu berenang, tinggimu udah mentok segitu." Hei boi, aku juga sadar diri kok. Bahkan tidak ada pikiran sama sekali mau meninggikan badan dengan berenang. Aku hanya suka nyemplung di air. Itu saja. Aku tidak pandai berenang, boi. Tapi ketika di dalam air, kepalaku menjadi adem. Semua beban dan prasangka rasanya ikut larut dalam air. Ringan sekali. Aku juga tidak tahu apakah berenang melepas endorphin, yang pasti aku bahagia saat berenang. Aku tenang saat membenamkan kepalaku dalam air. Aku suka mendengarkan suara kecipak air.
Jadi jangan berasumsi aneh-aneh. Aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Aku bukannya tak suka kamu bilang seperti itu. Tapi, tanpa kamu katakan pun aku sadar diri kok.

Sabtu, 16 September 2017

Sebagai Kawan

Tak perlu tak enak hati. Jika tanpa sengaja kita bertemu, sapalah aku sebagai kawan. Jangan pura-pura tak kenal. Usah lawan takdir bahwa kita pernah saling sayang.
Tak perlu tak enak hati. Jika kau sudah menemukan penggantiku, usah sungkan memamerkannya. Itu hak kalian. Aku tak akan ikut campur.
Tak perlu tak enak hati. Jika kita bertemu dengan pasangan kita masing-masing, usah ragu bercerita bahwa kita adalah sepasang mantan. Aku siap berkenalan dengan gadismu. Aku tak akan menjelekkanmu di hadapannya.
Tak perlu tak enak hati. Jika kau butuh telinga, aku siap mendengarmu. Jika kau butuh masukan, aku siap menasehatimu. Namun, jangan sekali-kali kau minta aku kembali. Dengan susah payah aku belajar berdiri, kemudian datang seseorang yang mengajari berjalan, lalu berlari. Sudah sejauh ini aku melangkah, jangan kejar lagi.
Tak perlu tak enak hati. Jika butuh bantuan, aku siap membantu setulus hati. Namun jangan minta lagi hatiku. Dia yang mematahkan tak bisa sekaligus menjadi yang menyembuhkan. Dan aku sudah bersama penyembuhku sekarang.
Bersamamu dulu, aku bahagia. Namun sekarang, aku lebih bahagia bersamanya. Yang dulu biarlah lalu. Mari kita hidup dalam bahagia kita masing-masing. Tidak bersama lagi bukan berarti tidak berteman. Anggaplah aku sebagai kawan.

Rabu, 13 September 2017

Pro Kontra

Bumi itu bulat
Sejauh apapun kamu pergi
Kamu akan kembali ke titik awalmu, aku

Benarkah? 

Ternyata tidak
Mungkin, kamu percaya bumi ini datar
Kamu tak kembali
Entah karena bumi benar datar
Atau karena kamu tak mau kembali

Kamis, 07 September 2017

Doa

Tuhan...
Jika kami tak boleh bersatu
Biarkan kami saling menjaga
Sampai salah satu dari kami
Dibersamakan dengan dia yang Kau anggap layak

Sabtu, 02 September 2017

Sial

Kamu malu-malu
Mendatangiku yang tengah sayu
Di beranda kamu mengaku
"Pandangku berpaling tapi hatiku menetap.
Kisahku sudah baru tapi pikiranku masih tentangmu."
Aku terpaku, bibirku kelu
Dalam hati, aku menertawaimu
Aku menang, kamu mengaku rindu
Mampus kau, mampus kau
Kau meminta kembali hatiku
Bah, kau pikir aku mau
Rasakan kau, rasakan kau
Tanggung sendiri rindumu!

Ah, sial
Aku hanya mengkhayal

Sabtu, 26 Agustus 2017

Sombong

Aku kopi, kamu krimer
Aku hitam, kamu putih
Tanpamu, aku tetap pahit yang dicandui banyak orang
Tanpaku, kamu bukan apa-apa

Jumat, 25 Agustus 2017

Adakah yang lebih romantis dari sepasang kekasih yang saling mendengkur di atas ranjang yang sama? Yang pejam hanya mata, jiwa mereka berkelana, menyusur mimpi yang saling hubung.
Berhenti mendoakan keselamatanmu adalah tanda sejauh-jauhnya aku pergi.
Jika Tuhan saja kamu duakan, bagaimana aku bisa yakin kalau aku satu-satunya di hatimu?
Rasa tak pernah hilang. 
Ia hanya pindah pada lain orang. 
Aku tidak tuli makanya masih bisa peduli. 
Kadang, luka tak harus jadi lupa

Selasa, 18 Juli 2017

Sugeng Tindak

Bapak,
Satu jam lalu kita saling melagu
Bahagia sekali bukan
Bapak tertawa kami pun tertawa
Bapak,
Tiga jam kemudian kita kembali melagu
Lagu-lagu yang menenangkan Bapak
Namun tak ada tawa, Pak
Para perempuan sibuk meronce kembang
Diiringi isak tangis, Pak
Para lelaki sibuk menyiapkan peti
Diiringi kedukaan, Pak
Bapak,
Berpulang dengan sukacita
Berpulang dalam tembang
Kami mengantarmu diiringi lagu
Meski sendu dan pilu tak tersembunyikan
Bapak,
Selamat tidur
Selamat berbahagia
Sugeng tindak, Pak

Skh, 17-7-17

Buat Bapak yang kuanggap sebagai Bapakku sendiri, Bapak yang menjadi sahabat Bapak kandungku.

Minggu, 04 Juni 2017

Latah

Kamu baik kepadaku, aku baik kepadamu
Kamu menyayangiku, aku menyayangimu
Kamu menyukai anak-anak, aku menyukai anak-anak
Kamu mulai peduli sekitar, aku juga mulai peduli sekitar
Kamu banyak membantu orang, aku juga berusaha banyak menolong
Kamu adalah latah favoritku
Apapun lakumu aku berusaha imbangi
Tapi yang terakhir ini aku tak mampu ikuti
Kamu memilih pergi, aku tak mampu pergi

Jumat, 02 Juni 2017

Imaji

Tak bosankah kamu menemuiku tiap malam dalam mimpi?
Tak inginkah kamu menciptakan pertemuan nyata?
Aku ingin!

Dusta

Aku suka matematika
Tidak dengan kerumitannya
Sama halnya dengan kamu menyukaiku
Tidak dengan kekuranganku
Dusta belaka!

Layang

Angin mengacak rambut
Kaki mencoba bertumpu sekuat mungkin
Tangan menggenggam erat jendela
Semakin tinggi rumah
Semakin kencang topan
Semakin luas dunia yang terlihat
Layangkan pandang ke tenggara
Biru lautan bercampur coklat pasir
Padanya ingin kutenggelamkan rindu
Selamanya...

Mercusuar Pantai Pandansari, 1 Juni 2017

Minggu, 28 Mei 2017

Gertak Masa Muda

Marahku sudah sampai di ubun-ubun
Darahku didih, merah menyala
Kugertakkan gigi, kukepal kedua tangan
Mataku liar, wajahku, entah bagaimana rupanya
Hatiku sedang kacau-kacaunya
Dipaksa melakukan sesuatu yang tak kusuka
Dipaksa turut serta dalam monopoli egoisme
Dipaksa melawan nuraniku sendiri
Aku,
Meski diam, meski tak menyuara
Aku adalah pemberontak
Yang tak bergerak
Geram kutahan-tahan
Amarah kusalurkan ke kepalan tangan
Kesal kuredam dengan gertak gigi
Aku marah
Marah sekali
Ingin berhenti
Pamit dan sudahi
Pergi
Jauh
Mengembara
Bebas
Hilang dalam kehormatan
Inginku sederhana
Keluar dan berguna bagi sesama

Selasa, 23 Mei 2017

Moodswing

Lima detik lalu
Tawaku pecah melihat kelakar di TV
Mendadak murung ketika iklan
Mendadak ingin marah pada siapapun
Mendadak kesal pada apapun yang pernah kulakukan
Mendadak menyesal atas apapun yang pernah kuucap
Mendadak ingat kamu
Mendadak ingin bertemu
Mendadak ingin menyapamu seperti dulu
Mendadak emosiku meledak-ledak
Apapun di sekitarku jadi sasaran
Mendadak Ibu bingung pada tingkahku
Seperti orang gila
Seperti bukan anaknya
Seperti gadis yang kesurupan
Lalu aku sadar
Rindu yang dibendung membuat hidup tak tenang
Itu ekspresi luapan rindu yang bisa kuperlihatkan
Aku yang tak bisa menyampaikan dengan baik
Kamu yang sudah tak lagi peka terhadap rasa
Seringkali seperti ini
Sekarang lebih sering lagi
Jika suaraku tak lagi kau dengarkan
Mohon bacalah setiap rindu yang kupuisikan
Aku takut gila karenamu
Aku takut mati perlahan menanggung rindu sendirian

Senin, 01 Mei 2017

Untitled

Yang berada tepat di hadapanmu
Yang tengah kau pandangi birunya
Yang kau dengar-dengarkan riuhnya
Itu gemuruh ombak, sayang
Yang sedang duduk disampingmu
Yang menyeruput kopi sambil mencuri pandang
Yang berusaha tenang menenangkan bunyi tak keruan
Itu gemuruh jantungku, sayang
Karena duduk disampingmu
Aku merasa nyaman sekaligus deg-degan

Gunung Kidul, 30 April 2017

Senin, 24 April 2017

Instagram Story

Instagram story. Yeppp, fitur terbaru dari instagram yang cocok banget buat aku. Aku nggak terlalu suka mengumbar swafoto, tapi aku suka memamerkan foto benda-benda di sekitarku. Daripada spam foto di timeline aku lebih suka spam di instagram story meskipun batas kadaluwarsanya hanya 24 jam.
Dari instagram story aku juga bisa lihat siapa saja orang yang lihat storyku. Dari instagram story aku juga bisa lihat kegiatannya tanpa aku harus bertanya dia lagi dimana. Kebanyakan orang suka sesumbar di instagram story sekarang, path mulai ditinggalkan.
Dari instagram story aku juga jadi tahu kalau dia sudah menemukan sosok penggantiku. Ah kukira bukan pengganti, mantan kan tak pernah tergantikan? Selalu punya ruang sendiri di hati. Yang baru datang hanyalah pengisi ruang kosong lain di dalam hati dia. Tapi dia punya kuasa atas tombol on off ruangan itu. Dan posisiku sekarang, aku sedang dimatikan. Aku yakin.
Dari instagram storyku, dia tentu tahu beberapa hari yang lalu aku pergi bersama lelaki lain. Entah bagaimana reaksinya, jujur aku ingin tahu. Tapi aku sudah telanjur menyerah karena chat kami sudah berakhir dan aku lah yang terakhir membalas. Murahan bukan kalau aku harus menanyakan hal seperti itu?
Dari instagram story aku juga banyak melihat kegiatannya akhir-akhir ini. Sibuk sekali dia, tapi memang kegiatannya terlihat tidak membosankan. Aku tak perlu khawatir dia akan kesepian. Tapi apakah dia tidak tahu kalau aku sekarang kesepian? Apa dia tidak pernah mengkhawatirkanku?
Dari instagram story dia jadi tahu bahwa aku suka membaca buku. Dan entah kebetulan atau tidak buku yang kami baca adalah buku yang sama. Aku tidak mau menyimpulkan bahwa ini adalah pertanda Tuhan. Dulu memang demikian, tapi sekarang aku sudah tak mau berharap lagi. Dulu, setiap kejadian sama yang kami alami selalu kuanggap pertanda Tuhan bahwa kami memang harusnya bersama. Tapi aku salah, itu hanya pemaksaan pikiran saja agar hatiku merasa senang. Imajinasiku sendiri, padahal dia belum tentu berpikir begitu.
Dari instagram story aku tahu bahwa rindunya bukan lagi aku. Ucapan selamat tidurnya bukan lagi untukku. Aku tahu ada sosok baru yang dia dambakan. Aku harap perempuan itu baik. Aku harap perempuan itu bukan pematah perasaan. Aku harap perempuan itu mampu menyayanginya lebih dari aku. Aku harap dia bahagia meski tidak denganku. Aku harap aku mampu bahagia meski tidak dengannya. :)

Jumat, 21 April 2017

Restu

Maaf, restuku hanya turun
Jika gadismu bisa kau tuntun
Tak selamanya berbeda itu baik
Dalam hal ini, sama adalah mutlak
Sebelum menuju altar suci
Pikirkan dulu baik buruknya
Samakan prinsip
Samakan komitmen
Samakan tujuan
Restuku turun jika kalian sudah sama

Kamis, 20 April 2017

Pergi

Terima kasih sudah mengabaikan
Terima kasih sudah tak membalas
Terima kasih sudah menyediakan jeda
Aku jadi punya waktu berpikir
Aku jadi bisa merenung
Aku kemudian menyadari satu hal
Bahwasanya kamu sedang mencoba merelakanku
Bahwasanya kamu sudah tak ingin kita terlalu dekat
Bahwasanya rasa sayangmu sudah memudar
Meski aku memberimu utuh, kamu cuma membalasnya separuh
Sebenarnya tak apa, karena sayang itu perihal ikhlas
Tapi kali ini terlihat jelas
Kamu ingin aku pergi
Kamu ingin aku mengejar bahagiaku
Maski berkali-kali kukatakan bahagiaku bersama kamu
Namun kamu tetap teguh mengatakan bahwa kamu bukan yang terbaik
Kamu yakin bahwa kamu bukan jodohku
Padahal aku lebih yakin lagi bahwa kamu adalah jodohku
Tuhan selalu memberi pertanda lewat hal-hal kecil yang sama
Yang hanya dialami oleh kita berdua
Namun kali ini aku tak bisa menolak maumu
Aku harus menghilang dari hidupmu
Aku sadar untuk mendapatkan separuh hatimu saja sudah sangat mustahil bagiku
Terima kasih sudah mengusirku dengan halus
Aku pergi dulu mengejar bahagia
Kali ini kupastikan benar-benar pergi

Selasa, 18 April 2017

Untitled

Sekarang yang kuperhatikan benar-benar bukan lagi kamu, melainkan alasanku bertahan. Aku merenung bermalam-malam. Aku hanya bingung pada perasaanku sendiri. Mengapa aku bersikeras mematrimu dalam hati dan ingatanku? Mengapa aku ingin sekali kita kembali seperti dulu? Mengapa aku sangat menyesal tidak memperlakukanmu dengan benar kala itu? Mengapa aku ingin memperbaiki salahku dulu? Padahal aku rasa kamu tidak menginginkannya.  Aku rasa kamu menginginkan  perempuan baru yang jauh lebih baaik dari aku. Aku rasa kamu sudah tak ada lagi rasa terhadapku. Tapi mengapa isi kepalaku tetap kamu? Mengapa aku tetap teguh pada perasaan yang tak  pernah dibalas? Mengapa aku masih berharap mendapat hatimu disaat perhatianmu saja sudah teralih ke perempuan lain? Ini ambisi atau cinta? Ini penasaran atau benar perasaan? Ini takut kehilangan atau takut tidak menemukan yang lain lagi? Entahlah, aku belum bisa memastikan jawaban yang paling.

Minggu, 16 April 2017

Balas Pesan

"Kamu semangat, ya
Seberat apapun bebanmu, selelah apapun tubuhmu, sepusing apapun kepalamu
Ingatlah, kamu punya aku yang bisa kau sandari, kau bagi bebanmu, dan kau mintai bantuan
Dari aku yang menyayangimu sepenuh hati"

Lima menit kemudian kuhapus semua kalimat di atas
Aku sadar aku tak pernah jadi apa-apa di matamu
"minta tolong sama yang lain ya, aku sibuk."
Lalu ku klik tombol send

Jumat, 14 April 2017

Ingin

Dibelakangmu
Aku mendorongmu maju
Mendukung penuh setiap peluhmu
Memijat setiap lelah di punggungmu
Menjadi papan untukmu bersandar
Namun,
Aku lebih ingin menjadi di sampingmu
Menggandeng tanganmu saat takutmu datang
Memegang erat lenganmu saat tubuhmu rapuh
Menyediakan bahuku saat kepalamu butuh
Aku ingin mengiring bukan hanya mendorong
Aku ingin kau sanding bukan hanya kau punggungi
Aku ingin kau seriusi bukan hanya kau perdayai

Senin, 10 April 2017

Jalan(g)

Di jalan ada apa?
Ada asap kendaraan yang menyumbat lubang hidung
Ada deru kendaraan yang memekakkan telinga
Mobil, truk, bus, angkot, sepeda motor
Mana sepeda?
Tak ada, mungkin sebentar punah terganti mesin
Di jalan ada apa?
Ada rumah di tepian jalan
Ada warung—warung tenda penuh jajanan
Ada sungai—sungai yang diapungi sampah
Mana pohon?
Ada, tapi tak banyak lagi
Tak lagi  rindang
Di jalan ada apa?
Ada jalan beraspal yang tak lagi halus
Banyak lubang lelenya
Hati—hati hari hujan
Bisa terjebak kau dibuatnya
Di jalan ada apa?
Ada sapi yang naik truk
Enam ekor dengan muka pasrah
Entah pasrah entah bodoh
Lucu tapi sangat mudah menyerah
Di jalan ada apa?
Ada kerusuhan di dalam angkot
Seorang perawan ditawan perompak
Sadis, mencekam
Di jalan ada kriminalitas
Di jalan ada kejahatan
Di jalan ada kekejaman
Itu jalan atau jalang?

Selasa, 04 April 2017

Pulang

Jika pulangmu bukan aku
Kembalilah saja ke bapak ibukmu
Aku yakin akulah rumahmu
Jika kau tetap ingin pergi
Kusemogakan kau tersesat

Kamis, 30 Maret 2017

Ibuk

Kepada Ibukku yang sungguh kusayangi namun jarang kupulangi rengkuhnya.
.
.
Ibuk, kalau boleh jujur aku sangat menyayangimu, Buk. Aku ingin membalas semua kebaikanmu dengan semua harta yang kumiliki. Namun aku sadar, itu saja tak akan cukup untuk menebus semua hutangku. Baju, susu, makanan, sekolah, fasilitas, perhiasan, bahkan nyawa, semua kau pertaruhkan demi anak-anakmu.
Ibuk, maafkan aku yang belum bisa menjadi anak yang membanggakan. Maafkan aku yang belum bisa mencapai cita-cita. Maafkan aku yang setiap hari masih saja mengeluh. Maafkan aku yang setiap hari harus merepotkanmu. Bahkan mencari celanaku sendiri saja aku harus minta bantuanmu. Semoga Ibuk tetap senang aku repoti. Aku ingin selalu bergantung padamu, Buk. Bukannya manja, aku hanya ingin selalu dekat denganmu, Buk.
Ibuk, maaf kalau selama ini aku sering membangkang. Sebagaimana anak muda masa kini, aku senang mempelajari hal-hal baru , Buk. Aku pun senang bergaul dengan orang di luaran sana. Maaf kalau waktuku denganmu berkurang. Maaf kalau aku terlalu sering terlambat pulang dan membuatmu khawatir.
Ibuk, maaf kalau selama ini aku sering mengeluh ketika Ibuk meminta tolong. Maaf kalau aku sering tidak peka ketika Ibuk sakit. Maaf kalau aku sering membuat Ibuk menangis.
Yang aku heran, Buk. Berkali-kali aku membuat hatimu hancur, namun doamu untukku tak pernah putus. Saat aku sakit, Ibuk selalu yang paling pertama tahu dan mengambil tindakan, saat aku kesal Ibuk selalu menjadi telinga pertama yang mendengar keluhku, saat aku patah semangat Ibuk selalu mengirimiku kata-kata bijak via whatsapp, saat aku sendiri Ibuk selalu bersedia menemaniku meski sesungguhnya tubuhnya sangat lelah, saat aku harus membayar SPP dan Bapak sedang tak ada uang Ibuk berani menggadaikan cincin kawinnya agar aku bisa ikut ujian, Ibuk rela sepanjang siang bekerja di sawah demi aku punya sepeda motor untuk ke sekolah, Ibuk tak lelah memasang payet sepanjang malam demi aku bisa makan mie ayam di akhir pekan, Ibuk selalu mencucikan bajuku karena tahu anaknya kelelahan bekerja siang malam, Ibuk selalu menyediakan sarapan terbaik untuk anaknya. 
Buk, aku tak akan lupa malam itu. Ketika tubuhku mengigil terserang demam, Ibuk membacakan kitab Mazmur. Doa waktu sakit. Ibuk mendoakan kesembuhanku. Waktu itu aku belum paham kasih ibu, Buk. Kupikir memang begitulah tugas seorang ibu. Beranjak dewasa aku semakin tahu betapa besar rasa sayangmu padaku, Buk. Tak mungkin kau bacakan Mazmur jika bukan karena kau menyayangi anakmu yang terserang demam itu. Sebaliknya Buk, ketika Ibuk sakit aku seringkali sibuk dengan duniaku sendiri, tidak begitu peduli. Aku malu, Buk, dengan kelakuanku sendiri. Maafkan aku yang tak tahu balas budi.
Buk, aku belum sukses. Namun aku bersyukur punya Ibuk yang sangat sukses menyekolahkan anak-anaknya. Ibuk adalah Ibuk terhebat. Ibuk adalah sesungguh-sungguhnya pahlawan tanpa tanda jasa. Ibuk adalah malaikat tanpa sayapku. Ibuk adalah apa yang harus kubahagiakan saat ini. Ibuk adalah rumah bagi semua isi hatiku. Ibuk adalah pelukan paling nyaman bagi setiap anak-anaknya. Dan Ibuk adalah alasan mataku berkaca-kaca malam ini. Terima kasih, Buk untuk semua pengorbananmu. Maafku sungguh-sungguh kepadamu, terima kasihku tulus untukmu. :)

untitled

Malam adalah tabah paling nyata
Pada pagi dia setia menunggu
Tak ada keluh, tak ada ragu
Hening, gelap, namun penuh harap
Ketika pagi datang, malam pun lenyap
Keduanya saling rindu
Namun tak menuntut temu
Pada keduanya tak ada ego yang menonjol
Keduanya sadar pada posisinya masing-masing
Saling bergatian menjaga bumi tetap utuh
Saling bertukar agar manusia hidup nyaman
Karena bagi malam rindu tak harus ketemu
Karena bagi malam rindu tak harus tahu
Karena bagi malam rindu tak harus dibalas
Rindu adalah perihal ikhlas
Karena bagi pagi rindu tak terlalu penting
Karena bagi pagi keseimbangan semesta lebih genting
Karena bagi pagi bahagia manusia adalah yang paling
Rindu adalah perihal melepas ego

Jumat, 03 Maret 2017

Kamis, 02 Maret 2017

Hai, apa kabar?

Ragamu tak pernah nyata muncul di hadapanku, namun senyumanmu tak pernah kurang memenuhi setiap sosial mediaku. Rindu yang menggebu terus menerus menggugat untuk membuat temu denganmu. Mana bisa bertemu? Menyapa saja tak ada nyali. Enyahlah rindu! Kamu bukan lagi kamuku yang bisa seenaknya aku kangeni. Kita sudah putus! 
Niatku sudah bulat, mengendapkanmu dalam palung terdasar ingatanku. Biar saja akhirnya membusuk, biar saja memori itu diurai bakteri yang menamakan dirinya kesibukan, biar sajalah ingatan itu memfosil. Sungguh, aku sudah berkomitmen untuk tak lagi memedulikan apapun tentangmu. Aku sengaja menenggelamkan diriku dalam kesibukan siang malam. Ini namanya rencana pengalihan. Pusat semestaku adalah kamu, dulunya. Sekarang sengaja kumanipulasi sehingga kamu bukan lagi fokusku. Kamu bahkan sudah kuanggap tiada, sudah kutendang masuk ke  lubang hitam. Entah sekarang kamu ada di dimensi lain atau kamu sudah benar-benar lenyap. Ya intinya begitu, kamu sudah tereliminasi  dari peran utama rencana masa depanku. 
Aku baik-baik saja tanpa stalking sosial mediamu. Aku baik-baik saja tanpa tahu apa kesibukanmu kini. Aku masih tetap hidup meski kamu sudah tak lagi mengingatkanku makan! Namun, semua pengalihan yang kubuat, semua tembok raksasa yang kubangun susah payah, semua barrier alias tameng pertahananku runtuh begitu saja. Semuanya menjadi sia-sia. Sebuah serangan dadakan terdeteksi pada sebuah radar yang sengaja kupasang untuk berjaga. Ya, kamu menyerangku, dengan senjata sederhana, bukan bom molotov apalagi bom nuklir.  Senjatamu hanya sebuah pesan yang kau kirim di kala senja penuh genangan rintik hujan. Sebuah pesan bertuliskan "hai, apa kabar?" jelas tertera di layar ponselku dan aku yakin 99% pengirimnya adalah kamu(kecuali kalau kamu punya admin pribadi). Hahaha apa ini? Cuma senjata murahan. Cuma modal kuota dan sinyal bagus. Kau pikir aku luluh dengan senjata murahan seperti itu? Kau pikir pertahananku lemah? Kau pikir aku akan menyerah? Hahaha, sayangnya kamu benar. Aku memang lemah, pertahananku buruk, aku akui aku kalah. Aku menyerah. Aku tidak akan tahan untuk tidak membalas pesanmu. Salahku juga tidak menghapus semua kontakmu dulu. Pun kuhapus, aku masih hafal nomor ponselmu, pin BBMmu, nomor rumahmu, tanggal lahirmu, tanggal kita saling jatuh cinta, tanggal kita pergi berdua. Arghhhh, membusuk apanya? Nyatanya ingatan tentangmu tak pernah benar-benar mengendap, ada saatnya dia muncul kembali ke permukaan dan menghancurkan barrier pertahananku. Sebuah "hai, apa kabar?" darimu adalah senjata paling mematikan untukku. Kamu benar-benar penembak jitu, seranganmu tepat menembus ulu hatiku. Kalau sudah begini aku akan menyerah pada diriku sendiri. Kusegerakan membalas pesanmu, kita kembali dekat, kita saling berjanji memperbaiki diri, aku kembali menyerahkan hatiku padamu. Lalu pada suatu titik dimana aku meyakinimu dan mengembalikan peranmu sebagai pemeran utama rencana masa depanku,  kamu justru meragu lagi dan lagi. Lalu kamu perlahan hilang. Kamu akan bilang begini sebagai pesan terakhir yang tak pernah berakhir "Kamu sempurna, aku sederhana. Aku banyak dosa, kamu terlalu baik untukku." Aku meyakini sesuatu yang sudah tak punya keyakinan bahkan pada dirinya sendiri.  Kamu menambah dosamu dengan menyakitiku dan aku menambah kebaikanku dengan terus-terusan percaya pada janjimu. Ah bukan, lebih tepatnya kebodohan. Aku bodoh karena terus mengulang melakonkan skenario yang sama dengan aktor yang sama. Aku bodoh karenamu. Iya kamu, manusia tak berhati. 

Rabu, 01 Maret 2017

Maumu

Maumu apa? 
Aku putar balik atau lurus saja? 
Cepat putuskan! 
Sebelum aku telanjur jauh...

Jumat, 24 Februari 2017

Taut

Dosaku besar, mungkin
Lalu aku dikurung disini
Terjerat karat dan gelap
Ingin lepas
Ingin bebas
Ingin pulang
Tapi aku terlanjur tertaut
Kelilingku pintu-pintu besi
Tikus-tikus berebut isi pikiranku
Kecoa-kecoa menggelayuti kakiku
Aku penuh peluh
Lemas
Ingin sudahi
Tapi aku terlanjur tertaut
Siapapun
Tolong aku
Aku rindu melihat dunia

Jumat, 17 Februari 2017

Remah

Remah biskuit saja aku suka
Apalagi remahan kisahmu
Biar sepotong-sepotong
Asal jangan berhenti cerita
Aku suka mendengarnya
Bagimu kisahmu remah
Bagiku kisahmu mewah

Senin, 13 Februari 2017

Rintik

Tik, kamu berisik
Suara jatuhmu terlalu sumbang
Sama halnya rindu yang tak pernah seimbang
Berat di aku, kosong di dia
Tik, kesini aku betulkan ritmemu
Seperti dia yang selalu bantu saat aku salah
Dulu... Tentu...
Tik, kamu kok tega menghujami si genting?
Sama kayak dia yang tega menyakiti
Hati...  Lebih sakit dari fisik...
Tik, aku kok rindu dia ya
Aku harus bagaimana?
Tik, aku tanya kok jawabnya cuma tik...tik...tik...tik
Oiiii, Tik! Jawab!
.
.
.
.
.
Ah dasar rintik
Bisanya cuma tik...tik...tik...tik dan mengintrik kisah lalu


Kamis, 09 Februari 2017

Autotomi

Cicak
Patah ekor itu biasa
Sebulan lagi tumbuh baru
Manusia
Patah hati itu (seharusnya) biasa
Tunggu ikhlas baru tumbuh lagi

Rabu, 08 Februari 2017

kabut

Abu-abu, suram, gelap
Mencekam, tak jelas melihat sekitar
Tenang, sayang
Hanya sesaat
Seperti ingatanku tentangmu
Perlahan kikis
Lalu habis

Selasa, 07 Februari 2017

Sawang

Aku ada di setiap sudut ingatanmu
Bahkan tepat didepanmu saat kau berbaring
Aku adalah nyata yang tak kau anggap
Bagimu aku mati
Bagimu aku kotor
Bagimu aku ada yang harus ditiadakan

Aku hanya diam, bukan mati
Aku tak ingin hilang dari pandanganmu
Aku tak mengganggumu, jadi biarkan aku ada

Anggaplah aku sawang
Tepat kau pandang saat tubuhmu rebah dan pandangmu lurus keatas
Diam, bukan mati, tak mengganggu bukan?
Aku hanya ingin memastikan kau cukup tidur
Aku hanya ingin tahu buku apa yang kau baca malam ini
Aku hanya ingin mendengar doa yang kau panjatkan sebelum lelapmu
Aku hanya ingin menemanimu, meski bagimu aku sudah mati

Aku akan menjadi sawang terkuat di ingatanmu
Tak akan gugur meski kau coba bersihkan
Tak akan menyerah membuat sarang di tiap sudutmu

Minggu, 29 Januari 2017

Kak

Surat untuk seorang yang jauh, yang lahir lebih dulu dari kandungan yang sama denganku
.
.
Salam rindu dari adikmu yang tak pernah kau panggil "Dik"
Izinkan aku bercerita sedikit kisah kita di waktu kecil, barangkali kau lupa, aku akan membantumu mengingatnya. 
Aku memanggilmu "mas" waktu itu. Dan aku pernah bergelut dengan pikiranku sendiri kenapa aku harus memanggilmu mas padahal kau tak pernah memanggilku dik, tidak adil. Kita sering bermain bersama mas-mas lain yang satu kampung dengan kita. Kita pernah berebut kelereng, berebut tazoz, berebut stick nintendo, bermain "umbul", karambol, nyari becacil di kuburan, nyari ikan di kali, nyari belut di persawahan, berlarian mengejar layangan, main bola hingga senja tenggelam. Ingatkah? Mas, ingatkah kita dulu pernah mengambil uang di celengan hanya untuk bermain ding-dong saat bapak ibuk pergi? Aku masih ingat betul malam itu, aku tidak bisa berbohong dan akhirnya kita ketahuan. Nakal! Tak apa, itu pengalaman tak terlupakan untukku. Mas, ingatkah kau kita sering saling menggelitiki telapak kaki sebelum kita tidur? Waktu itu kita masih SD, kamar kita sama. Aneh memang, tapi entah mengapa kita sama-sama suka menggelitik telapak kaki. Aku sering iri padamu, Mas. Ibuk sering memberimu pakaian yang baru, sedang aku hanya bisa "nglungsur" baju-bajumu atau baju saudara jauh kita. Memang bajuku kadang lebih bermerk, tapi itu baju bekas, aku lebih menginginkan yang baru daripada sisa orang. Tapi itu dulu, Mas. Sekarang kita bahkan bisa membeli pakaian baru sendiri tanpa harus dibelikan Ibuk. Aku senang ketika pergi ke rumah nenek, berboncengan sepeda denganmu. Aku senang ketika masa panen hampir tiba, kita sering mengusir burung di sawah bersama. Aku senang satu SD denganmu karena uang gedungku jadi dapat diskon hehehe. 
Tapi Mas, ketika kamu beranjak remaja, kamu semakin menyebalkan. Kita sudah tak sedekat dulu lagi. Apalagi ketika kamu mulai masuk STM, jam sekolahmu kadang agak aneh, sekolah malam. Aku sudah sangat jarang berkomunikasi denganmu. Tanya PR pun aku tak pernah. Kita sepasang asing dibawah atap yang sama. Ketika kuliah pun demikian, kita merasa jauh meski satu rumah. Aku tak pernah cerita masalah apapun kepadamu, pun sebaliknya. Kisah asmaraku tak pernah kau ketahui karena aku tak pernah cerita sedikitpun. Kau juga tak pernah menanyakan hal itu jadi kupikir memang tidak penting bagimu. 
Tiga tahun kau merantau membawa perubahan yang cukup signifikan bagi hubungan kita. Maaf sekarang aku tak lagi memanggilmu mas, kuganti dengan "kak". Aku lebih suka begitu, terdengar lebih ceria. Ternyata jarak justru membuatku ingin bercerita banyak denganmu. Kita jadi sering curhat. Kita jadi saling bergantung dan membantu. Ternyata jarak memang paling bisa membuat rindu. Sesekali aku merindukanmu dan merasa khawatir ketika kau memposting uang recehan dan lembaran ribuan saat tanggal tua. Kak, mungkin saat ini kau iri karena aku bisa bebas bersenang-senang dengan Bapak Ibuk dirumah sementara kau jauh di rantau timur. Aku pun pernah merasa ingin merantau saat suasana rumah sedang tidak kondusif. Ketika bapak ibuk bertengkar karena kesalahpahaman, aku ingin berada di posisimu, Kak. Jauh dan tidak tahu apa yang terjadi dirumah. Tidak tahu apa yang diperdebatkan orang tua. 
Kak, aku tidak pernah membencimu. Jika aku pernah berkata kasar padamu, percayalah itu tak sungguhan. Aku tidak pernah benar-benar marah padamu. Kuharap kau pun begitu. Saat ini, kau sedang apa? Hujankah? Hatimu baik-baik sajakah? Apa ada perempuan jelek yang menyakitimu lagi? Kalau ada bilang sini, biar aku lawan. Aku sungguh benci pada mbak-mbak yang selalu saja mematahkan hatimu. Kamu ini tidak jelek, Kak. Temanku bilang kamu ini ganteng. Kalau itu terlalu menyakitkan tinggalkan saja, cari yang lain. Kubilang kamu tidak jelek, lebih gampang nyari pasangan. Kak, sedalam apapun aku pernah menyakitimu, percayalah aku tak akan rela jika ada orang lain menyakitimu. Kalau kamu sakit aku juga merasa sakit. Aku tidak tahu bagaimana suasana hatimu sekarang, tapi kalau butuh telinga aku siap kapanpun, Kak. Kita saudara meski tidak mirip, kita sudah terbiasa saling berbagi sejak kecil. Jadi apa salahnya jika kau berbagi bebanmu denganku? 
Kak, seburuk apapun perlakuanku padamu, percayalah bahwa aku sungguh mengasihimu dan akan terus menunggu kepulanganmu. Terima kasih sudah menghadiahkanku banyak benda bagus. Aku senang dengan hadiah, tapi aku lebih senang kalau kita tidak lagi berjarak. Baik raga maupun hati. 

Dari seseorang yang merindukanmu namun selalu gengsi untuk berucap rindu

Ditulis ketika Januari sedang hujan-hujannya, sesekali gerimis, seringkali deras.

Rabu, 25 Januari 2017

Opini vs Fakta

Manusia itu cenderung melihat sesuatu dari bungkusnya saja, suka nggak ngecek isinya bagaimana, setelahnya langsung main penilaian. Yang bungkusnya kelihatan bagus dinilai baik, pun berlakusebaliknya. Termasuk aku. Aku juga jadi salah satu objek penilaian mereka. Kadang mereka cuma lihat aku dari pengamatan sekejap saja. Jadi, yang mereka lihat kadang bukan aku yang sesungguhnya atau malah justru kebalikan dari aku yang sesungguhnya. Beberapa penilaian yang salah tentangku adalah
  • Rajin
BIG NO to this. Boleh dibilang aku ini anak Ibu yang paling malas. Nyapu malas, nyuci malas, masak malas, tapi kalau makan nggak pernah malas hahaha. Dari kecil, banyak orang yang bilang aku ini rajin, mungkin maksudnya rajin belajar karena prestasiku lumayanlah di sekolah. Tapi menurutku itu salah. Aku belajar seperti anak pada umumnya, nggak 'ngoyo', nggak berlebihan jam belajarnya. Jadi kalau dibilang diriku yang slebor ini rajin, aku malah justru merasa keberatan. Karena faktanya aku ini seorang pemalas, lebih suka tidur ketimbang beraktivitas.
  • Kuat/ tangguh
Aku nggak setuju banget kalau ada orang yang bilang aku ini pribadi yang tangguh. Well, mungkin mereka bisa bilang begitu karena aku memang nggak pernah menunjukkan air mata di depan umum separah apapun situasi yang kuhadapi. Tapi bukan berarti aku nggak pernah nangis. Bagi manusia yang mulai menginjak dewasa sepertiku patah hati adalah penyakit yang cukup sulit disembuhkan. Aku pernah menangis semalaman karena patah hati. Sedihnya nggak akan hilang dalam hitungan hari, bahkan tahun. Tapi aku tak pernah menunjukkan kesedihan itu dihadapan orang-orang.  Kusimpan sendiri saja tangisku. Aku mungkin terlihat tangguh diluar, tapi sesungguhnya hatiku ini begitu rapuh.
  • Baperan
Sering banget orang bilang "kamu tuh ya, dikit-dikit bawa perasaan, jomblo aja sok-sok'an baper." Yaelah santai aja kali, aku juga nggak baper beneran. Mungkin kalau tahun lalu iya, aku memang baker banget tahun kemarin (kan lagi patah hati). Tapi kalau sekarang mah aku cuma ngreceh aja biar ramai. Nggak baper beneran kok, serius deh. Aku cuma ngelucu aja siapa tahu emang lucu dan bisa bikin ketawa orang. Kan lumayan dapat pahala? Hehehe
  • Pintar
Noooo, aku nggak pintar. Nilai akademik di sekolah bukan patokan utama seseorang dikatakan pintar. Aku merasa ilmuku masih dangkal, masih butuh banyak belajar. Jika nilaiku di  sekolah bagus kuanggap itu sekedar bonus  atas usahaku yang mau belajar. Tapi sungguh, aku nggak pernah merasa pintar. Itu hanya omongan orang-orang.
  • Pendiam
Orang yang pertama kali ketemu aku pasti ngira aku ini pendiam. Well, jujur aku suka jaim kalau ketemu orang baru. Tapi setelahnya, jreng jreng .... You’re trapped hahaha. Aku ini cerewet banget, apa-apa diomongin bahkan hal yang nggak penting. Biasanya setelah kenal sama aku orang pasti bilang “kirain pendiem mbak, ternyata cerewet juga.”  Ya emang aku aslinya cerewet kok, cuma jaim aja pas pertama ketemu. 

#10DaysKF #WritingChallenge #Day8 #Jurnal365Hari #Day25

Selasa, 24 Januari 2017

Kekuatan Kata

"Kuatkanlah hatimu, janganlah lemah semangatmu karena ada upah bagi usahamu."
Itu adalah kata-kata yang membuatku kuat. Tentu saja bukan aku yang merangkai kata-kata itu. Kata-kata itu merupakan petikan dari ayat Alkitab. Peganganku selama ini ya ayat tersebut. 
Berjuang itu kontinuitas, jangan sampai berhenti dan akhirnya menyerah. Kita harus yakin bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Dalam hidupku aku selalu memegang teguh ayat tersebut. Saat aku hampir menyerah, kubaca lagi ayat tersebut berulang-ulang. Kubaca dengan suara lantang, kuhafal diluar kepala. Kini ayat tersebut seakan melekat ditubuhku, aku selalu mengingatnya kapanpun. Meski itu hanya kata-kata, namun dia memberiku kekuatan besar untuk terus melangkah mengejar mimpiku. Kata adalah kekuatan ekstra disaat raga sudah mencapai batas putus asa. Jangan remehkan kekuatan kata! Bagiku, 2 Tawarikh 15:7 seperti mantra, dia punya kekuatan ajaib yang mampu membuatku semangat dan tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan sesuatu.

#10DaysKF #WritingChallenge #Day7 #Jurnal365Hari #Day24

Senin, 23 Januari 2017

Kebanggaan yang Dianggap Remeh

Yang kubanggakan tapi dianggap remeh orang adalah membeli buku bacaan. Teman-temanku bilang eman-eman uangnya kalau cuma buat beli buku. Ibuku bahkan juga pernah melakukan hal yang sama, ngapain sih beli buku terus, menuh-menuhin rumah. Padahal aku bangga banget bisa beli buku pakai uang hasil keringatku sendiri. Ibu selalu mengarahkan agar uangku dipakai buat membeli barang-barang yang berguna. Maksud ibuku mungkin baju, tas, bedak, gincu, dsb. Tapi barang berguna versiku adalah buku. Pun aku sudah berkomitmen minimal satu bulan membeli satu buah buku. Lagipula aku tidak terlalu suka masuk ke toko pakaian, berlama-lama mencoba baju didepan cermin, berlama-lama di mall hanya demi sepasang sepatu. Ya intinya aku nggak terlalu suka berbelanja, itu saja.
Nenek pun pernah terprovokasi oleh omongan Ibuku. Nenek ikutan merayuku agar aku tidak lagi buang-buang uang (maksudnya beli buku). Mau bagaimana lagi aku lebih suka berlama-lama di toko buku, membanding-bandingkan buku mana dulu yang harus kubeli daripada berlama-lama di mall. Mungkin bagi mereka aku hanya buang waktu, buang uang, bagi mereka buku-buku itu nggak berguna, lebih berguna kalau punya baju banyak, tas banyak, sepatu banyak, gincu banyak. Menurutku buku itu penting, rajin membaca itu suatu keharusan. Sebenernya nggak harus beli sih, pinjem juga tidak apa asal benar dibaca. Namun bagiku, ada kepuasan pribadi ketika aku bisa memiliki sebuah buku, apalagi jika itu karya penulis favoritku.
Tepat di penghujung tahun 2016 aku dikejutkan dengan pengumuman undian berhadiah oleh sebuah toko buku online. Namaku tertera di situ, aku memenangkan sebuah sepeda gunung. Ah, aku senang bukan main. Ketika orang-orangan mulai meremehkan bahkan tidak mendukung hobiku, aku malah mendapatkan berkat yang luar biasa. Aku tidak ingat kapan tepatnya, mungkin Maret tahun lalu aku iseng ikut undian berhadiah itu, gampang sekali tinggal memasukkan nomor struk pembelian buku yang bertanda khusus. Aku tidak pernah mengharap akan menang undian, jujur saja waktu itu aku benar-benar hanya iseng. Tapi ternyata Tuhan mengizinkan aku mendapatkan salah satu hadiahnya. Ibu dan nenekku turut bangga atas apa yang kuperoleh. Dan sepertinya aku tidak akan dilarang lagi membeli buku bacaan. Terima kasih Tuhan, Berkat-Mu sungguh luar biasa. :)
Ps : hal yang dianggap remeh kadang bisa menghasilkan sesuatu yang tidak terduga.

#10DaysKF #WritingChallenge #Day6 #Jurnal365Hari #Day23

Minggu, 22 Januari 2017

Favourite Films

Sebenarnya aku bukan seorang maniak film. Ke bioskop pun jarang banget. Di laptopku, banyak film yang belum pernah kutonton sama sekali. Ada juga film yang kutonton berulang-ulang. Nah, kebanyakan film yang kutonton berulang-ulang ini adalah film kartun hehehe. Tapi kalau cuma disuruh nyebutin 3, mungkin ini yang paling berkesan:
  • Big Hero 6
Film ini sudah kutonton lebih dari 3 kali. Dan sampai sekarang pun masih kutonton. Scene paling berkesan pas baymax ngrelain dirinya terjebak demi nyelametin hiro dan anaknya callaghan. Jujur pas scene itu aku nangis hahaha. Banyak pelajaran yang bisa kupetik dalam scene ini, diantaranya tolong-menolong, pengampunan, dan pengorbanan. Baymax memang diciptakan untuk mmebantu menyembuhkan orang-orang yang terluka. Dikisahkan bahwa awalnya Hiro mau melakukan balas dendam ke callaghan karena membiarkan Tadashi(kakak Hiro) meninggal saat akan menyelamatkan Callaghan. Namun akhirnya Hiro sadar dan mau memaafkan Callaghan(nggak dibunuh) dan malah menyelamatkan anaknya Callaghan. Pokoknya film ini luar biasa banget buatku.
"I'm not giving up on you. You don't understand this yet, but people need you. So let's get back to work." (Tadashi Hamada)
  • Zootopia
Film ini berkisah tentang seekor kelinci yang mampu membuktikan pada dunia (zootopia) bahwa kelinci juga bisa jadi polisi. Hewan kecil, diremehkan, bukan predator juga bisa jadi pelindung zootopia. Well, jujur saja aku ngefans sama Judy Hopps sampai-sampai aku beli kemeja kotak-kotak warna pink biar sama kayak punya Jude hahaha. Banyak banget pelajaran yang bisa dipetik dari film ini. Kepercayaan, kerja tim, keberanian, percaya diri, tolong menolong, dll. Ada satu kalimat yang paling kusuka dalam film ini. Biasanya yang ngucapin Nick Wilde, tapi akhirnya Jude juga ikutan ngomong gitu sih hahaha. "Ini namanya mengecoh, sayang." Kalau udah bilang gitu, berasa jadi orang paling cerdas sedunia wkwkwk.
"Never let them see that they get to you." (Nick Wilde)
  • Detective Conan The Movie: Strategy Above The Depth
Well sebenarnya menurutku movie Conan (1-20) tidak ada yang jelek. Tapi movie ini paling berkesan buatku karena aku jadi tahu karakter Paman Kogoro yang sesungguhnya. Di film ini Paman Kogoro menunjukkan sisi seorang "laki-laki dewasa"nya. Kan biasanya cuma ngelihat kalau Paman Kogoro itu mesum, suka slengekan nggak jelas, suka mabok, suka genit sama cewek, terkenal karena dibantu sama Conan. Nah disini dia beneran jadi detektif, beneran pakai otaknya buat nyekidikin kasus. Ternyata Paman Kogoro ini sebenarnya masih sayang sama Kisuke Eri, nggak tahu kenapa kalau ketemu pasti ujung-ujungnya ribut hahaha. Sayang tapi gengsi.
Scene paling mendebarkan ya pas Paman Kogoro bergelut sama wanita (tersangka) di atas dek kapal yang mau tenggelam. Disitu Paman Kogoro sama sekali nggak mau nglawan si tersangka karena dia perempuan. What a cool man! Paman Kogoro bisa tahu kalau dia tersangkanya tanpa bantuan Conan. Kan langka banget ada kejadian kayak gini hahaha.  Pelajaran yang kudapat dari film ini: jangan pernah menganggap remeh seseorang karena kalau dia mau menggunakan seluruh kemampuannya bisa jadi dia lebih bersinar dari dirimu.

#10DaysKF #WritingChallenge #Day5 #Jurnal365Hari #Day22

Jumat, 20 Januari 2017

Pertemuan Pertama (Masa Lalu)

Dia? Dia siapa? Tidak ada seorang “dia” yang bisa aku pamerkan saat ini. Yaps, mohon dimaklumi aku sekarang sedang kosong alias j*mblo. Dimaklumi dan dipahami aja ya, nggak usah dikasihani plis, jadi j*mblo nggak semengenaskan itu kok hahaha. Karena hari ini tema challenge-nya tentang pertemuan dengan “dia”  tapi aku lagi nggak punya “dia”, maka izinkan aku ceritakan pertemuanku dengan “dia yang telah lalu”.
“Dia yang telah lalu” bukan yang teristimewa untukku, namun pertemuan dengannya adalah yang paling mengesankan.  Kami berkenalan via chat, emmm lebih tepatnya dikenalin temen sih. Dia kakak tingkatku, satu tahun diatasku tapi beda prodi. Sebenarnya satu gedung sih kalau kuliah, tapi nggak tahu kenapa nggak pernah ketemu. Kayaknya akunya yang menghindar sih hahaha. Jadi hampir satu tahun komunikasinya cuma via chat. Waktu itu dia pernah punya pacar, katanya bosen nunggu aku yang susah diajak ketemu. Iyalah, akunya kan memang sengaja menghindar. Beberapa bulan berlalu katanya dia putus sama pacarnya. Dan aku juga lagi di posisi yang sama. Enggak putus sih, kan nggak punya pacar hihihi. Tapi jujur waktu itu aku juga lagi patah hati. Ada lelaki lain yang berhasil membuatku luluh dan membuangku begitu saja(atau mungkin aku yang kege’eran?). “Dia yang telah lalu” curhat masalah mantannya sama aku. Waktu dia ngajakin makan keluar nggak tahu kenapa aku langsung bilang iya gitu aja. Dia sampai  shocked nggak nyangka akhirnya aku mau diajak keluar. Pikirku sih lumayan buat pengalihan daripada terus-terusan kepikiran sama yang udah bikin patah hati. Dijemput ke  rumah? Enggak, aku nggak mau Ibuk samapi tahu aku pergi sama lelaki asing. Kusebut asing karena aku belum pernah cerita sama Ibuk. Akhirnya ketemuan di pom bensin wkwkwk. Nggak romantis banget yak janjiannya di pom bensin? Masih inget waktu itu makan di warung ramen yang cahaya lampunya nggak begitu terang. Nggak tahu kenapa ya “Dia yang telah lalu”  kok kelihatan jadi cakep (kalau kamu baca ini jangan ge’er ya, ini kan pemikiranku dulu hahaha), bersih bersinar tapi nggak kayak s*nlight sih. Kayaknya waktu itu aku terpesona sih, kayaknya lho ya wkwkwk. Setelah itu aku jadi lebih gampang kalau diajakin “Dia yang telah lalu”keluar. Bahkan aku pernah piknik, berdua aja sama “Dia yang telah lalu”. Ini pertama kalinya aku bepergian jauh sama lelaki dan cuma berdua saja. Kalau boleh jujur sebenarnya aku takut, takut dinakalin hahaha. Tapi untungnya “Dia yang telah lalu” orang baik, gombal sih tapi nggak nakal kok.
Terus “Dia yang telah lalu” itu siapa? Mantan? Bukan, dia bukan mantan. Hanya teman yang pernah mencoba melampaui batas pertemanan namun akhirnya gagal. Ya begitulah adanya, nyatanya kami nggak pernah jadian. Aku pernah marah padanya, berhari – hari nggak balas chat, dan dia dengan bodohnya kerumah bawa buket bunga terus ditaruh di depan pintu. Aku tahu dia datang tapi aku tetap nggak mau bukain pintu (dulu aku jahat banget sih), setelahnya hujan turun dengan derasnya. Dia pulang kehujanan. Dia satu-satunya lelaki yang rela menerjang hujan demi mendapatkan maaf dariku. Tapi tetap saja waktu itu aku masih marah padanya hahaha. Dia baik, tapi aku belum bisa menerimanya. Aku nggak mau dia cuma jadi pelarianku saja karena sampai saat itu aku belum sepenuhnya move on.   
Sekarang kami berteman kok. Nggak sedekat dulu sih, tapi seenggaknya nggak bermusuhan. Untuk “Dia yang telah lalu”, terimakasih ya, pernah membuatku merasa istimewa. J

#10DaysKF #WritingChallenge #Day4 #Jurnal365Hari #Day21

Target 2017

Sebenarnya wishlist tahun ini sudah kutulis sejak pergantian tahun kemarin. Mendaftar hal-hal yang ditargetkan bisa terealisasi di tahun ini memang menyenangkan. Menurutku sebaiknya wishlist itu memang ditulis, jika kita lupa pada tujuan yang ingin dicapai, kita bisa melihat catatan dan  kembali mengusahakan tercapainya tujuan tersebut. Wishlist yang kutulis tahun ini cukup banyak, bahkan beberapa ada yang melanjutkan wishlist tahun kemarin hahaha. namun, jika memilih 5 diantaranya, mungkin ini yang paling menjadi prioritas.
  •        Bekerja Sesuai Passion
Bukan berarti pekerjaanku yang sekarang tidak sesuai passion. Aku suka  kok pekerjaanku yang sekarang. Hanya saja ada yang lebih aku sukai, yaitu mengajar. Yap, prioritas utamaku tahun ini adalah mewujudkan cita-citaku menjadi seorang guru  hehehe. Walaupun menjadi tenaga pendidik penghasilannya tidak terlalu tinggi, tapi aku ingin sekali melakukannya. J
  •       Kurus
56 kg bukanlah berat yang wajar bagi seseorang yang pendek sepertiku. Rasanya susah banget kalau disuruh lari, apalagi lompat. Makanya aku ingin berat balik lagi kayak dulu, sekitar 45-48 kg. Nggak terlalu kurus juga sih, yang penting buat lari masih enak hehehe.
  •     Wirausaha
Selain ingin jadi guru, aku juga ingin punya usaha sendiri. Mungkin bikin kerajinan atau souvenir sederhana. Kalau bisa bahannya dari sesuatu yang sudah tidak terpakai. Semacam  DIY gitulah. Ada banyak pilihan sih, tapi belum pasti milih yang mana.   
  •        Konsisten Beli Buku
Sebenarnya ini sudah kumasukkan wishlist tahun lalu, tapi karena belum bisa konsisten akhirnya kumasukkan lagi ke wishlist tahun ini. Aku sudah berkomitmen setiap bulan  minimal membeli 1 buku. Genre bebas, yang penting benar-benar dibaca dan berguna. Nanti kalau sudah  banyak aku ingin bikin perpustakaan di rumah. 
  •        Selesai Baca Alkitab
Tahun kemarin  bible readingnya masih bolong-bolong dan belum pernah selesai baca (khatam) Alkitab. Jadi tahun ini sudah berkomitmen, pokoknya harus bisa selesai baca Alkitab. Bukan kewajiban sih sebenarnya, hanya saja aku malu. Novel saja dalam sekejap bisa selesai kubaca, tapi Alkitab kok nggak pernah bisa selesai bacanya. J


#10DaysKF #WritingChallenge #Day3 #Jurnal365Hari #Day20

Rabu, 18 Januari 2017

Hysterical Moments

Histeris menurutku adalah suatu ekspresi berlebihan yang disebabkan oleh sesuatu yang terlalu membahagiakan atau sebaliknya. Patokan histeris versiku harus ada teriakan setelah melihat atau merasakan hal yang bikin histeris. Jadi harus  keluar kata kyaaaaa atau ahhhhhh  atau huwaaaa atau wowwww, atau semacamnya. Nah sebebenarnya hal yang kemungkinan bisa membuatku histeris itu banyak(mengingat aku memang orang yang boleh dikatakan lebay), tapi kalau hanya  tiga saja mungkin hal-hal berikut ini yang paling bisa membuatku histeris.

  • Ketemu Idola
Siapa sih yang nggak histeris kalau ketemu idolanya? Contohnya gini, salah satu idolaku kan  Bang Tulus. Misal aja nih aku ketemu dia  terus diajakin foto  bareng terus diajakin naik ke panggung buat nyanyi bareng, duhhh siapa sih yang nggak histeris kalau ketemu idolanya kayak gitu. Emmm, tapi yang diajakin nyanyi ke panggung mending di skip aja ding, nanti malah ngrusak mood yang nonton secara suaraku kan fals hahaha. Itu salah satu contoh ya, idolaku lainnya masih banyak sih. Bung Fiersa, Bang Wira, Mbak Rara, Mas Dion, Conan...yah walaupun nggak mungkin  banget kan ketemu Conan, tapi dia pantes diidolakan kok hehehe.
  • Ketemu Hantu
Sudah kubilang kan histeris nggak harus tentang hal yang membahagiakan. Aku yakin banget kalau aku ketemu hantu pasti akan teriak histeris. Aku ini kan penakut hahaha. Kran rumah nyala sendiri saja aku sudah ketakutan setengah mati, apalagi kalau benar-benar ketemu hantu. Nonton film horror sendiri aja nggak berani apalagi kalau beneran... Ahhh, jangan sampai ketemu. Ini kehisterisan yang nggak pernah aku harapkan bakalan terjadi dalam hidupku. Nggak bisa bayangin kalau ketemu terus aku teriak-teriak ketakutan setengah mati, mending kalau masih sadar, kalau histerisnya sampai pinsan kan bikin repot. Ah, jangan sampai terjadi ah.
  • Ketemu Cacing
Iya, memang benar aku takut cacing. Cacing bukan hewan berbahaya, sepertinya nggak beracun juga, kena sinar matahari juga dia mengering. Tapi yagitu, aku anti banget sama hewan yang namanya cacing. Jelek banget dia, hewan nggak ada bulunya, cuma polosan doang, jalannya klogat-kloget lagi. Dihhhh, nyeremin. Pernah dulu waktu masih kecil, aku nginep dirumah nenek. Paginya disuruh nyapu kebun sama sepupu aku. Nah, disitulah aku ketemu sama si cacing jelek. Parahnya sepupu aku yang tahu kalau aku takut sama cacing malah mainin si cacing tadi. Diambilnya si cacing (padahal dia cewek, berani banget megang cacing pakai tangan kosong) terus dilempar ke aku. Huwaaaaaa, udah pasti aku lari sambil teriak histeris, nggak jelas arah larinya kemana yang penting jauh dari si cacing. Aku ngadu ke nenek, tapi nenek malah ngetawain aku. Semenjak itu aku jadi tambah geli kalau lihat cacing. Nggak benci sebenernya, cuma jijik aja kalau lihat. Apalagi kalau lihat dia lagi klogat-kloget, udahlah aku nyerah (kabur sambil teriak-teriak nggak jelas).


#10DaysKF #WritingChallenge #Day2 #Jurnal365Hari #Day19

Selasa, 17 Januari 2017

Dia yang Kudamba

Tidak harus bisa memecahkan Teorema Fermat yang rumit. Tidak harus paham setiap detail teori mekanika kuantum. Tidak harus jenius seperti Einstein. Tapi aku ingin yang seperti Galilei ataupun Kepler, mereka  taat beragama.
Taat beragama adalah syarat mutlak kekasih idaman versiku. Dia yang bersamaku haruslah pribadi yang bisa menuntunku menjadi orang yang lebih baik. Apalah aku yang imannya masih mudah goyah, mudah terombang – ambing arus dunia yang semakin kuat menuju kekelaman.
Dia yang kudamba adalah orang yang setiap minggu boleh duduk denganku di kursi Gereja. Sederhana, namun romantis bukan? Kami saling mendoakan satu sama lain, saling menjaga komitmen, dan saling mendukung satu sama lain.
Dia yang kudamba adalah dia yang bisa kuajak berdebat. Masalah apapun, yang penting kami bisa beradu argumen. Tahu kan kodratnya perempuan memang menjadi cerewet.  Jadi, aku ingin berdebat dengannya, apapun topiknya asalkan dengannya. J
Dia yang kudamba tidak harus putih kulitannya. Bukannya rasis, namun aku suka yang sawo matang, terlihat lebih keras usahanya dalam bekerja. Mungkin tidak begitu aslinya, namun pemikiranku begitu, hehehe. Aku gadis yang boleh dibilang pendek, jadi aku mengharapkan dia yang badannya tinggi. Kata orang biar bisa memperbaiki keturunan. Memang benar sih, aku setuju hehehe.  Dia yang perutnya buncit  justru menggemaskan bagiku, empuk, tidak akan menyusahkan jika kuajak makan, menu apapun pasti mau hahaha.
Dia yang kudamba adalah yang mau menemaniku membaca, yang selalu sabar menunggu kepulanganku, yang telinganya tak pernah menolak mendengar ceritaku, yang tangannya tak pernah menyakitiku, dan yang mau menegurku jika aku berbuat salah. Dia yang kudamba adalah dia yang membolehkanku ikut berkegiatan bersamanya, apapun itu asal bersamanya. Dia yang kudamba adalah dia yang konsisten dalam perkataan dan perbuatannya. Dia yang kudamba adalah dia yang memiliki komitmen kuat, bukan yang kesukaannya hanya main-main saja.
Teruntuk “dia yang kudamba”, maaf mauku terlalu banyak. Jika dirimu belum memenuhi semuanya, tak apa, jangan minder. Kita bisa menjadi lebih baik saat melakukannya bersama. J


#10DaysKF #WritingChallenge #Day1 #Jurnal365Hari #Day18

Leona : Masa Penantian

Minggu kemarin kubilang aku pilih Dilan ketimbang Leona. Uangku kubelikan Dilan dan Milea saja. Leona nanti gampang, paling bentar lagi beredar di toko buku. Tapi nggak tahu kenapa pas open PO aku buka link webnya, terus jari-jariku langsung beradu dengan layar hape, cepat sekali kuketik semua. Aku ingat waktu itu pukul 16.02. Aku tidak terlalu berharap bisa mendapatkan Leona, namun kupikir sebaiknya aku mencoba selagi masih sempat. Pukul 20.45 ada email masuk dan ternyata itu dari penerbit Leona, aku dinyatakan lolos seleksi, ummm apapun itu namanya hahaha. Aku bahagia sekaligus bingung. Tapi banyak bahagianya, aku merasa bisa mengalahkan beratus-ratus orang yang bersaing mendapatkan Leona. Memang terdengar berlebihan, namun begitulah nyatanya, banyak yang berebut mendapatkan Leona. Ada kepuasan pribadi ketika kamu berhasil mendapatkan sesuatu yang diperebutkan banyak orang. Dan tahu kau aku urutan berapa? 127. Bayangkan. Open PO 16.00, aku mengisi form pukul 16.02 dan aku diurutan 127, bagaimana yang mengisi form pukul 16.37 atau 16.53 atau berapapun itu setelahku? Leona, kamu memang pantas jadi rebutan. 😂
Tapi setelahnya aku bingung, total yang harus kubayar hampir 140ribu, sementara kemarinnya aku habis belanja Dilan 170-an ribu. Bagiku 310ribu bukanlah jumlah yang sedikit. Aku bimbang jadi kuambil Leona atau tidak. Namun, mengingat perjuanganku telah mengalahkan ratusan orang lainnya, kuputuskan kubayar Leona (tapi minjem uangnya mas sih, soalnya atm ku nggak bisa transfer hahaha). Resikonya kutanggung sendirilah, bulan besok pokoknya puasa jajan buku! Harussss!
Jadi sekarang aku dalam masa menunggu Leona sampai ditanganku. Aku ingin segera mengenalkannya pada Dilan, Milea, dan yang lainnya. Ah Februari segeralah datang. Februari akan begitu menyenangkan. Leona akan punya teman-teman baru. Can't wait. 😊

#Jurnal365Hari #Day17

Senin, 16 Januari 2017

Bebas

Boleh aku mengadu?
Tentang suatu ragu yang mulai muncul berminggu lalu
Cerita tentang kisah dibalik sebuah dinding istana
Terlihat megah diluar, namun begitu kacau didalam
Manusiaku bilang semua baik saja, namun batin memberontak "Jika baik saja mengapa ingin lepas? Aku lelah menuruti kedaginganmu. Enyahlah, ayo pergi. Tempat kita bukan di istana ini."
Lalu manusiaku akan berujar "Sabarlah sebentar, jangan tergesa sebelum sesalmu datang."
"Kubilang aku lelah, kamu juga. Lekas sudahi. Percuma kamu disini kalau aku sudah tak ingin. Kamu harus percaya aku, kubilang semua akan jauh lebih baik jika kita pergi sekarang."
Lalu pikiranku hanya melayang ke satu titik "Bebas, aku ingin bebas. Itu saja."

#Jurnal365Hari #Day16