Jumat, 06 Oktober 2017

Dasar Lemah!

"Kamu tidak akan bisa memulai sesuatu yang baru jika masih terikat dengan masa lalu." Aku menasehatinya. Mataku setengah melototinya. Dia hanya diam seperti tak peduli.
Ah, bikin kesal saja. Dia lebih tua dariku, seharusnya lebih dewasa bukan? Berkali-kali kubilang bersetialah pada satu hati. Jika hatimu masih tertinggal di satu perempuan, jangan terburu-buru pindah ke perempuan lain. Hatimu cuma satu, jika sebagian masih di orang lain, kasihan perempuanmu yang tak mendapatkan hatimu secara utuh.
Ah, tapi dia keras kepala. Sama sepertiku. Harusnya dia paham, akupun mengalami hal yang sama. Bedanya aku menunggu sembuh dulu baru memutuskan menemukan yang baru. Jika waktu tak menyembuhkan, percayalah ikhlas adalah satu-satunya jalan keluar. Aku percaya selama aku belum sembuh, selama itu pula aku belum ikhlas melepasnya. Ikhlas juga butuh proses, butuh waktu. Sulit memang jika dari awal kamu terlalu bergantung padanya. Namun, aku yakin nanti sembuh dan menemukan lelaki yang tepat untuk membersamaiku.
Lagi-lagi aku kesal pada lelaki itu. Mengapa dia sangat lemah pada masa lalunya? Mengapa dia terlalu gampang memutuskan untuk berpindah hati? Dasar lemah!
Tanpa sadar aku bercermin. Lalu terkekeh. Mengapa aku mengumpati laki-laki itu? Bukankah kata-kata itu juga pas untukku? "Dasar kau, lemah sama masa lalu!" Aku mengumpat lagi di depan cermin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar