Jika tinggal membuatmu sesak
maka pergi adalah pilihan terbaik
Jumat, 29 September 2017
Tak Tertebak
Kau seperti hujan
yang tiba-tiba datang
tiba-tiba henti
tiba-tiba deras
tiba-tiba rintik
Tak tertebak, cepat berubah
Sedang rinduku adalah badai
yang tak kan mereda
yang tiba-tiba datang
tiba-tiba henti
tiba-tiba deras
tiba-tiba rintik
Tak tertebak, cepat berubah
Sedang rinduku adalah badai
yang tak kan mereda
Selasa, 26 September 2017
Ikhlas
Kamu yang belum pernah ngrasain
Dipatah hatikan oleh bocah
Nggak usah sok-sokan ngomongin
Ikhlasin ajalah
.
.
.
Ikhlas itu susah!
Senin, 25 September 2017
Minggu, 24 September 2017
Berkali Lagi
Aku jatuh sekali lagi
Pada matamu yang bulat seperti bumi
Oleh karena itu,
Sejauh apapun pengembaraanku
Aku akan tetap kembali
Menemukanmu
Dan jatuh cinta berkali lagi
Pada matamu yang bulat seperti bumi
Oleh karena itu,
Sejauh apapun pengembaraanku
Aku akan tetap kembali
Menemukanmu
Dan jatuh cinta berkali lagi
Rabu, 20 September 2017
Wagu
"Mbak, kapan jalanmu benar?"
"Maksude piye?"
"Mbok kalau jalan kayak perempuan. Rapet kakinya. Masak kayak preman gitu."
"Hehehe...Udah kebiasaan gini."
Yaaash, cara jalanku dikomentari. Jadi kepikiran aja. Mengapa tidak dari dulu kuperbaiki cara jalanku. Padahal sekarang sudah menjadi kebiasaan.
Belakangan aku jadi berpikir. Kalau begini terus, nanti pas nikah gimana. Mosyok wagu banget jalannya mbadongi. Iyaaa, yang paling kutakuti dari cara jalanku yang aneh adalah pas nikah nanti. Mau di pemberkatan atau di resepsi, manten pasti jalan melewati para tamu undangan. Nggak bisa bayangin kalau nanti dikomentari ibu-ibu tetangga "Ishhh, mantene wedok mlakune koyo lanang." Aaaaa, nggak mau begitu. Mau nggak mau harus mengubah kebiasaan cara jalan. Mau nggak mau harus kayak cewek pada umumnya. Mau nggak mau harus belajar dari adek sepupu yang cewek banget. Mau nggak mau harus belajar pakai heels. Mau nggak mau harus mikirin nikahnya sama siapa. Lha wong calon belum ada kok udah mikir sampai mantenan. :"
"Maksude piye?"
"Mbok kalau jalan kayak perempuan. Rapet kakinya. Masak kayak preman gitu."
"Hehehe...Udah kebiasaan gini."
Yaaash, cara jalanku dikomentari. Jadi kepikiran aja. Mengapa tidak dari dulu kuperbaiki cara jalanku. Padahal sekarang sudah menjadi kebiasaan.
Belakangan aku jadi berpikir. Kalau begini terus, nanti pas nikah gimana. Mosyok wagu banget jalannya mbadongi. Iyaaa, yang paling kutakuti dari cara jalanku yang aneh adalah pas nikah nanti. Mau di pemberkatan atau di resepsi, manten pasti jalan melewati para tamu undangan. Nggak bisa bayangin kalau nanti dikomentari ibu-ibu tetangga "Ishhh, mantene wedok mlakune koyo lanang." Aaaaa, nggak mau begitu. Mau nggak mau harus mengubah kebiasaan cara jalan. Mau nggak mau harus kayak cewek pada umumnya. Mau nggak mau harus belajar dari adek sepupu yang cewek banget. Mau nggak mau harus belajar pakai heels. Mau nggak mau harus mikirin nikahnya sama siapa. Lha wong calon belum ada kok udah mikir sampai mantenan. :"
Asumsi
Aku merasa geli ketika temanku mengomentari "percuma kamu berenang, tinggimu udah mentok segitu." Hei boi, aku juga sadar diri kok. Bahkan tidak ada pikiran sama sekali mau meninggikan badan dengan berenang. Aku hanya suka nyemplung di air. Itu saja. Aku tidak pandai berenang, boi. Tapi ketika di dalam air, kepalaku menjadi adem. Semua beban dan prasangka rasanya ikut larut dalam air. Ringan sekali. Aku juga tidak tahu apakah berenang melepas endorphin, yang pasti aku bahagia saat berenang. Aku tenang saat membenamkan kepalaku dalam air. Aku suka mendengarkan suara kecipak air.
Jadi jangan berasumsi aneh-aneh. Aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Aku bukannya tak suka kamu bilang seperti itu. Tapi, tanpa kamu katakan pun aku sadar diri kok.
Jadi jangan berasumsi aneh-aneh. Aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Aku bukannya tak suka kamu bilang seperti itu. Tapi, tanpa kamu katakan pun aku sadar diri kok.
Sabtu, 16 September 2017
Sebagai Kawan
Tak perlu tak enak hati. Jika tanpa sengaja kita bertemu, sapalah aku sebagai kawan. Jangan pura-pura tak kenal. Usah lawan takdir bahwa kita pernah saling sayang.
Tak perlu tak enak hati. Jika kau sudah menemukan penggantiku, usah sungkan memamerkannya. Itu hak kalian. Aku tak akan ikut campur.
Tak perlu tak enak hati. Jika kita bertemu dengan pasangan kita masing-masing, usah ragu bercerita bahwa kita adalah sepasang mantan. Aku siap berkenalan dengan gadismu. Aku tak akan menjelekkanmu di hadapannya.
Tak perlu tak enak hati. Jika kau butuh telinga, aku siap mendengarmu. Jika kau butuh masukan, aku siap menasehatimu. Namun, jangan sekali-kali kau minta aku kembali. Dengan susah payah aku belajar berdiri, kemudian datang seseorang yang mengajari berjalan, lalu berlari. Sudah sejauh ini aku melangkah, jangan kejar lagi.
Tak perlu tak enak hati. Jika butuh bantuan, aku siap membantu setulus hati. Namun jangan minta lagi hatiku. Dia yang mematahkan tak bisa sekaligus menjadi yang menyembuhkan. Dan aku sudah bersama penyembuhku sekarang.
Bersamamu dulu, aku bahagia. Namun sekarang, aku lebih bahagia bersamanya. Yang dulu biarlah lalu. Mari kita hidup dalam bahagia kita masing-masing. Tidak bersama lagi bukan berarti tidak berteman. Anggaplah aku sebagai kawan.
Tak perlu tak enak hati. Jika kau sudah menemukan penggantiku, usah sungkan memamerkannya. Itu hak kalian. Aku tak akan ikut campur.
Tak perlu tak enak hati. Jika kita bertemu dengan pasangan kita masing-masing, usah ragu bercerita bahwa kita adalah sepasang mantan. Aku siap berkenalan dengan gadismu. Aku tak akan menjelekkanmu di hadapannya.
Tak perlu tak enak hati. Jika kau butuh telinga, aku siap mendengarmu. Jika kau butuh masukan, aku siap menasehatimu. Namun, jangan sekali-kali kau minta aku kembali. Dengan susah payah aku belajar berdiri, kemudian datang seseorang yang mengajari berjalan, lalu berlari. Sudah sejauh ini aku melangkah, jangan kejar lagi.
Tak perlu tak enak hati. Jika butuh bantuan, aku siap membantu setulus hati. Namun jangan minta lagi hatiku. Dia yang mematahkan tak bisa sekaligus menjadi yang menyembuhkan. Dan aku sudah bersama penyembuhku sekarang.
Bersamamu dulu, aku bahagia. Namun sekarang, aku lebih bahagia bersamanya. Yang dulu biarlah lalu. Mari kita hidup dalam bahagia kita masing-masing. Tidak bersama lagi bukan berarti tidak berteman. Anggaplah aku sebagai kawan.
Rabu, 13 September 2017
Pro Kontra
Bumi itu bulat
Sejauh apapun kamu pergi
Kamu akan kembali ke titik awalmu, aku
Benarkah?
Ternyata tidak
Mungkin, kamu percaya bumi ini datar
Kamu tak kembali
Entah karena bumi benar datar
Atau karena kamu tak mau kembali
Kamis, 07 September 2017
Doa
Tuhan...
Jika kami tak boleh bersatu
Biarkan kami saling menjaga
Sampai salah satu dari kami
Dibersamakan dengan dia yang Kau anggap layak
Jika kami tak boleh bersatu
Biarkan kami saling menjaga
Sampai salah satu dari kami
Dibersamakan dengan dia yang Kau anggap layak
Sabtu, 02 September 2017
Sial
Kamu malu-malu
Mendatangiku yang tengah sayu
Di beranda kamu mengaku
Dalam hati, aku menertawaimu
Aku menang, kamu mengaku rindu
Mampus kau, mampus kau
Kau meminta kembali hatiku
Bah, kau pikir aku mau
Rasakan kau, rasakan kau
Tanggung sendiri rindumu!
Ah, sial
Aku hanya mengkhayal
Mendatangiku yang tengah sayu
Di beranda kamu mengaku
"Pandangku berpaling tapi hatiku menetap.Aku terpaku, bibirku kelu
Kisahku sudah baru tapi pikiranku masih tentangmu."
Dalam hati, aku menertawaimu
Aku menang, kamu mengaku rindu
Mampus kau, mampus kau
Kau meminta kembali hatiku
Bah, kau pikir aku mau
Rasakan kau, rasakan kau
Tanggung sendiri rindumu!
Ah, sial
Aku hanya mengkhayal
Langganan:
Postingan (Atom)