Kamis, 31 Mei 2018

Ego


Adalah pasir yang rela mengalah

terombang-ambing gelombang

Ombak berisik sementara pasir hanya berbisik. Lembut. Pelan sekali

Dia mendengar ocehan ombak dengan sabar

Pasir tak suka bercerita, takdirnya hanya untuk mendengar

Tak masalah, ia bahagia dan menerima

Dia introvert sekaligus petualang sejati

Tak peduli kemana ombak membawanya,  pasir tetap sumarah

"Bebas kemana engkau pergi! Asal aku ikut," bisik pasir kepada ombak.


Sabtu, 26 Mei 2018

Halu


"Masih suka membaca?" kau memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan.

Aku tak menjawabnya.

Hanya sebuah anggukan kecil lalu kulanjutkan meminum kopi panas yang baru saja kubeli di minimarket.

"Buku apa?" tanyamu lagi.

Ingin sekali aku tak menjawabnya.

Tapi, aku memaksakan diri melakukannya.

"Seperti dulu." jawabku

"Novel dan buku puisi?" sahutmu

"Ya. Dan buku sejarah. Belakangan buku-buku seperti itu menjadi menarik."

Aku menjawabnya, lalu menyesal seketika karena terlalu banyak berbicara.

Ku hentikan langkah tepat di depan tempat sampah, lalu membuang kemasan kopi yang telah kosong.

Kau juga berhenti.

Aku melangkah, kamu mencoba mengimbangi langkahku.

"Seleramu mulai berubah ya," kamu mulai lagi.

"Sudah sewajarnya begitu."

"Tapi ini jauh berbeda. Kau bukan penikmat kopi minimarket. Seleramu adalah kopi hitam pekat tanpa pemanis sama sekali. Kopi beraroma buah, Kintamani, terutama, " sanggahmu

"Kemajuan zaman ada karena kemauan untuk berubah. I'm triyin to do that."

"Hahaha. Nggak nyambung kamu tuh."

Aku menunduk, menatap sneakers putih yang kotor terkena es krimnya.

Aku bertemu denganmu lagi, di sebuah minimarket dekat stasiun.

Jangan tanya bagaimana perasaanku sekarang.

Campur aduk, resah, deg-degan, kesal, marah, ingin menangis, ingin memukulmu, sakit, dan juga rindu.

Lebih dari 5 detik aku menatapmu.

Memastikan itu adalah kamu.

Pertemuan yang sungguh ceroboh dan tidak manis untuk diceritakan.

Kamu masih saja ceroboh, menabrakku, hingga es krim di tanganmu jatuh tepat di sneakersku.

Dan tiba-tiba saja kita sudah berjalan beriringan seperti ini.

"Kamu masih marah?" tanyamu usai tertawa.

Ah, harusnya aku menengadah untuk melihat tawamu tadi.

Sayang sekali aku melewatkan kesempatan itu.

Aku lagi-lagi tak menjawabmu.

"Masih suka berdiskusi tentang buku?" kamu masih berusaha mengajakku bicara.

"Ya, kadang aku masuk ke forum-forum diskusi buku," jawabku singkat.

"Baguslah. Kau akan terus berkembang."

Aku menertawakanmu dalam hati.

Tahu apa kamu tentang diskusi buku.

Amatiran yang gagal masuk klub Sherlockian karena tidak baca bukunya sama sekali.

Mengenang kejadian itu, aku benar-benar ingin tertawa.

Kamu yang akhirnya mengaku ingin masuk klub hanya untuk dekat denganku.

Basi caramu itu oi.

"Kamu sungguh masih marah?" tanyamu lagi sambil memperlambat langkah.

Satu tikungan lagi aku akan mengambil jalan ke kiri sedang kamu, bisa kupastikan sebaliknya.

Aku terus melangkah seolah tak mendengar tanyamu.

Gang ini, entah mengapa hari ini begitu hening.

Biasanya ramai lalu lalang sepeda motor yang suka lewat jalan pintas.

Atau paling tidak terdengar suara kereta api dari stasiun di seberang minimarket tadi.

Tapi sore ini benar-benar sepi, bahkan aku bisa mendengar dengus napasmu yang mulai kesal karena tak mendapat jawaban apapun.

Lalu sampailah kita di tikungan terakhir. Tempat kita harus berpisah.

Entah bagaimana langkah kaki kita berhenti dalam ketukan yang sama.

"Aku duluan ya." katamu sambil melambaikan tangan.

Ada senyum kecil dibibirmu, meski selebihnya aku hanya membaca kekecewaan di wajahmu.

"Selamat tinggal." jawabku dibarengi gerakan tangan dan kaki yang melangkah meninggalkn tikungan ini.

Tanpa menoleh sedikitpun, aku melangkahkan kaki.

Semakin cepat langkah, semakin deras pula air mata yang menetes.

"Ah sial. Jangan lagi," gumamku.

Lalu sampailah aku di depan gerbang putih dengan pagar kokoh di sekelilingnya.

Aku memasuki tempat itu, semilir angin menerpa rambutku yang kubiarkan memanjang 2 tahun belakangan.

Daun-daun itu jatuh, menerpa kepalaku lalu kembali turun menyentuh tanah karena gravitasi.

Aku berhenti tepat di depan benda berwarna abu-abu itu.

Tertulis jelas namamu disana.

Aroma bunga kamboja sesekali menusuk hidung karena tiupan angin, lalu lenyap begitu saja.

Aku menangis sejadi-jadinya didepan rumah yang kau tempati 2 tahun ini.

"2 tahun apakah kurang lama? Mengapa kau masih terasa nyata? Haruskah seumur hidup aku begini terus?"

Jika tak ada peziarah lain yang datang, aku pasti tetap meraung-raung disana layaknya perempuan tak waras.

Aku bangkit, sesenggukan, dan membuat janji denganmu, "Minggu depan di hari yang sama aku akan kembali lagi dengan sneakers yang sama dan rambut yang tetap memanjang."

Begitulah aku setiap minggu di hari yang sama selama 2 tahun belakangan.

Menemuimu di depan minimarket, berpisah di tikungan terakhir, lalu menemuimu lagi di rumah abadimu.

Rabu, 02 Mei 2018

(Sok) OOTD Saat Melayat

Melayat selalu diidentikkan dengan pakaian hitam atau warna gelap.
Bukan hanya pakaian saja, alas kaki pun kalau bisa yang warnanya netral.
Pernah sekali aku mau melayat memakai slip on warna merah, Ibuk langsung menegurku.
Kupikir mana ada orang segitunya memperhatikan sepatu, aku lupa netizen sekarang kritis-kritis. :(
Untung aku menuruti kata Ibuk dan ganti mengenakan sepatu berwarna abu-abu.
Outfit yang dipakai tidak hanya menyangkut warna, namun juga pakaian sopan yang benar-benar menutup tubuh.
Seiring perkembangan zaman, warna seperti tak lagi bermakna.
Hitam atau warna gelap yang diartikan sebagai warna bela sungkawa mulai diracuni warna-warna lain.
Meski masih jarang terjadi, namun mataku pernah menangkap warna pakaian merah, hijau, bahkan kuning di pemakaman.
Sudah macam balon saja~
Tentu saja warna baju yang menyolok langsung jadi bahan 'rasan-rasan' bagi ibu-ibu yang melayat.
Aku tidak ikut 'ngrasani', namun selalu penasaran hingga mencuri dengar percakapan-percakapan mereka.
Nah, baru-baru ini ada pemandangan cukup aneh yang aku saksikan saat melayat.
Seorang ibu dengan rok pendek(lebih dari 5 cm di atas lutut) berbahan jeans, atasan kaos pendek yang benar-benar ketat, tanpa make up tebal(hanya bedak tipis dan lipstick), berkacamata hitam, memakai wedges tinggi, dan tangannya membawa clutch.
Jujur saja, badan ibu tersebut bagus.
Tingginya di atas rata-rata dan beratnya terlihat ideal.
Sebenarnya, ini seperti angin segar di tengah suasana duka yang rentan bau dupa.
Namun yah, lagi-lagi ibu-ibu di barisan kursi depan berbisik-bisik ngrasani.
Cuping telingaku tak mampu mencuri dengar percakapan mereka yang berjarak kurang lebih 8 meter dariku.
Tapi pastilah mereka membicarakan OOTD nyeleneh si ibu nyentrik tadi.
Seperti yang kubilang tadi, dandanan si ibu memang menarik, bahkan menarik ibu-ibu lain untuk berkomentar.
Namun kurasa, tak banyak bapak-bapak yang berkomentar.
Biar saja mereka menikmati pemandangan indah itu.
Aku bukannya mau membela ibu-ibu yang ngrasani si ibu nyentrik.
Namun, berpakain OOTD seperti itu dalam suasana duka rasanya kurang pantas.
Terakhir kudengar bisik-bisik bahwa ibu nyentrik tersebut berprofesi sebagai penyanyi dangdut.
Yah, tentu gaya berpakaiannya menambah kesan negatif pedangdut yang sebenarnya saat ini mulai dihormati publik.
Karena satu orang, citra pedangdut lain yang berpakain normal jadi turut kena imbas.
Seharusnya si ibu nyentrik paham menempatkan diri saat mau OOTD.
Apapun profesinya, prinsip 'desa mawa cara, negara mawa tata' harusnya tetap dijalankan.


Ps: Maaf, aku lagi nyamar jadi netizen berisik yang suka komentar urusannya orang lain wkwk~