Pak,
Ingatanku masih bagus meski peristiwa itu terjadi berpuluh tahun lalu
Kala itu, aku masih kelas 2 SD
Ranking 1 seperti biasa
Ku tagih hadiah seperti anak lainnya
Temanku ranking 5
Dapat hadiah tas ransel koper yang kala itu sedang jadi tren
Aku yang ranking 1 hanya minta dosgrip bergambar Pikachu kesukaanku
Tapi nampaknya, kau pun tak cukup rupiah untuk mengabulkan pintaku
Bapakku bukan PNS atau buruh yang menerima gaji bulanan atau mingguan
Bapakku hanya pamong kelurahan dengan gaji sepetak sawah
Sawah yang hanya bisa dipanen 4 bulan sekali
Itu pun belum pasti, bisa jadi dimakan hama
Wajar saja bila kami sering hidup berkekurangan
Wajar saja bila bapak tak bisa membelikanku dosgrip Pikachu
Tapi ternyata bapakku tak menyerah
Meski tanpa gaji, bapakku termasuk golongan elit di desa karena profesinya
Tapi di terik itu, selepas kerja di kelurahan, bapak tak malu ikut nukang di rumah tetangga
Semata-mata untuk membelikanku dosgrip Pikachu
Aku yang kala itu masih kecil, belum mengerti sama sekali
Yang aku tahu hanya senang tiada tara karena dosgrip Pikachu sudah jatuh ke tanganku
Beranjak SMP kehidupan kami tak kunjung membaik
Aku yang mulai mengerti status sosial, sering merasa minder bersanding dengan kawan-kawan kotaku
Jelas sekali ketika berkunjung ke rumah mereka, aku merasa kagum dengan kamar atau bahkan TV yang mereka miliki
Aku sangat takut kalau-kalau mereka berkunjung balik ke rumahku
Aku bahkan bingung harus mendudukkan mereka dimana
Masa SMP begitu sulit untukku
Aku harus mengayuh sepedaku sejauh belasan kilo pulang pergi ke sekolah
Tak ada kendaraan bermotor di rumah
Bahkan saat ambil rapor pun, bapak mengayuh ontel hitamnya
Aku sempat malu takut dilihat teman-teman
Tapi sekarang aku sudah paham betul apa itu pengorbanan
SMA, semakin jauh jaraknya dari rumah
Aku sempat kesal dengan bapak yang secara sepihak memutuskan aku harus masuk ke SMA pilihannya
Padahal beliau tahu betul mati-matian aku berjuang belajar siang malam hanya untuk masuk ke SMA favoritku
Usahaku tidak sia-sia, nilaiku cukup, lebih dari cukup malah
Tapi bapak justru memasukkanku ke sekolah pilihannya
Dengan setengah hati aku belajar disana
Tapi entah mengapa nilaiku masih saja bagus
Setiap pagi-pagi sekali bapak mengantarku dengan Kharismanya, motor bekas yang masih ada hingga sekarang
Nanti siang hari, bapak pula yang menjemputku sepulang kerja di kelurahan
Rutinitas ini berjalan kira-kira satu tahun hingga aku akhirnya punya SIM dan boleh berkendara sendiri ke sekolah
Dengan Kharisma si kuda besi hitam tentunya
Semakin dewasa, semakin jauh dari bapak
Bukan jarak, hanya saja aku terlalu idealis dan sering memberontak
Bapak tak banyak bicara seperti ibu
Ia lebih sering diam dan menyendiri di sudut kamarnya
Dulu sebelum ada android, beliau kerap menghabiskan waktu untuk mengisi TTS denganku
Aku juga sering menunggu kepulangannya di depan rumah hanya untuk membaca koran yang ia bawa dari kelurahan
Tak selalu beruntung setiap hari membawa koran, namun aku bersyukur masa kecilku tak kekurangan asupan baca
Tapi yang paling kutunggu tentu saja kolom TTS yang ada di koran
Ya, bapaklah yang menularkan hobinya mengisi TTS kepadaku
Bapak jugalah yang membuatku jadi termotivasi membaca berbagai jenis tulisan
Banyak sekali kenangan indahku bersama beliau
Membakar jerami di tengah sawah yang gelap gulita, sayang sekali waktu itu aku belum tahu apa itu milky way
Yang aku tahu hanyalah langit yang sangat indah karena kaya akan ribuan bintang
Mandi air diesel di sawah juga jadi pengalaman tak terlupakan bersama beliau
Juga ngopi bersama setiap petang tiba di teras rumah sambil menikmati suara jangkrik
Meski terkesan cuek dan sering membuat jengkel ibu, bapakku sebenarnya orang yang penuh kasih
Beliau mengajari sesuatu dengan tindakan, tidak hanya teori saja
Sayangnya, ada satu kebiasaannya yang sangat aku tidak sukai
M e r o k o k.
Sampai kapanpun aku tidak akan meniru kebiasaan buruknya itu
Tapi bagaimanapun kebiasaan buruk itu kesukaan bapakku
Bahkan kesukaannya itulah yang merenggut nyawanya sendiri
Tragis
Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi bila itu sudah menjadi favoritnya
Aku tidak membenci perokok
Aku tidak benci rokok
Bapak memilih jalannya sendiri
Bapak orang merdeka jadi aku tidak menyalahkan pilihannya
Selamat ya Pak, sekarang sudah bisa sebat setiap waktu tanpa batas dan risiko
Salam buat teman-teman barumu disana, Pak :)