Senin, 11 Januari 2021

Bapak

Pak,

Ingatanku masih bagus meski peristiwa itu terjadi berpuluh tahun lalu

Kala itu, aku masih kelas 2 SD

Ranking 1 seperti biasa

Ku tagih hadiah seperti anak lainnya

Temanku ranking 5

Dapat hadiah tas ransel koper yang kala itu sedang jadi tren

Aku yang ranking 1 hanya minta dosgrip bergambar Pikachu kesukaanku

Tapi nampaknya, kau pun tak cukup rupiah untuk mengabulkan pintaku

Bapakku bukan PNS atau buruh yang menerima gaji bulanan atau mingguan

Bapakku hanya pamong kelurahan dengan gaji sepetak sawah

Sawah yang hanya bisa dipanen 4 bulan sekali

Itu pun belum pasti, bisa jadi dimakan hama

Wajar saja bila kami sering hidup berkekurangan

Wajar saja bila bapak tak bisa membelikanku dosgrip Pikachu

Tapi ternyata bapakku tak menyerah

Meski tanpa gaji, bapakku termasuk golongan elit di desa karena profesinya

Tapi di terik itu, selepas kerja di kelurahan, bapak tak malu ikut nukang di rumah tetangga

Semata-mata untuk membelikanku dosgrip Pikachu

Aku yang kala itu masih kecil, belum mengerti sama sekali 

Yang aku tahu hanya senang tiada tara karena dosgrip Pikachu sudah jatuh ke tanganku


Beranjak SMP kehidupan kami tak kunjung membaik

Aku yang mulai mengerti status sosial, sering merasa minder bersanding dengan kawan-kawan kotaku

Jelas sekali ketika berkunjung ke rumah mereka, aku merasa kagum dengan kamar atau bahkan TV yang mereka miliki

Aku sangat takut kalau-kalau mereka berkunjung balik ke rumahku

Aku bahkan bingung harus mendudukkan mereka dimana

Masa SMP begitu sulit untukku

Aku harus mengayuh sepedaku sejauh belasan kilo pulang pergi ke sekolah

Tak ada kendaraan bermotor di rumah

Bahkan saat ambil rapor pun, bapak mengayuh ontel hitamnya

Aku sempat malu takut dilihat teman-teman

Tapi sekarang aku sudah paham betul apa itu pengorbanan


SMA, semakin jauh jaraknya dari rumah

Aku sempat kesal dengan bapak yang secara sepihak memutuskan aku harus masuk ke SMA pilihannya

Padahal beliau tahu betul mati-matian aku berjuang belajar siang malam hanya untuk masuk ke SMA favoritku

Usahaku tidak sia-sia, nilaiku cukup, lebih dari cukup malah

Tapi bapak justru memasukkanku ke sekolah pilihannya 

Dengan setengah hati aku belajar disana

Tapi entah mengapa nilaiku masih saja bagus

Setiap pagi-pagi sekali bapak mengantarku dengan Kharismanya, motor bekas yang masih ada hingga sekarang

Nanti siang hari, bapak pula yang menjemputku sepulang kerja di kelurahan

Rutinitas ini berjalan kira-kira satu tahun hingga aku akhirnya punya SIM dan boleh berkendara sendiri ke sekolah

Dengan Kharisma si kuda besi hitam tentunya


Semakin dewasa, semakin jauh dari bapak

Bukan jarak, hanya saja aku terlalu idealis dan sering memberontak

Bapak tak banyak bicara seperti ibu

Ia lebih sering diam dan menyendiri di sudut kamarnya

Dulu sebelum ada android, beliau kerap menghabiskan waktu untuk mengisi TTS denganku

Aku juga sering menunggu kepulangannya di depan rumah hanya untuk membaca koran yang ia bawa dari kelurahan

Tak selalu beruntung setiap hari membawa koran, namun aku bersyukur masa kecilku tak kekurangan asupan baca 

Tapi yang paling kutunggu tentu saja kolom TTS yang ada di koran

Ya, bapaklah yang menularkan hobinya mengisi TTS kepadaku

Bapak jugalah yang membuatku jadi termotivasi membaca berbagai jenis tulisan

Banyak sekali kenangan indahku bersama beliau

Membakar jerami di tengah sawah yang gelap gulita, sayang sekali waktu itu aku belum tahu apa itu milky way

Yang aku tahu hanyalah langit yang sangat indah karena kaya akan ribuan bintang

Mandi air diesel di sawah juga jadi pengalaman tak terlupakan bersama beliau

Juga ngopi bersama setiap petang tiba di teras rumah sambil menikmati suara jangkrik

Meski terkesan cuek dan sering membuat jengkel ibu, bapakku sebenarnya orang yang penuh kasih

Beliau mengajari sesuatu dengan tindakan, tidak hanya teori saja

Sayangnya, ada satu kebiasaannya yang sangat aku tidak sukai

M e r o k o k.

Sampai kapanpun aku tidak akan meniru kebiasaan buruknya itu

Tapi bagaimanapun kebiasaan buruk itu kesukaan bapakku

Bahkan kesukaannya itulah yang merenggut nyawanya sendiri 

Tragis

Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi bila itu sudah menjadi favoritnya

Aku tidak membenci perokok

Aku tidak benci rokok

Bapak memilih jalannya sendiri 

Bapak orang merdeka jadi aku tidak menyalahkan pilihannya

Selamat ya Pak, sekarang sudah bisa sebat setiap waktu tanpa batas dan risiko

Salam buat teman-teman barumu disana, Pak :)