Kepada Ibukku yang sungguh kusayangi namun jarang kupulangi
rengkuhnya.
.
.
Ibuk, kalau boleh jujur aku sangat menyayangimu, Buk. Aku ingin
membalas semua kebaikanmu dengan semua harta yang kumiliki. Namun aku sadar, itu
saja tak akan cukup untuk menebus semua hutangku. Baju, susu, makanan, sekolah,
fasilitas, perhiasan, bahkan nyawa, semua kau pertaruhkan demi anak-anakmu.
Ibuk, maafkan aku yang belum bisa menjadi anak yang membanggakan.
Maafkan aku yang belum bisa mencapai cita-cita. Maafkan aku yang setiap hari
masih saja mengeluh. Maafkan aku yang setiap hari harus merepotkanmu. Bahkan
mencari celanaku sendiri saja aku harus minta bantuanmu. Semoga Ibuk tetap
senang aku repoti. Aku ingin selalu bergantung padamu, Buk. Bukannya manja, aku
hanya ingin selalu dekat denganmu, Buk.
Ibuk, maaf kalau selama ini aku sering membangkang. Sebagaimana
anak muda masa kini, aku senang mempelajari hal-hal baru , Buk. Aku pun senang
bergaul dengan orang di luaran sana. Maaf kalau waktuku denganmu berkurang. Maaf
kalau aku terlalu sering terlambat pulang dan membuatmu khawatir.
Ibuk, maaf kalau selama ini aku sering mengeluh ketika Ibuk
meminta tolong. Maaf kalau aku sering tidak peka ketika Ibuk sakit. Maaf kalau
aku sering membuat Ibuk menangis.
Yang aku heran, Buk. Berkali-kali aku membuat hatimu hancur,
namun doamu untukku tak pernah putus. Saat aku sakit, Ibuk selalu yang paling
pertama tahu dan mengambil tindakan, saat aku kesal Ibuk selalu menjadi telinga
pertama yang mendengar keluhku, saat aku patah semangat Ibuk selalu mengirimiku
kata-kata bijak via whatsapp, saat aku sendiri Ibuk selalu bersedia menemaniku
meski sesungguhnya tubuhnya sangat lelah, saat aku harus membayar SPP dan Bapak
sedang tak ada uang Ibuk berani menggadaikan cincin kawinnya agar aku bisa ikut
ujian, Ibuk rela sepanjang siang bekerja di sawah demi aku punya sepeda motor
untuk ke sekolah, Ibuk tak lelah memasang payet sepanjang malam demi aku bisa
makan mie ayam di akhir pekan, Ibuk selalu mencucikan bajuku karena tahu
anaknya kelelahan bekerja siang malam, Ibuk selalu menyediakan sarapan
terbaik untuk anaknya.
Buk, aku tak akan lupa malam itu. Ketika tubuhku
mengigil terserang demam, Ibuk membacakan kitab Mazmur. Doa waktu sakit. Ibuk mendoakan
kesembuhanku. Waktu itu aku belum paham kasih ibu, Buk. Kupikir memang
begitulah tugas seorang ibu. Beranjak dewasa aku semakin tahu betapa besar rasa
sayangmu padaku, Buk. Tak mungkin kau bacakan Mazmur jika bukan karena kau
menyayangi anakmu yang terserang demam itu. Sebaliknya Buk, ketika Ibuk sakit
aku seringkali sibuk dengan duniaku sendiri, tidak begitu peduli. Aku malu,
Buk, dengan kelakuanku sendiri. Maafkan aku yang tak tahu balas budi.
Buk, aku belum sukses. Namun aku bersyukur punya Ibuk yang
sangat sukses menyekolahkan anak-anaknya. Ibuk adalah Ibuk terhebat. Ibuk adalah
sesungguh-sungguhnya pahlawan tanpa tanda jasa. Ibuk adalah malaikat tanpa
sayapku. Ibuk adalah apa yang harus kubahagiakan saat ini. Ibuk adalah rumah
bagi semua isi hatiku. Ibuk adalah pelukan paling nyaman bagi setiap
anak-anaknya. Dan Ibuk adalah alasan mataku berkaca-kaca malam ini. Terima
kasih, Buk untuk semua pengorbananmu. Maafku sungguh-sungguh kepadamu, terima
kasihku tulus untukmu. :)