Kamis, 30 Maret 2017

Ibuk

Kepada Ibukku yang sungguh kusayangi namun jarang kupulangi rengkuhnya.
.
.
Ibuk, kalau boleh jujur aku sangat menyayangimu, Buk. Aku ingin membalas semua kebaikanmu dengan semua harta yang kumiliki. Namun aku sadar, itu saja tak akan cukup untuk menebus semua hutangku. Baju, susu, makanan, sekolah, fasilitas, perhiasan, bahkan nyawa, semua kau pertaruhkan demi anak-anakmu.
Ibuk, maafkan aku yang belum bisa menjadi anak yang membanggakan. Maafkan aku yang belum bisa mencapai cita-cita. Maafkan aku yang setiap hari masih saja mengeluh. Maafkan aku yang setiap hari harus merepotkanmu. Bahkan mencari celanaku sendiri saja aku harus minta bantuanmu. Semoga Ibuk tetap senang aku repoti. Aku ingin selalu bergantung padamu, Buk. Bukannya manja, aku hanya ingin selalu dekat denganmu, Buk.
Ibuk, maaf kalau selama ini aku sering membangkang. Sebagaimana anak muda masa kini, aku senang mempelajari hal-hal baru , Buk. Aku pun senang bergaul dengan orang di luaran sana. Maaf kalau waktuku denganmu berkurang. Maaf kalau aku terlalu sering terlambat pulang dan membuatmu khawatir.
Ibuk, maaf kalau selama ini aku sering mengeluh ketika Ibuk meminta tolong. Maaf kalau aku sering tidak peka ketika Ibuk sakit. Maaf kalau aku sering membuat Ibuk menangis.
Yang aku heran, Buk. Berkali-kali aku membuat hatimu hancur, namun doamu untukku tak pernah putus. Saat aku sakit, Ibuk selalu yang paling pertama tahu dan mengambil tindakan, saat aku kesal Ibuk selalu menjadi telinga pertama yang mendengar keluhku, saat aku patah semangat Ibuk selalu mengirimiku kata-kata bijak via whatsapp, saat aku sendiri Ibuk selalu bersedia menemaniku meski sesungguhnya tubuhnya sangat lelah, saat aku harus membayar SPP dan Bapak sedang tak ada uang Ibuk berani menggadaikan cincin kawinnya agar aku bisa ikut ujian, Ibuk rela sepanjang siang bekerja di sawah demi aku punya sepeda motor untuk ke sekolah, Ibuk tak lelah memasang payet sepanjang malam demi aku bisa makan mie ayam di akhir pekan, Ibuk selalu mencucikan bajuku karena tahu anaknya kelelahan bekerja siang malam, Ibuk selalu menyediakan sarapan terbaik untuk anaknya. 
Buk, aku tak akan lupa malam itu. Ketika tubuhku mengigil terserang demam, Ibuk membacakan kitab Mazmur. Doa waktu sakit. Ibuk mendoakan kesembuhanku. Waktu itu aku belum paham kasih ibu, Buk. Kupikir memang begitulah tugas seorang ibu. Beranjak dewasa aku semakin tahu betapa besar rasa sayangmu padaku, Buk. Tak mungkin kau bacakan Mazmur jika bukan karena kau menyayangi anakmu yang terserang demam itu. Sebaliknya Buk, ketika Ibuk sakit aku seringkali sibuk dengan duniaku sendiri, tidak begitu peduli. Aku malu, Buk, dengan kelakuanku sendiri. Maafkan aku yang tak tahu balas budi.
Buk, aku belum sukses. Namun aku bersyukur punya Ibuk yang sangat sukses menyekolahkan anak-anaknya. Ibuk adalah Ibuk terhebat. Ibuk adalah sesungguh-sungguhnya pahlawan tanpa tanda jasa. Ibuk adalah malaikat tanpa sayapku. Ibuk adalah apa yang harus kubahagiakan saat ini. Ibuk adalah rumah bagi semua isi hatiku. Ibuk adalah pelukan paling nyaman bagi setiap anak-anaknya. Dan Ibuk adalah alasan mataku berkaca-kaca malam ini. Terima kasih, Buk untuk semua pengorbananmu. Maafku sungguh-sungguh kepadamu, terima kasihku tulus untukmu. :)

untitled

Malam adalah tabah paling nyata
Pada pagi dia setia menunggu
Tak ada keluh, tak ada ragu
Hening, gelap, namun penuh harap
Ketika pagi datang, malam pun lenyap
Keduanya saling rindu
Namun tak menuntut temu
Pada keduanya tak ada ego yang menonjol
Keduanya sadar pada posisinya masing-masing
Saling bergatian menjaga bumi tetap utuh
Saling bertukar agar manusia hidup nyaman
Karena bagi malam rindu tak harus ketemu
Karena bagi malam rindu tak harus tahu
Karena bagi malam rindu tak harus dibalas
Rindu adalah perihal ikhlas
Karena bagi pagi rindu tak terlalu penting
Karena bagi pagi keseimbangan semesta lebih genting
Karena bagi pagi bahagia manusia adalah yang paling
Rindu adalah perihal melepas ego

Jumat, 03 Maret 2017

Kamis, 02 Maret 2017

Hai, apa kabar?

Ragamu tak pernah nyata muncul di hadapanku, namun senyumanmu tak pernah kurang memenuhi setiap sosial mediaku. Rindu yang menggebu terus menerus menggugat untuk membuat temu denganmu. Mana bisa bertemu? Menyapa saja tak ada nyali. Enyahlah rindu! Kamu bukan lagi kamuku yang bisa seenaknya aku kangeni. Kita sudah putus! 
Niatku sudah bulat, mengendapkanmu dalam palung terdasar ingatanku. Biar saja akhirnya membusuk, biar saja memori itu diurai bakteri yang menamakan dirinya kesibukan, biar sajalah ingatan itu memfosil. Sungguh, aku sudah berkomitmen untuk tak lagi memedulikan apapun tentangmu. Aku sengaja menenggelamkan diriku dalam kesibukan siang malam. Ini namanya rencana pengalihan. Pusat semestaku adalah kamu, dulunya. Sekarang sengaja kumanipulasi sehingga kamu bukan lagi fokusku. Kamu bahkan sudah kuanggap tiada, sudah kutendang masuk ke  lubang hitam. Entah sekarang kamu ada di dimensi lain atau kamu sudah benar-benar lenyap. Ya intinya begitu, kamu sudah tereliminasi  dari peran utama rencana masa depanku. 
Aku baik-baik saja tanpa stalking sosial mediamu. Aku baik-baik saja tanpa tahu apa kesibukanmu kini. Aku masih tetap hidup meski kamu sudah tak lagi mengingatkanku makan! Namun, semua pengalihan yang kubuat, semua tembok raksasa yang kubangun susah payah, semua barrier alias tameng pertahananku runtuh begitu saja. Semuanya menjadi sia-sia. Sebuah serangan dadakan terdeteksi pada sebuah radar yang sengaja kupasang untuk berjaga. Ya, kamu menyerangku, dengan senjata sederhana, bukan bom molotov apalagi bom nuklir.  Senjatamu hanya sebuah pesan yang kau kirim di kala senja penuh genangan rintik hujan. Sebuah pesan bertuliskan "hai, apa kabar?" jelas tertera di layar ponselku dan aku yakin 99% pengirimnya adalah kamu(kecuali kalau kamu punya admin pribadi). Hahaha apa ini? Cuma senjata murahan. Cuma modal kuota dan sinyal bagus. Kau pikir aku luluh dengan senjata murahan seperti itu? Kau pikir pertahananku lemah? Kau pikir aku akan menyerah? Hahaha, sayangnya kamu benar. Aku memang lemah, pertahananku buruk, aku akui aku kalah. Aku menyerah. Aku tidak akan tahan untuk tidak membalas pesanmu. Salahku juga tidak menghapus semua kontakmu dulu. Pun kuhapus, aku masih hafal nomor ponselmu, pin BBMmu, nomor rumahmu, tanggal lahirmu, tanggal kita saling jatuh cinta, tanggal kita pergi berdua. Arghhhh, membusuk apanya? Nyatanya ingatan tentangmu tak pernah benar-benar mengendap, ada saatnya dia muncul kembali ke permukaan dan menghancurkan barrier pertahananku. Sebuah "hai, apa kabar?" darimu adalah senjata paling mematikan untukku. Kamu benar-benar penembak jitu, seranganmu tepat menembus ulu hatiku. Kalau sudah begini aku akan menyerah pada diriku sendiri. Kusegerakan membalas pesanmu, kita kembali dekat, kita saling berjanji memperbaiki diri, aku kembali menyerahkan hatiku padamu. Lalu pada suatu titik dimana aku meyakinimu dan mengembalikan peranmu sebagai pemeran utama rencana masa depanku,  kamu justru meragu lagi dan lagi. Lalu kamu perlahan hilang. Kamu akan bilang begini sebagai pesan terakhir yang tak pernah berakhir "Kamu sempurna, aku sederhana. Aku banyak dosa, kamu terlalu baik untukku." Aku meyakini sesuatu yang sudah tak punya keyakinan bahkan pada dirinya sendiri.  Kamu menambah dosamu dengan menyakitiku dan aku menambah kebaikanku dengan terus-terusan percaya pada janjimu. Ah bukan, lebih tepatnya kebodohan. Aku bodoh karena terus mengulang melakonkan skenario yang sama dengan aktor yang sama. Aku bodoh karenamu. Iya kamu, manusia tak berhati. 

Rabu, 01 Maret 2017

Maumu

Maumu apa? 
Aku putar balik atau lurus saja? 
Cepat putuskan! 
Sebelum aku telanjur jauh...