Jumat, 24 Februari 2017

Taut

Dosaku besar, mungkin
Lalu aku dikurung disini
Terjerat karat dan gelap
Ingin lepas
Ingin bebas
Ingin pulang
Tapi aku terlanjur tertaut
Kelilingku pintu-pintu besi
Tikus-tikus berebut isi pikiranku
Kecoa-kecoa menggelayuti kakiku
Aku penuh peluh
Lemas
Ingin sudahi
Tapi aku terlanjur tertaut
Siapapun
Tolong aku
Aku rindu melihat dunia

Jumat, 17 Februari 2017

Remah

Remah biskuit saja aku suka
Apalagi remahan kisahmu
Biar sepotong-sepotong
Asal jangan berhenti cerita
Aku suka mendengarnya
Bagimu kisahmu remah
Bagiku kisahmu mewah

Senin, 13 Februari 2017

Rintik

Tik, kamu berisik
Suara jatuhmu terlalu sumbang
Sama halnya rindu yang tak pernah seimbang
Berat di aku, kosong di dia
Tik, kesini aku betulkan ritmemu
Seperti dia yang selalu bantu saat aku salah
Dulu... Tentu...
Tik, kamu kok tega menghujami si genting?
Sama kayak dia yang tega menyakiti
Hati...  Lebih sakit dari fisik...
Tik, aku kok rindu dia ya
Aku harus bagaimana?
Tik, aku tanya kok jawabnya cuma tik...tik...tik...tik
Oiiii, Tik! Jawab!
.
.
.
.
.
Ah dasar rintik
Bisanya cuma tik...tik...tik...tik dan mengintrik kisah lalu


Kamis, 09 Februari 2017

Autotomi

Cicak
Patah ekor itu biasa
Sebulan lagi tumbuh baru
Manusia
Patah hati itu (seharusnya) biasa
Tunggu ikhlas baru tumbuh lagi

Rabu, 08 Februari 2017

kabut

Abu-abu, suram, gelap
Mencekam, tak jelas melihat sekitar
Tenang, sayang
Hanya sesaat
Seperti ingatanku tentangmu
Perlahan kikis
Lalu habis

Selasa, 07 Februari 2017

Sawang

Aku ada di setiap sudut ingatanmu
Bahkan tepat didepanmu saat kau berbaring
Aku adalah nyata yang tak kau anggap
Bagimu aku mati
Bagimu aku kotor
Bagimu aku ada yang harus ditiadakan

Aku hanya diam, bukan mati
Aku tak ingin hilang dari pandanganmu
Aku tak mengganggumu, jadi biarkan aku ada

Anggaplah aku sawang
Tepat kau pandang saat tubuhmu rebah dan pandangmu lurus keatas
Diam, bukan mati, tak mengganggu bukan?
Aku hanya ingin memastikan kau cukup tidur
Aku hanya ingin tahu buku apa yang kau baca malam ini
Aku hanya ingin mendengar doa yang kau panjatkan sebelum lelapmu
Aku hanya ingin menemanimu, meski bagimu aku sudah mati

Aku akan menjadi sawang terkuat di ingatanmu
Tak akan gugur meski kau coba bersihkan
Tak akan menyerah membuat sarang di tiap sudutmu