Senin, 20 April 2020
Kolor Ibu
"Nih celana bekas, bisa melindungimu dari si virus sialan. Lekas buatlah masker dari kolor ini!" perintah ibu.
"Tapiii, ini kan kolor bekasnya ibu," protesku sambil memonyongkan bibir.
"Nak, surga ada di telapak kaki ibu. Tapi lestarinya kehidupan bisa jadi dari selangkangan ibumu. Jangan ngeyel!" Kata si ibu.
"Ya sudah ibu, aku kerjakan. Aku ingin kehidupan, sekaligus surga setelah kematian." Ucapku lirih sebelum menyulap kolor bekas ibu menjadi 4 buah masker untuk kami sekeluarga.
Rabu, 15 April 2020
Anomali
Cuaca sedang aneh
Cerah menyengat di musim hujan
Seperti kamu yang tiba-tiba lenyap
Tepat setelah kita bertukar ludah
Cerah menyengat di musim hujan
Seperti kamu yang tiba-tiba lenyap
Tepat setelah kita bertukar ludah
Pecandu
Aku ingin berteduh di rimbunnya bulu ketekmu
Membaui setiap helainya, terbius dalam aroma tubuhmu yang memabukkan
Aku rindu mengacak rambut hitammu yang lebat itu
Lalu menciuminya, karena rambut apekmu juga favoritku
Aku ingin melumat habis bibirmu sampai subuh
Karena semenjak kau mengenalkanku air liur
Aku sudah resmi jadi pecandu!
Membaui setiap helainya, terbius dalam aroma tubuhmu yang memabukkan
Aku rindu mengacak rambut hitammu yang lebat itu
Lalu menciuminya, karena rambut apekmu juga favoritku
Aku ingin melumat habis bibirmu sampai subuh
Karena semenjak kau mengenalkanku air liur
Aku sudah resmi jadi pecandu!
Senin, 30 Maret 2020
Pwissie untuk Calon Kekasih
Hei...
Kamu pasti seistimewa seblak sampai bisa membuatku jatuh hati
Aku jadi penasaran, kelak, apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?
Candaankah? Atau kepandaianmu? Atau gombalanmu?
Eh, jangan dijawab sekarang!
Jangan datang sekarang!
Puas-puasin dulu dengan kesenanganmu sekarang
Terserah kalau kamu masih tersesat di pelukan perempuan lain
Asal pulangmu tetap aku
Sekarang kamu boleh kok mabok, kasar, malas-malasan ibadah
Tapi janji ya, besok jadi lebih baik
Jangan malah tambah parah terjerumus
Karena aku butuh pemimpin yang takut sama Tuhan
Nanti kalau hatiku sudah siap 100%, silahkan kamu bertamu baik-baik
Tapi kalau sudah diterima dengan ramah, jangan keluar masuk lo ya
Ini hati, bukan jalan tol
Hatiku pernah roboh, tapi kelak ketika kamu datang, ku pastikan sudah ku bangun ulang
Lebih kokoh pastinya
Berpondasi kepercayaan, dindingnya terbuat dari kesetiaan, dan isinya dipenuhi kasih, kenyamanan, damai sejahtera, serta sukacita
Tapi sekali lagi ku tegaskan
Kamu tidak usah terburu-buru datang
Aku belum cukup siap sekarang
Aku masih membereskan puing-puing robohan yang harus segera dibuang
Bahkan debu-debu yang masih beterbangan harus kubersihkan dulu
Bersabarlah, sayang
Kelak ketika waktunya tiba, pastikan kita sudah sama-sama siap
Bukan karena tergesa-gesa diuber usia
Ibuk Bicara Mantan
Sore ini, hujan turun begitu derasnya. Selain membuat mager, kondisi seperti ini biasanya membuat perut cepat lapar.
Jadilah, aku dan kakakku memutuskan membuat camilan sederhana dengan bahan seadanya.
Kakak membuka kulkas, ternyata yang bisa kami masak hanyalah tahu.
Tak berlama-lama, kakak segera memotong tahu menjadi dadu kecil-kecil, lalu mengocoknya dengan tepung bumbu.
Di tengah keasyikan kami menggoreng tahu, tiba-tiba ponselnya berdering.
Sayang sekali, kakak harus menemui temannya saat itu juga.
Sebenarnya kami cukup was-was, tak hanya karena hujan, tapi juga karena ia harus keluar rumah di tengah-tengah pandemi seperti ini.
Namun apadaya, ia bersikeras harus menemui temannya sebentar untuk mengambil barang.
Tugas menggoreng pun diambil alih oleh ibuk.
Belakangan ini, aku punya banyak waktu untuk mengobrol dengan ibuk, lantaran aku diharuskan bekerja dari rumah.
Namun, biasanya kami hanya membicarakan hal-hal di sekitar kami atau seputaran covid-19 yang sekarang ini menjadi momok besar.
"Kamu kapan nikah?" Tanya ibuk tanpa tedeng aling-aling.
Aku yang sedang menyeruput kopi panas mendadak tergagap mendengar pertanyaan ibuk.
Jujur aku bingung harus menjawab apa.
Tak bisa dipungkiri di usiaku sekarang ini, sudah besar keinginanku untuk memiliki keluarga laiknya teman-temanku.
Namun di lain sisi, aku masih belum sembuh betul dari lukaku sebelumnya.
"Santai ih buk, kakak juga belum." Jawabku mencoba tenang.
"Kamu wedok, nduk. Nglangkahi pun Ndak masalah." Sanggah Ibuk.
Aku diam mendengar kata-kata Ibuk barusan.
Suasana hening, sesekali terdengar suara minyak memercik dari teflon yang digunakan untuk menggoreng tahu.
Aku sedikit melamunkan kisahku yang gagal kemarin.
"Andai Ibuk tahu sakit yang aku rasakan kemarin," kataku dalam hati.
Orangtuaku sudah tahu kalau hubunganku telah kandas, tapi mereka tak cukup tahu penyebab hubunganku harus berakhir.
Aku sudah dalam sekali mencintai seorang pria, yang ternyata justru memberikan luka batin yang teramat sangat.
Pengkhianatan, kata-kata kasar, ketidakpedulian, dibuang begitu saja. Semua hal-hal buruk itu masih saja membayang di kepala, meski kadang sedikit mereda.
Herannya, meski sudah sesakit ini, aku masih sering merindukan lelaki brengsek itu.
Bahkan aku masih membayangkan kisah kami akan terangkai kembali.
Aku menghela napas panjang sebelum menjawab sanggahan ibuk.
"Buk, nggak usah kesusu ya. Aku kemarin sama mas mantan juga kesusu, jadinya kan kandas. Kali ini aku nggak mau kesusu lagi, buk." Jawabku.
Tanpa diduga, Ibuk justru memberikan penilaian pada mantanku.
Padahal selama ini Ibuk tidak pernah menilai dia.
"Katamu mantannya dia cantik-cantik to nduk. Memang bukan buatmu, dia playboy." Ucap ibuk.
Aku melongo mendengar kata-kata Ibuk barusan, darimana Ibuk tahu kalau mantanku player.
Ah, tapi sebisa mungkin aku tidak menjelekkannya di depan Ibuk.
Bagaimanapun dia pernah jadi sumber kebahagiaanku dulu.
"Yang udah ya udah buk. Kami sama-sama salah. Tapi sebenarnya aku eman-eman buk, karena sudah terlanjur dekat dengan keluarganya." Kataku menatap cangkir kopi yang hampir kosong.
"Loh, ndak masalah kok kalau kamu masih menjalin kedekatan dengan keluarganya. Kalau musuhan malah jadi masalah." Kata Ibuk sambil menyerok tahu yang sudah matang.
Aku menatap Ibuk yang posisi duduknya membelakangiku.
Jujur saja, aku tak menyangka ibuku akan berbicara seperti ini.
Aku sungguh merasa bersyukur karena Ibuk punya pandangan sebaik ini, meski tahu mantanku player.
Aku tidak bohong, salah satu hal paling berat yang aku rasakan setelah putus dengannya adalah hubunganku dengan keluarganya jadi terbatas.
Aku tidak bisa lagi leluasa mengunjungi keluarganya, menemani keponakannya bermain, bahkan untuk sekedar video call saja rasanya susah.
Bagiku, ibunya adalah ibuku. Kakaknya adalah kakakku. Keponakannya adalah keponakanku.
Aku sudah terlanjur menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri.
Dan rasa-rasanya akan berat jika nanti peranku digantikan oleh perempuan lain.
Rasanya aku masih ingin membersamai keluarga mereka.
Bahkan bapak, yang hanya bisa aku temui di makam saja terasa sangat dekat denganku.
Mantanku memang brengsek, tapi keluarganya tak ada kaitan.
Dan seperti kata Ibuk, aku akan tetap menjaga hubungan baik dengan mereka meski risikonya aku harus merasakan sakit lagi.
Jadilah, aku dan kakakku memutuskan membuat camilan sederhana dengan bahan seadanya.
Kakak membuka kulkas, ternyata yang bisa kami masak hanyalah tahu.
Tak berlama-lama, kakak segera memotong tahu menjadi dadu kecil-kecil, lalu mengocoknya dengan tepung bumbu.
Di tengah keasyikan kami menggoreng tahu, tiba-tiba ponselnya berdering.
Sayang sekali, kakak harus menemui temannya saat itu juga.
Sebenarnya kami cukup was-was, tak hanya karena hujan, tapi juga karena ia harus keluar rumah di tengah-tengah pandemi seperti ini.
Namun apadaya, ia bersikeras harus menemui temannya sebentar untuk mengambil barang.
Tugas menggoreng pun diambil alih oleh ibuk.
Belakangan ini, aku punya banyak waktu untuk mengobrol dengan ibuk, lantaran aku diharuskan bekerja dari rumah.
Namun, biasanya kami hanya membicarakan hal-hal di sekitar kami atau seputaran covid-19 yang sekarang ini menjadi momok besar.
"Kamu kapan nikah?" Tanya ibuk tanpa tedeng aling-aling.
Aku yang sedang menyeruput kopi panas mendadak tergagap mendengar pertanyaan ibuk.
Jujur aku bingung harus menjawab apa.
Tak bisa dipungkiri di usiaku sekarang ini, sudah besar keinginanku untuk memiliki keluarga laiknya teman-temanku.
Namun di lain sisi, aku masih belum sembuh betul dari lukaku sebelumnya.
"Santai ih buk, kakak juga belum." Jawabku mencoba tenang.
"Kamu wedok, nduk. Nglangkahi pun Ndak masalah." Sanggah Ibuk.
Aku diam mendengar kata-kata Ibuk barusan.
Suasana hening, sesekali terdengar suara minyak memercik dari teflon yang digunakan untuk menggoreng tahu.
Aku sedikit melamunkan kisahku yang gagal kemarin.
"Andai Ibuk tahu sakit yang aku rasakan kemarin," kataku dalam hati.
Orangtuaku sudah tahu kalau hubunganku telah kandas, tapi mereka tak cukup tahu penyebab hubunganku harus berakhir.
Aku sudah dalam sekali mencintai seorang pria, yang ternyata justru memberikan luka batin yang teramat sangat.
Pengkhianatan, kata-kata kasar, ketidakpedulian, dibuang begitu saja. Semua hal-hal buruk itu masih saja membayang di kepala, meski kadang sedikit mereda.
Herannya, meski sudah sesakit ini, aku masih sering merindukan lelaki brengsek itu.
Bahkan aku masih membayangkan kisah kami akan terangkai kembali.
Aku menghela napas panjang sebelum menjawab sanggahan ibuk.
"Buk, nggak usah kesusu ya. Aku kemarin sama mas mantan juga kesusu, jadinya kan kandas. Kali ini aku nggak mau kesusu lagi, buk." Jawabku.
Tanpa diduga, Ibuk justru memberikan penilaian pada mantanku.
Padahal selama ini Ibuk tidak pernah menilai dia.
"Katamu mantannya dia cantik-cantik to nduk. Memang bukan buatmu, dia playboy." Ucap ibuk.
Aku melongo mendengar kata-kata Ibuk barusan, darimana Ibuk tahu kalau mantanku player.
Ah, tapi sebisa mungkin aku tidak menjelekkannya di depan Ibuk.
Bagaimanapun dia pernah jadi sumber kebahagiaanku dulu.
"Yang udah ya udah buk. Kami sama-sama salah. Tapi sebenarnya aku eman-eman buk, karena sudah terlanjur dekat dengan keluarganya." Kataku menatap cangkir kopi yang hampir kosong.
"Loh, ndak masalah kok kalau kamu masih menjalin kedekatan dengan keluarganya. Kalau musuhan malah jadi masalah." Kata Ibuk sambil menyerok tahu yang sudah matang.
Aku menatap Ibuk yang posisi duduknya membelakangiku.
Jujur saja, aku tak menyangka ibuku akan berbicara seperti ini.
Aku sungguh merasa bersyukur karena Ibuk punya pandangan sebaik ini, meski tahu mantanku player.
Aku tidak bohong, salah satu hal paling berat yang aku rasakan setelah putus dengannya adalah hubunganku dengan keluarganya jadi terbatas.
Aku tidak bisa lagi leluasa mengunjungi keluarganya, menemani keponakannya bermain, bahkan untuk sekedar video call saja rasanya susah.
Bagiku, ibunya adalah ibuku. Kakaknya adalah kakakku. Keponakannya adalah keponakanku.
Aku sudah terlanjur menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri.
Dan rasa-rasanya akan berat jika nanti peranku digantikan oleh perempuan lain.
Rasanya aku masih ingin membersamai keluarga mereka.
Bahkan bapak, yang hanya bisa aku temui di makam saja terasa sangat dekat denganku.
Mantanku memang brengsek, tapi keluarganya tak ada kaitan.
Dan seperti kata Ibuk, aku akan tetap menjaga hubungan baik dengan mereka meski risikonya aku harus merasakan sakit lagi.
Minggu, 16 Februari 2020
Sakjege
Pagi ini, matahari masih mengintip malu-malu di ufuk timur ketika langkah kakiku makin kupercepat.
Jam 6 kurang 5 menit tepatnya, aku tergesa menyusuri jalan yang sedikit becek bekas hujan semalam.
Padahal jam 6, peribadatan harus sudah dimulai.
Aku tugas menjadi Lektor pagi ini, namun anehnya aku belum tahu harus membaca kitab, pasal, dan ayat apa.
Menit-menit terakhir menjelang ibadah dimulai, barulah aku diberi tahu tugasku.
Huft, nyaris saja.
Meski sedikit kelimpungan, aku berusaha sebaik mungkin membaca bagianku.
Peribadatan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya.
Kebetulan gereja kami kedatangan tamu dari gereja lain di Tangerang.
Singkat cerita, rombongan dari Tangerang rupanya sudah menyiapkan persembahan pujian.
Ada 2 buah pujian yang dibawakan.
Pujian yang pertama tentang kasih, sedang pujian yang kedua mereka membawakan lagu berbahasa Jawa berjudul Sakjege.
Lagu tersebut berirama riang, aransemennnya membuat siapa saja yang mendengarnya ingin ikut bergoyang.
Namun anehnya, mendadak aku merasa haru mendengar lagu tersebut.
Kepala meliuk ke kanan dan ke kiri mengikuti iramanya, tapi kedua mataku menitikkan air mata.
Lagu yang sudah ku kenal sejak masih kecil.
Namun baru kali ini aku benar-benar menghayati liriknya yang ternyata dalam.
Terlebih beberapa waktu ini, keadaanku sedang sangat kacau dan butuh penyemangat.
Lagu ini mengingatkanku tentang keberuntunganku bisa mengikut Yesus.
Seharusnya hidupku bahagia, seharusnya hidupku tentram.
Ya, jika aku memilih untuk bersyukur dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidupku.
Namun nyatanya, seringkali aku lelah sendiri berperang dengan keadaan.
Seringkali aku sudah mengeluh bahkan sebelum memulai.
Seringkali aku bebal, tetap mengikat sesuatu yang berpotensi besar melukai diri.
Lagu ini menyadarkanku untuk mengingat-ingat lagi kasih yang sudah Yesus berikan.
Mensyukuri lagi berkat yang sudah Ia sediakan selama ini.
Dan yang utama, melepaskan sesuatu yang bisa membuatku terluka.
Karena dari rasa ikhlas dan rela, rasa bahagia bisa tercipta.
Jam 6 kurang 5 menit tepatnya, aku tergesa menyusuri jalan yang sedikit becek bekas hujan semalam.
Padahal jam 6, peribadatan harus sudah dimulai.
Aku tugas menjadi Lektor pagi ini, namun anehnya aku belum tahu harus membaca kitab, pasal, dan ayat apa.
Menit-menit terakhir menjelang ibadah dimulai, barulah aku diberi tahu tugasku.
Huft, nyaris saja.
Meski sedikit kelimpungan, aku berusaha sebaik mungkin membaca bagianku.
Peribadatan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya.
Kebetulan gereja kami kedatangan tamu dari gereja lain di Tangerang.
Singkat cerita, rombongan dari Tangerang rupanya sudah menyiapkan persembahan pujian.
Ada 2 buah pujian yang dibawakan.
Pujian yang pertama tentang kasih, sedang pujian yang kedua mereka membawakan lagu berbahasa Jawa berjudul Sakjege.
Lagu tersebut berirama riang, aransemennnya membuat siapa saja yang mendengarnya ingin ikut bergoyang.
Namun anehnya, mendadak aku merasa haru mendengar lagu tersebut.
Kepala meliuk ke kanan dan ke kiri mengikuti iramanya, tapi kedua mataku menitikkan air mata.
Lagu yang sudah ku kenal sejak masih kecil.
Namun baru kali ini aku benar-benar menghayati liriknya yang ternyata dalam.
Terlebih beberapa waktu ini, keadaanku sedang sangat kacau dan butuh penyemangat.
Lagu ini mengingatkanku tentang keberuntunganku bisa mengikut Yesus.
Seharusnya hidupku bahagia, seharusnya hidupku tentram.
Ya, jika aku memilih untuk bersyukur dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidupku.
Namun nyatanya, seringkali aku lelah sendiri berperang dengan keadaan.
Seringkali aku sudah mengeluh bahkan sebelum memulai.
Seringkali aku bebal, tetap mengikat sesuatu yang berpotensi besar melukai diri.
Lagu ini menyadarkanku untuk mengingat-ingat lagi kasih yang sudah Yesus berikan.
Mensyukuri lagi berkat yang sudah Ia sediakan selama ini.
Dan yang utama, melepaskan sesuatu yang bisa membuatku terluka.
Karena dari rasa ikhlas dan rela, rasa bahagia bisa tercipta.
Sabtu, 15 Februari 2020
Cinta dan Jatuh
Berani cinta, harus berani menanggung risiko jatuh. Begitulah yang aku rasakan belakangan.
Ketika seseorang yang ku kira akan berdampingan denganku di altar kelak, justru memilih pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Aku mengenalnya hampir 2 tahun lalu, ketika aku sendiri sedang berusaha move on dari luka lama.
Dia datang menawarkan cinta, di saat hatiku kian bebal bertahan pada luka sebelumnya.
Banyak pria yang mencoba menyembuhkan luka itu, tapi aku justru tak peduli.
Semakin didekati, aku justru makin risih.
Tapi pria yang satu ini beda.
Ia baru ku kenal, tapi rasa-rasanya sudah seperti kenal lama.
Tak butuh waktu lama buat kami saling mengenal, memutuskan bertemu, hingga memutuskan menjalin hubungan.
Kalau boleh jujur, dia pacar pertamaku.
Di usia yang sudah seperempat abad, aku baru pertama kali menjalin ikatan dengan pria.
Meski sebelumnya pernah patah berkali-kali tanpa menjalin hubungan.
Bagiku, pria yang bisa membuatku move on dari luka lama adalah orang yang istimewa.
Dan entah kenapa, aku yakin dia yang akan membersamaiku sampai kelak kami menua, hingga kembali menjadi debu.
Aku punya komitmen untuk pacaran hanya sekali seumur hidup.
Dan ku rasa, pria dengan masa lalu yang kelam ini cocok untuk kutemani minum kopi di masa tuanya kelak.
Begitu sedikit bayanganku, begitulah harapanku.
Namun ternyata, tepat seperti apa yang ia ucapkan setelah mengucap kata putus.
"Tidak semua hal yang kamu inginkan, bisa terpenuhi."
Ya, dia tidak bisa menepati janjinya untuk menghabiskan sisa hidupnya denganku.
Dia tidak bisa memenuhi keinginanku untuk pacaran sekali seumur hidup.
Dia akhirnya memilih pergi, tanpa ada pertemuan terlebih dulu.
Ini menyakitkan, sungguh.
Selama bersama, kami memang banyak masalah, tapi banyak pula kebahagiaan yang bisa kami bagi.
Tawanya adalah bahagiaku, sakitnya adalah lukaku.
Bukankah cekcok dalam sebuah hubungan adalah hal biasa, seharusnya kami bisa mengatasinya?
Bukan memilih lepas tangan dan justru meninggalkan.
Aku hancur ketika harapan-harapan kecil yang kubangun perlahan, ia runtuhkan begitu saja.
Katanya, "di luar sana masih banyak lelaki yang lebih baik dari aku."
Ya tentu saja, dia hanya salah satu dari sekian banyaknya lelaki brengsek yang pernah masuk ke kehidupanku.
Semudah itu bagi dia meninggalkanku.
Semudah itu dia membuatku cinta, lalu menjatuhkannya begitu saja.
Dia hanya mengenalkan arti kebersamaan, tanpa mengajarkanku apa itu arti perpisahan.
Andai aku bisa mengontrol diri, aku tidak akan pernah memilih jatuh cinta dengannya.
Nyatanya, di tangannya, hatiku bukannya sembuh malah semakin hancur.
Ketika seseorang yang ku kira akan berdampingan denganku di altar kelak, justru memilih pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Aku mengenalnya hampir 2 tahun lalu, ketika aku sendiri sedang berusaha move on dari luka lama.
Dia datang menawarkan cinta, di saat hatiku kian bebal bertahan pada luka sebelumnya.
Banyak pria yang mencoba menyembuhkan luka itu, tapi aku justru tak peduli.
Semakin didekati, aku justru makin risih.
Tapi pria yang satu ini beda.
Ia baru ku kenal, tapi rasa-rasanya sudah seperti kenal lama.
Tak butuh waktu lama buat kami saling mengenal, memutuskan bertemu, hingga memutuskan menjalin hubungan.
Kalau boleh jujur, dia pacar pertamaku.
Di usia yang sudah seperempat abad, aku baru pertama kali menjalin ikatan dengan pria.
Meski sebelumnya pernah patah berkali-kali tanpa menjalin hubungan.
Bagiku, pria yang bisa membuatku move on dari luka lama adalah orang yang istimewa.
Dan entah kenapa, aku yakin dia yang akan membersamaiku sampai kelak kami menua, hingga kembali menjadi debu.
Aku punya komitmen untuk pacaran hanya sekali seumur hidup.
Dan ku rasa, pria dengan masa lalu yang kelam ini cocok untuk kutemani minum kopi di masa tuanya kelak.
Aku sudah membayangkan kami menikah, punya anak lucu bernama Lintang Marleyani, hidup di dusun yang jauh dari keramaian, setiap akhir pekan menghabiskan waktu di atas bukit menikmati sepoinya angin, ketika sedikit menua gitaran sambil menyeruput kopi di teras tiap senja datang, lalu ketika masa pensiun datang kami hanya bercengkerama berdua menceritakan ulang ingatan-ingatan kami di masa muda.
Begitu sedikit bayanganku, begitulah harapanku.
Namun ternyata, tepat seperti apa yang ia ucapkan setelah mengucap kata putus.
"Tidak semua hal yang kamu inginkan, bisa terpenuhi."
Ya, dia tidak bisa menepati janjinya untuk menghabiskan sisa hidupnya denganku.
Dia tidak bisa memenuhi keinginanku untuk pacaran sekali seumur hidup.
Dia akhirnya memilih pergi, tanpa ada pertemuan terlebih dulu.
Ini menyakitkan, sungguh.
Selama bersama, kami memang banyak masalah, tapi banyak pula kebahagiaan yang bisa kami bagi.
Tawanya adalah bahagiaku, sakitnya adalah lukaku.
Bukankah cekcok dalam sebuah hubungan adalah hal biasa, seharusnya kami bisa mengatasinya?
Bukan memilih lepas tangan dan justru meninggalkan.
Aku hancur ketika harapan-harapan kecil yang kubangun perlahan, ia runtuhkan begitu saja.
Katanya, "di luar sana masih banyak lelaki yang lebih baik dari aku."
Ya tentu saja, dia hanya salah satu dari sekian banyaknya lelaki brengsek yang pernah masuk ke kehidupanku.
Semudah itu bagi dia meninggalkanku.
Semudah itu dia membuatku cinta, lalu menjatuhkannya begitu saja.
Dia hanya mengenalkan arti kebersamaan, tanpa mengajarkanku apa itu arti perpisahan.
Andai aku bisa mengontrol diri, aku tidak akan pernah memilih jatuh cinta dengannya.
Nyatanya, di tangannya, hatiku bukannya sembuh malah semakin hancur.
Senin, 10 Februari 2020
Putus
Aku sering merapalkan doa-doa
Juga sering mengikrarkan janji
Di hadapanmu
Tapi maaf, nyatanya aku pelaku pematah janji-janjiku sendiri
Maaf, lagi-lagi aku membuat kecewa
Maaf, aku tak bisa menjadi anak perempuanmu
Bapak...
Minggu, 02 Februari 2020
Gloomy Valentine
"Happy Valentine," katamu sambil menyodorkan bungkusan putih tepat di depan mataku.
Aku tersentak kaget.
Reseptor otakku yang tak cukup peka ini butuh waktu beberapa detik untuk mentransfer kata-katamu menjadi makna yang bisa ku mengerti.
Tapi refleks tanganku begitu cepat.
Langsung ku raih bungkusan itu.
"Makasih," ucapku lirih.
Kuingat-ingat, beberapa menit lalu aku masih di toilet pom bensin.
Sedikit bercermin memastikan penampilanku paling tidak sudah lumayan.
Begitu keluar, hanya ada sepeda motor dan 2 helm kami nangkring di atasnya.
Kemana dia?
Aku duduk saja, menunggu di depan toilet.
Ah, ternyata dia ada di mini market pom bensin.
Aku tidak kepikiran sama sekali dia membelikanku sebungkus plastik putih berisi susu cokelat dan sekotak pocky.
Ketika motor melaju aku mulai senyum-senyum sendiri.
"Gila ya, dia bisa berlaku manis," gumamku.
Lalu aku mengingat beberapa jam sebelumnya.
Aku senang sekali ketika dia bilang akan bertandang ke rumah.
Sinyal bahagiaku bahkan sampai ke Ibuk tanpa aku bilang.
Semangat sekali aku mandi sambil mendendangkan lagu JKT48 Aitakatta.
Yak, tak butuh waktu lama aku sudah siap berangkat.
Cacing di perutku juga sudah mulai berontak sedari pagi tak diberi asupan.
5 menit...10 menit... 15 menit... Aku masih santai membaca Webtoon.
Tapi setelah setengah jam aku mulai gelisah.
Apalagi setelah satu jam, ragaku sudah berpindah ke depan TV, tapi pikiranku justru ingin memaki dia.
Kesal sekali, aku merasa dipermainkan.
Lalu ku bilang pada Ibuk tak jadi pergi.
Aku pun tak tega membiarkan cacing-cacing itu terus menggeliat, ya sudah ku beri makan saja.
Sial, pikiranku masih memaki-maki pria itu.
Lalu tiba-tiba dia muncul.
Di depan Bapak dan Ibuk.
Hatiku kacau, kesal, ingin ku pukul saja mukanya.
Mau menemui pun rasanya sudah tak perlu.
Tapi, apa kata Ibuk nanti?
Huft, dengan langkah gontai ku temui dia.
Apa-apaan dia malah senyam-senyum, tapi aku tidak bisa menolaknya.
Ah, sial memang.
Padahal tadi aku marah sekali, tapi sekarang jadi.... Arghhhhhh...
Dia itu makhluk apa sih? Nyebelin tapi juga ngangenin.
Bikin marah-marah tapi mendadak berlaku manis.
Ini sogokan kan? Susu kotak kesukaan dan sekotak Pocky.
Tapi dia harus tahu, tanpa gratifikasi pun aku tetap memaafkan.
Tapi dia juga harus tahu, aku senyum-senyum sendiri diboncengnya.
Rasanya mau meledak, bahagia sekali dihadiahi dua kotak cinta ini.
Memang, bahagiaku receh sekali, ya.
Terima kasih ❤️
(Memories 02.2019)
Senin, 27 Januari 2020
Kamis, 23 Januari 2020
Aku Belum Salim
17.55
Keterkejutanku membuncah
Tiba-tiba, bak keajaiban, ah atau orang beriman menyebutnya mujizat
Matamu terbuka, penuh, bulat seperti purnama
Bahagia bukan main
Kalau aku ilmuwan pasti sudah teriak eureka, eureka
Tak lama, tapi sungguh optimismeku meninggi
Engkau, pasti bangun
Dan aku bisa salim
20.30
Dokter yang galak itu tiba-tiba muncul
Membawa kabar bak disambar petir
Seperti ban yang kena paku, optimismeku hilang begitu saja
Katanya, harapannya makin tipis
Katanya, engkau sangat kritis
Katanya, minta yang terbaik sama Gusti
Di seberang jendela, hingar bingar pesta kembang api
Sementara engkau hanya membujur kaku di kasur
Uti, bangun
Besok raya
Aku ingin salim
Aku belum salim...
Indriati, malam raya 2019
*Uti akhirnya pergi untuk selama-lamanya 2 Juli 2019. Tepat 3 hari sebelum ulang tahunku dan 3 Minggu sebelum aku memenuhi keinginan Beliau untuk menjadi seorang pendidik :)
Keterkejutanku membuncah
Tiba-tiba, bak keajaiban, ah atau orang beriman menyebutnya mujizat
Matamu terbuka, penuh, bulat seperti purnama
Bahagia bukan main
Kalau aku ilmuwan pasti sudah teriak eureka, eureka
Tak lama, tapi sungguh optimismeku meninggi
Engkau, pasti bangun
Dan aku bisa salim
20.30
Dokter yang galak itu tiba-tiba muncul
Membawa kabar bak disambar petir
Seperti ban yang kena paku, optimismeku hilang begitu saja
Katanya, harapannya makin tipis
Katanya, engkau sangat kritis
Katanya, minta yang terbaik sama Gusti
Di seberang jendela, hingar bingar pesta kembang api
Sementara engkau hanya membujur kaku di kasur
Uti, bangun
Besok raya
Aku ingin salim
Aku belum salim...
Indriati, malam raya 2019
*Uti akhirnya pergi untuk selama-lamanya 2 Juli 2019. Tepat 3 hari sebelum ulang tahunku dan 3 Minggu sebelum aku memenuhi keinginan Beliau untuk menjadi seorang pendidik :)
C1
Kamu mungkin tak tahu diam-diam kuaminkan kita tatkala malam itu, kamu membawaku beribadah bersama
Kamu mungkin tak sadar, genggaman tanganmu di pantai kala hari ulang tahunku, tetap membekas hingga tahun-tahun setelahnya
Kamu mungkin tak ingat, bila kita pernah satu bangku di bus yang sama, saling bersandar berbagi lelah tatkala turun dari Kalisoro
Untuk kamu yang hanya jadi masa lalu
Terima kasih pernah mengisi hari-hari
Di tengah sibuknya mengejar skripsi, kamu menghadirkan tawa sekaligus tangis
Semoga, kita selalu karib meski semesta memilih tak menyatukan
Rabu, 22 Januari 2020
Janji
Untuk Bapak yang belum pernah ku temui, tapi serasa Bapakku sendiri
Sore itu, kami berdua pergi ke pusara Bapak
Untuk pertama kalinya dia membawaku kesana, memperkenalkanku pada sosok yang tak bisa ku sentuh wujudnya
Meski begitu, aku selalu menyimak setiap dia bercerita tentang Bapak
Dia selalu semangat bercerita tentang sosok Bapak, aku pun jadi ikut semangat mengenal beliau
Berdasarkan ceritanya, aku menyimpulkan Bapak orangnya asyik. Ngenomi dan ngayomi
Bapak juga welas asih, ngalahan, dan sayang sama keluarga
TTS yang kutemukan di rak meja rumahnya, membuatku merasa dekat dengan Bapak
Hobi kami sama, mengisi kotak-kota kosong di waktu luang
Belum lagi beragam buku tua yang berjajar rapi di rak samping televisi
Sudah pasti Bapak ini orang yang cerdas
Mau membaca, lihai bermain musik, dan punya ketertarikan di dunia pendidikan
Rasanya aku seperti berkaca pada diriku sendiri
Menemukan sosok yang sepertinya benar-benar akan cocok diajak minum teh di sore hari sambil berceloteh atau berbagi jawaban TTS
Rasanya aku seperti menemukan sesosok aku yang lain, dalam diri seorang Bapak
Meski aku belum pernah bertemu
Meski sebenarnya aku penasaran dan benar-benar ingin bertemu
Rasanya sedikit kecewa karena aku terlambat datang
Bapak dulunya seorang pendidik
Bukan di sekolah umum, melainkan sekolah luar biasa
Satu nilai tambah yang membuatku semakin mengagumi sosok beliau
Jiwa seni mengalir kental dalam darah beliau, yang pada akhirnya juga menurun ke dia
Bagiku, pria yang hidup dengan buku dan alat musik adalah tanda kejeniusan
Dan aku merasa bahagia sekali, ketika pertama kalinya dia membawaku ke pusara Bapak
Memberikan aku waktu untuk mendoakan Bapak
Juga membersihkan tempat peristirahatan Bapak
Sungguh banyak yang ingin aku ceritakan pada Bapak, tapi hanya tertahan di bibir karena malu dia ada di sampingku
Kali kedua aku mengunjungi Bapak, aku sendirian
Datang dalam keadaan berantakan
Pulang dari mengajar langsung bergegas membeli karangan bunga untuk Bapak
Kupilihkan buket berwarna hijau, karena aku yakin Bapak suka warna hijau
Sesampainya di sana, kubersihkan dulu sekitar peristirahatan Bapak
Sebelum akhirnya air mataku berjatuhan di teriknya siang
Tidak ada pohon yang mencoba melindungiku, aku menangis sejadinya di bawah sengatan sinar matahari
Kala itu, aku baru tahu kalau dia bisa sejahat itu
Aku kacau, kecewa, tak ingin lagi memberinya maaf
Satu-satunya tempat yang ingin ku tuju waktu itu adalah pusara Bapak
Entah mengapa, disana aku bercerita banyak pada Bapak
Aku merasa sosok beliau memang sedang ada di sampingku, mencoba menenangkan
Aku minta maaf pada beliau, tak bisa lagi membersamai putra kesayangannya
Aku merasa bersalah pada beliau karena tak bisa menjaga putranya dengan baik
Aku juga minta maaf karena belum bisa mengajak anaknya menjadi manusia yang lebih baik lagi
Semua rasa sakit, cemburu, kalut, cemas di hati aku keluarkan disana
Entah perasaan apa itu, tapi aku sungguh lega bisa menangis di depan pusara Bapak
Bapak, meski aku tak bisa menjadi anakmu, aku gagal memenuhi janjiku untuk menjaga putramu, aku tak bisa lagi leluasa memandangi foto Bapak,
namun suatu saat nanti aku akan menggenapi janji yang satu ini
Ngeteh sore sambil ngisi TTS bersama
Nanti ya Pak, tunggu saja
Kelak, aku pasti akan menemui Bapak, berbagi isi buku yang pernah dibaca atau justru minta diajari main gitar hehehe
Sampai jumpa Bapak, aku sayang Bapak ☺️
Sore itu, kami berdua pergi ke pusara Bapak
Untuk pertama kalinya dia membawaku kesana, memperkenalkanku pada sosok yang tak bisa ku sentuh wujudnya
Meski begitu, aku selalu menyimak setiap dia bercerita tentang Bapak
Dia selalu semangat bercerita tentang sosok Bapak, aku pun jadi ikut semangat mengenal beliau
Berdasarkan ceritanya, aku menyimpulkan Bapak orangnya asyik. Ngenomi dan ngayomi
Bapak juga welas asih, ngalahan, dan sayang sama keluarga
TTS yang kutemukan di rak meja rumahnya, membuatku merasa dekat dengan Bapak
Hobi kami sama, mengisi kotak-kota kosong di waktu luang
Belum lagi beragam buku tua yang berjajar rapi di rak samping televisi
Sudah pasti Bapak ini orang yang cerdas
Mau membaca, lihai bermain musik, dan punya ketertarikan di dunia pendidikan
Rasanya aku seperti berkaca pada diriku sendiri
Menemukan sosok yang sepertinya benar-benar akan cocok diajak minum teh di sore hari sambil berceloteh atau berbagi jawaban TTS
Rasanya aku seperti menemukan sesosok aku yang lain, dalam diri seorang Bapak
Meski aku belum pernah bertemu
Meski sebenarnya aku penasaran dan benar-benar ingin bertemu
Rasanya sedikit kecewa karena aku terlambat datang
Bapak dulunya seorang pendidik
Bukan di sekolah umum, melainkan sekolah luar biasa
Satu nilai tambah yang membuatku semakin mengagumi sosok beliau
Jiwa seni mengalir kental dalam darah beliau, yang pada akhirnya juga menurun ke dia
Bagiku, pria yang hidup dengan buku dan alat musik adalah tanda kejeniusan
Dan aku merasa bahagia sekali, ketika pertama kalinya dia membawaku ke pusara Bapak
Memberikan aku waktu untuk mendoakan Bapak
Juga membersihkan tempat peristirahatan Bapak
Sungguh banyak yang ingin aku ceritakan pada Bapak, tapi hanya tertahan di bibir karena malu dia ada di sampingku
Kali kedua aku mengunjungi Bapak, aku sendirian
Datang dalam keadaan berantakan
Pulang dari mengajar langsung bergegas membeli karangan bunga untuk Bapak
Kupilihkan buket berwarna hijau, karena aku yakin Bapak suka warna hijau
Sesampainya di sana, kubersihkan dulu sekitar peristirahatan Bapak
Sebelum akhirnya air mataku berjatuhan di teriknya siang
Tidak ada pohon yang mencoba melindungiku, aku menangis sejadinya di bawah sengatan sinar matahari
Kala itu, aku baru tahu kalau dia bisa sejahat itu
Aku kacau, kecewa, tak ingin lagi memberinya maaf
Satu-satunya tempat yang ingin ku tuju waktu itu adalah pusara Bapak
Entah mengapa, disana aku bercerita banyak pada Bapak
Aku merasa sosok beliau memang sedang ada di sampingku, mencoba menenangkan
Aku minta maaf pada beliau, tak bisa lagi membersamai putra kesayangannya
Aku merasa bersalah pada beliau karena tak bisa menjaga putranya dengan baik
Aku juga minta maaf karena belum bisa mengajak anaknya menjadi manusia yang lebih baik lagi
Semua rasa sakit, cemburu, kalut, cemas di hati aku keluarkan disana
Entah perasaan apa itu, tapi aku sungguh lega bisa menangis di depan pusara Bapak
Bapak, meski aku tak bisa menjadi anakmu, aku gagal memenuhi janjiku untuk menjaga putramu, aku tak bisa lagi leluasa memandangi foto Bapak,
namun suatu saat nanti aku akan menggenapi janji yang satu ini
Ngeteh sore sambil ngisi TTS bersama
Nanti ya Pak, tunggu saja
Kelak, aku pasti akan menemui Bapak, berbagi isi buku yang pernah dibaca atau justru minta diajari main gitar hehehe
Sampai jumpa Bapak, aku sayang Bapak ☺️
Autotomi
Untuk pria yang pernah berbagi rahasia hidupnya denganku.....
Hai! Apa kabar?
Bagaimana hidupmu setelah bebas dari aku? Pasti bahagia ya!
Ah, tentu saja kamu bahagia
Usai memutuskan hubungan secara sepihak, kamu langsung deklarasikan 'FREE!'
Hmmm, bahagia sekali ya seperti burung liar yang lepas dari sangkar
Kontras memang dengan keadaanku sekarang
Hancur boi!
Aku sudah berusaha menata ulang kisah kita, tapi lagi-lagi kamu yang merusak tatanan
Aku sudah berusaha membangun lagi rasa percaya, tapi kamu malah asyik terpikat dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia
Apa bagimu, hidup hanya tentang bersenang-senang saja?
Kalian sama saja, tidak tahu menghargai diri sendiri dan orang lain!
Aku patah Boi, bak buntut cicak
Tapi tak apa, aku sedang melindungi diriku sendiri dari rasa sakit yang lebih parah
Aku bersedih, hingga kini masih
Aku marah tiap ingat kata-katamu yang merendahkanku
Aku kecewa, merasa salah ambil keputusan memberimu kesempatan kedua, kala itu
Aku kesal karena untuk bertemu terakhir kali saja, kau tak sudi padahal sudah membuat janji
Boi, kamu hanya memikirkan rasa sakitmu sendiri
Sementara sakitku?
Jika bagimu aku salah, bukankah seharusnya masih ada pintu maaf?
Aku memberimu kesempatan lagi, kenapa kau tidak bisa?
Tadinya. Ku pikir begitu. Kau memberi maaf, lalu kita kembali
Tapi kupikir-pikir lagi, memang sepertinya aku tak mampu lagi membersamaimu
Aku lelah sendiri jika harus selalu mengalah, juga menuruti egomu yang sebesar gunung
Aku sadar, ada saatnya aku harus menjadi cicak untuk diriku sendiri
Melepaskan sesuatu yang berharga demi tetap bertahan
Nanti, suatu saat akan tumbuh lagi semakin kuat
Hai! Apa kabar?
Bagaimana hidupmu setelah bebas dari aku? Pasti bahagia ya!
Ah, tentu saja kamu bahagia
Usai memutuskan hubungan secara sepihak, kamu langsung deklarasikan 'FREE!'
Hmmm, bahagia sekali ya seperti burung liar yang lepas dari sangkar
Kontras memang dengan keadaanku sekarang
Hancur boi!
Aku sudah berusaha menata ulang kisah kita, tapi lagi-lagi kamu yang merusak tatanan
Aku sudah berusaha membangun lagi rasa percaya, tapi kamu malah asyik terpikat dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia
Apa bagimu, hidup hanya tentang bersenang-senang saja?
Kalian sama saja, tidak tahu menghargai diri sendiri dan orang lain!
Aku patah Boi, bak buntut cicak
Tapi tak apa, aku sedang melindungi diriku sendiri dari rasa sakit yang lebih parah
Aku bersedih, hingga kini masih
Aku marah tiap ingat kata-katamu yang merendahkanku
Aku kecewa, merasa salah ambil keputusan memberimu kesempatan kedua, kala itu
Aku kesal karena untuk bertemu terakhir kali saja, kau tak sudi padahal sudah membuat janji
Boi, kamu hanya memikirkan rasa sakitmu sendiri
Sementara sakitku?
Jika bagimu aku salah, bukankah seharusnya masih ada pintu maaf?
Aku memberimu kesempatan lagi, kenapa kau tidak bisa?
Tadinya. Ku pikir begitu. Kau memberi maaf, lalu kita kembali
Tapi kupikir-pikir lagi, memang sepertinya aku tak mampu lagi membersamaimu
Aku lelah sendiri jika harus selalu mengalah, juga menuruti egomu yang sebesar gunung
Aku sadar, ada saatnya aku harus menjadi cicak untuk diriku sendiri
Melepaskan sesuatu yang berharga demi tetap bertahan
Nanti, suatu saat akan tumbuh lagi semakin kuat
(21.01.2020)
Langganan:
Postingan (Atom)








