Minggu, 02 Februari 2020
Gloomy Valentine
"Happy Valentine," katamu sambil menyodorkan bungkusan putih tepat di depan mataku.
Aku tersentak kaget.
Reseptor otakku yang tak cukup peka ini butuh waktu beberapa detik untuk mentransfer kata-katamu menjadi makna yang bisa ku mengerti.
Tapi refleks tanganku begitu cepat.
Langsung ku raih bungkusan itu.
"Makasih," ucapku lirih.
Kuingat-ingat, beberapa menit lalu aku masih di toilet pom bensin.
Sedikit bercermin memastikan penampilanku paling tidak sudah lumayan.
Begitu keluar, hanya ada sepeda motor dan 2 helm kami nangkring di atasnya.
Kemana dia?
Aku duduk saja, menunggu di depan toilet.
Ah, ternyata dia ada di mini market pom bensin.
Aku tidak kepikiran sama sekali dia membelikanku sebungkus plastik putih berisi susu cokelat dan sekotak pocky.
Ketika motor melaju aku mulai senyum-senyum sendiri.
"Gila ya, dia bisa berlaku manis," gumamku.
Lalu aku mengingat beberapa jam sebelumnya.
Aku senang sekali ketika dia bilang akan bertandang ke rumah.
Sinyal bahagiaku bahkan sampai ke Ibuk tanpa aku bilang.
Semangat sekali aku mandi sambil mendendangkan lagu JKT48 Aitakatta.
Yak, tak butuh waktu lama aku sudah siap berangkat.
Cacing di perutku juga sudah mulai berontak sedari pagi tak diberi asupan.
5 menit...10 menit... 15 menit... Aku masih santai membaca Webtoon.
Tapi setelah setengah jam aku mulai gelisah.
Apalagi setelah satu jam, ragaku sudah berpindah ke depan TV, tapi pikiranku justru ingin memaki dia.
Kesal sekali, aku merasa dipermainkan.
Lalu ku bilang pada Ibuk tak jadi pergi.
Aku pun tak tega membiarkan cacing-cacing itu terus menggeliat, ya sudah ku beri makan saja.
Sial, pikiranku masih memaki-maki pria itu.
Lalu tiba-tiba dia muncul.
Di depan Bapak dan Ibuk.
Hatiku kacau, kesal, ingin ku pukul saja mukanya.
Mau menemui pun rasanya sudah tak perlu.
Tapi, apa kata Ibuk nanti?
Huft, dengan langkah gontai ku temui dia.
Apa-apaan dia malah senyam-senyum, tapi aku tidak bisa menolaknya.
Ah, sial memang.
Padahal tadi aku marah sekali, tapi sekarang jadi.... Arghhhhhh...
Dia itu makhluk apa sih? Nyebelin tapi juga ngangenin.
Bikin marah-marah tapi mendadak berlaku manis.
Ini sogokan kan? Susu kotak kesukaan dan sekotak Pocky.
Tapi dia harus tahu, tanpa gratifikasi pun aku tetap memaafkan.
Tapi dia juga harus tahu, aku senyum-senyum sendiri diboncengnya.
Rasanya mau meledak, bahagia sekali dihadiahi dua kotak cinta ini.
Memang, bahagiaku receh sekali, ya.
Terima kasih ❤️
(Memories 02.2019)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar