Jumat, 18 Juni 2021

Covid 2021

"Tidak ada orang normal yang mengharapkan keluarganya cilaka atau kena wabah"

Keluarga besar kami, yang sebenarnya tidak terlalu besar merasa bersyukur karena tahun ini bisa melewati momen lebaran sewajarnya seperti keluarga lain.

Sebelumnya, biar ku perkenalkan dulu keluarga besarku satu per satu urut dari sesepuh

- Kakek, usianya mendekati 80 tahun. Seperti orang zaman dulu pada umumnya, beliau sangat kolot. Meskipun giginya tinggal dua, hobinya tetap sama, makan sate kambing

- Alm Nenek. Orang kedua yang dipanggil Tuhan di keluarga besarku. Pecah pembuluh karena darah tinggi, padahal riwayatnya darah rendah. Berpulang tepat 3 hari sebelum ulang tahunku yang 26, 2019 silam. Tepat saat pacarku sedang brengsek-brengseknya membiarkan aku sedih sendiri.

- Bapak. Orang ketiga yang dipanggil Tuhan, tahun lalu. Tiga hari setelah kematian sang maestro ambyar Didi Kempot. Sudah ditinggal kekasih, ditinggal Bapak pula. Merana sekali nasibku.

- Om. Orang pertama yang dipanggil Tuhan tahun 2018 silam. Awalan yang sungguh tragis karena tahun-tahun berikutnya, keluarga kami dipanggil satu persatu hingga tahun 2020.

- Ibu. Tahun ini terindikasi covid-19 dari gejala lemah lesu lunglai yang ditunjukkan. Tapi hasil atigen menunjukkan negatif. Sembah Gusti.

- Bulik. Tahun ini mondok di Puskesmas. Gejala yang ditunjukkan sama dengan Ibu, tapi hasil rapid menunjukkan negatif.

- Kakak. Orang pertama di keluargaku yang positif covid-19. Sedang karantina mandiri di kamar kos depan rumah. Sebulan lagi akan menikahi pujaan hatinya.

- Sepupu 1. Sempat sakit meriang beberapa hari, tapi sekarang sudah sehat.

- Aku. Sudah vaksin, masih ambyar (wkwk canda). Sudah balikan sama mantan yang pernah brengsek. Sama seperti Ibu, negatif covid-19. Bedanya, aku sehat tidak bergejala. Masih tetap bekerja meski dirasani. (Hadehhh, kerjo dirasani nganggur samsoyo)

- Sepupu 2. Sempat sakit, tapi sudah membaik. Konon katanya diberi ramuan cinta kekasihnya yang anak santri Ponorogo. Canda deng, dikasih bawang lanang. Hmmm, macam di Jerman ya, benda ada gendernya.

- Sepupu 3. Sempat sakit juga, sudah membaik. Idem di atas.


Jadi, awalnya kami kesebelasan. Sekarang tinggal berdelapan saja.

Kilas balik sedikit, lebaran tahun ini sekaligus dirayakan sebagai momen syukuran keluarga kami.

Karena tahun-tahun sebelumnya, kami selalu menghabiskan waktu puasa atau lebaran di rumah sakit.

Tiga kali syawalan sekaligus mengawal kematian orang-orang terkasih di rumah sakit tentu meninggalkan trauma tersendiri bagi keluarga kami.

Makanya, tidak heran jika kami cukup deg-degan menyambut momen lebaran tahun ini.

Dan setelah lewat masa puasa, sukacita sekali karena kami berhasil melewatinya tanpa harus menginap di rumah sakit.

Fix 13 Mei 2021, kami Madang Geden di rumah kakek.

Tapi kebahagiaan tersebut nyatanya hanya berlangsung sekejap.

Sebulan setelah lebaran, satu per satu anggota keluarga merasakan sakit.

Gejalanya sama semua. Seperti kena pageblug.

Kalau boleh jujur, hanya aku saja yang terlihat sehat. Mungkin efek sudah vaksin.

Kakakku sekarang sedang karantina mandiri, padahal kurang dari sebulan dia akan menikah. Ibuku juga masih lemas, malas ngapa-ngapain.

Aku sendiri sebenarnya juga bingung, harus ikut isolasi atau tidak?

Tapi kalau ikut isolasi, siapa yang mengisikan galon nanti? Siapa yang mengurus rapor di sekolah? Siapa yang mengesahkan undang-undang? Ya, presidenlah! 

Sekarang kami hanya bisa berharap, semoga tahun ini bisa terlewati dengan baik seperti 2017, 2016, 2015, 2014, .... lalu

Syukur, kami masih baik-baik saja meski ada yang positif

Tetangga kami baik semua menyediakan apa yang sekiranya kami perlu

Tapi tetap saja harus siap mental karena, banyak omongan yang mestinya tak perlu didengar

Sudah nggak ikut bantu, malah nyinyir (duhhh, keceplosan)


Stay safe, stay healthy

Jangan kendor minum vitamin

Ayo tetap hidup 💪 

Rabu, 19 Mei 2021

Kembali ke Awal

 "Pada akhirnya...Ini semua, hanyalah permulaan"

Penggalan lirik lagu Beranjak Dewasa milik Nadin Amizah yang memang deep meaning

Semua hanya permulaan bagi kita untuk melangkah ke jalur masing-masing

Tapi kalau kamu tidak hadir waktu itu, permulaan ini tidak akan pernah dimulai

Jadi, terima kasih ku ucapkan

Kamu dulu ada saat aku belum begitu paham apa itu eros

Kamu yang mengenalkanku emotikon-emotikon baru yang wajarnya dikirim sepasang kekasih

Kita yang pernah mencoba membuat sejarah berkirim pesan melalui email

Layaknya "kenapa harus pilih yang mudah kalau ada yang sulit?"

Begitulah kita, dulu. Sungguh aneh memang.

Seiring waktu, kita memilih jalan yang berbeda

Awalnya sungguh canggung

Kita berpisah tanpa kata pisah

Tapi setelah saling menemukan, rasa aneh itu lenyap

Menjadi teman seperti awal mula memang sudah takdir kita

Sekali lagi, terima kasih untuk semua

Turut berbahagia untuk kekasih barumu

Semoga, yang kedua ini sekaligus akhir dari pencarianmu


Jumat, 19 Maret 2021

KUTUK

Dari awal sudah kuperingatkan

Sekali masuk kehidupanku

Selamanya kamu terjebak dalam puisi

Senin, 11 Januari 2021

Bapak

Pak,

Ingatanku masih bagus meski peristiwa itu terjadi berpuluh tahun lalu

Kala itu, aku masih kelas 2 SD

Ranking 1 seperti biasa

Ku tagih hadiah seperti anak lainnya

Temanku ranking 5

Dapat hadiah tas ransel koper yang kala itu sedang jadi tren

Aku yang ranking 1 hanya minta dosgrip bergambar Pikachu kesukaanku

Tapi nampaknya, kau pun tak cukup rupiah untuk mengabulkan pintaku

Bapakku bukan PNS atau buruh yang menerima gaji bulanan atau mingguan

Bapakku hanya pamong kelurahan dengan gaji sepetak sawah

Sawah yang hanya bisa dipanen 4 bulan sekali

Itu pun belum pasti, bisa jadi dimakan hama

Wajar saja bila kami sering hidup berkekurangan

Wajar saja bila bapak tak bisa membelikanku dosgrip Pikachu

Tapi ternyata bapakku tak menyerah

Meski tanpa gaji, bapakku termasuk golongan elit di desa karena profesinya

Tapi di terik itu, selepas kerja di kelurahan, bapak tak malu ikut nukang di rumah tetangga

Semata-mata untuk membelikanku dosgrip Pikachu

Aku yang kala itu masih kecil, belum mengerti sama sekali 

Yang aku tahu hanya senang tiada tara karena dosgrip Pikachu sudah jatuh ke tanganku


Beranjak SMP kehidupan kami tak kunjung membaik

Aku yang mulai mengerti status sosial, sering merasa minder bersanding dengan kawan-kawan kotaku

Jelas sekali ketika berkunjung ke rumah mereka, aku merasa kagum dengan kamar atau bahkan TV yang mereka miliki

Aku sangat takut kalau-kalau mereka berkunjung balik ke rumahku

Aku bahkan bingung harus mendudukkan mereka dimana

Masa SMP begitu sulit untukku

Aku harus mengayuh sepedaku sejauh belasan kilo pulang pergi ke sekolah

Tak ada kendaraan bermotor di rumah

Bahkan saat ambil rapor pun, bapak mengayuh ontel hitamnya

Aku sempat malu takut dilihat teman-teman

Tapi sekarang aku sudah paham betul apa itu pengorbanan


SMA, semakin jauh jaraknya dari rumah

Aku sempat kesal dengan bapak yang secara sepihak memutuskan aku harus masuk ke SMA pilihannya

Padahal beliau tahu betul mati-matian aku berjuang belajar siang malam hanya untuk masuk ke SMA favoritku

Usahaku tidak sia-sia, nilaiku cukup, lebih dari cukup malah

Tapi bapak justru memasukkanku ke sekolah pilihannya 

Dengan setengah hati aku belajar disana

Tapi entah mengapa nilaiku masih saja bagus

Setiap pagi-pagi sekali bapak mengantarku dengan Kharismanya, motor bekas yang masih ada hingga sekarang

Nanti siang hari, bapak pula yang menjemputku sepulang kerja di kelurahan

Rutinitas ini berjalan kira-kira satu tahun hingga aku akhirnya punya SIM dan boleh berkendara sendiri ke sekolah

Dengan Kharisma si kuda besi hitam tentunya


Semakin dewasa, semakin jauh dari bapak

Bukan jarak, hanya saja aku terlalu idealis dan sering memberontak

Bapak tak banyak bicara seperti ibu

Ia lebih sering diam dan menyendiri di sudut kamarnya

Dulu sebelum ada android, beliau kerap menghabiskan waktu untuk mengisi TTS denganku

Aku juga sering menunggu kepulangannya di depan rumah hanya untuk membaca koran yang ia bawa dari kelurahan

Tak selalu beruntung setiap hari membawa koran, namun aku bersyukur masa kecilku tak kekurangan asupan baca 

Tapi yang paling kutunggu tentu saja kolom TTS yang ada di koran

Ya, bapaklah yang menularkan hobinya mengisi TTS kepadaku

Bapak jugalah yang membuatku jadi termotivasi membaca berbagai jenis tulisan

Banyak sekali kenangan indahku bersama beliau

Membakar jerami di tengah sawah yang gelap gulita, sayang sekali waktu itu aku belum tahu apa itu milky way

Yang aku tahu hanyalah langit yang sangat indah karena kaya akan ribuan bintang

Mandi air diesel di sawah juga jadi pengalaman tak terlupakan bersama beliau

Juga ngopi bersama setiap petang tiba di teras rumah sambil menikmati suara jangkrik

Meski terkesan cuek dan sering membuat jengkel ibu, bapakku sebenarnya orang yang penuh kasih

Beliau mengajari sesuatu dengan tindakan, tidak hanya teori saja

Sayangnya, ada satu kebiasaannya yang sangat aku tidak sukai

M e r o k o k.

Sampai kapanpun aku tidak akan meniru kebiasaan buruknya itu

Tapi bagaimanapun kebiasaan buruk itu kesukaan bapakku

Bahkan kesukaannya itulah yang merenggut nyawanya sendiri 

Tragis

Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi bila itu sudah menjadi favoritnya

Aku tidak membenci perokok

Aku tidak benci rokok

Bapak memilih jalannya sendiri 

Bapak orang merdeka jadi aku tidak menyalahkan pilihannya

Selamat ya Pak, sekarang sudah bisa sebat setiap waktu tanpa batas dan risiko

Salam buat teman-teman barumu disana, Pak :)