Minggu, 16 Februari 2020

Sakjege

Pagi ini, matahari masih mengintip malu-malu di ufuk timur ketika langkah kakiku makin kupercepat.
Jam 6 kurang 5 menit tepatnya, aku tergesa menyusuri jalan yang sedikit becek bekas hujan semalam.
Padahal jam 6, peribadatan harus sudah dimulai.
Aku tugas menjadi Lektor pagi ini, namun anehnya aku belum tahu harus membaca kitab, pasal, dan ayat apa.
Menit-menit terakhir menjelang ibadah dimulai, barulah aku diberi tahu tugasku.
Huft, nyaris saja.
Meski sedikit kelimpungan, aku berusaha sebaik mungkin membaca bagianku.
Peribadatan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya.
Kebetulan gereja kami kedatangan tamu dari gereja lain di Tangerang.
Singkat cerita, rombongan dari Tangerang rupanya sudah menyiapkan persembahan pujian.
Ada 2 buah pujian yang dibawakan.
Pujian yang pertama tentang kasih, sedang pujian yang kedua mereka membawakan lagu berbahasa Jawa berjudul Sakjege.
Lagu tersebut berirama riang, aransemennnya membuat siapa saja yang mendengarnya ingin ikut bergoyang.
Namun anehnya, mendadak aku merasa haru mendengar lagu tersebut.
Kepala meliuk ke kanan dan ke kiri mengikuti iramanya, tapi kedua mataku menitikkan air mata.
Lagu yang sudah ku kenal sejak masih kecil.
Namun baru kali ini aku benar-benar menghayati liriknya yang ternyata dalam.
Terlebih beberapa waktu ini, keadaanku sedang sangat kacau dan butuh penyemangat.
Lagu ini mengingatkanku tentang keberuntunganku bisa mengikut Yesus.
Seharusnya hidupku bahagia, seharusnya hidupku tentram.
Ya, jika aku memilih untuk bersyukur dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidupku.
Namun nyatanya, seringkali aku lelah sendiri berperang dengan keadaan.
Seringkali aku sudah mengeluh bahkan sebelum memulai.
Seringkali aku bebal, tetap mengikat sesuatu yang berpotensi besar melukai diri.
Lagu ini menyadarkanku untuk mengingat-ingat lagi kasih yang sudah Yesus berikan.
Mensyukuri lagi berkat yang sudah Ia sediakan selama ini.
Dan yang utama, melepaskan sesuatu yang bisa membuatku terluka.
Karena dari rasa ikhlas dan rela, rasa bahagia bisa tercipta.

Sabtu, 15 Februari 2020

Cinta dan Jatuh

Berani cinta, harus berani menanggung risiko jatuh. Begitulah yang aku rasakan belakangan.

Ketika seseorang yang ku kira akan berdampingan denganku di altar kelak, justru memilih pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Aku mengenalnya hampir 2 tahun lalu, ketika aku sendiri sedang berusaha move on dari luka lama.
Dia datang menawarkan cinta, di saat hatiku kian bebal bertahan pada luka sebelumnya.
Banyak pria yang mencoba menyembuhkan luka itu, tapi aku justru tak peduli.
Semakin didekati, aku justru makin risih.
Tapi pria yang satu ini beda.
Ia baru ku kenal, tapi rasa-rasanya sudah seperti kenal lama.
Tak butuh waktu lama buat kami saling mengenal, memutuskan bertemu, hingga memutuskan menjalin hubungan.

Kalau boleh jujur, dia pacar pertamaku.
Di usia yang sudah seperempat abad, aku baru pertama kali menjalin ikatan dengan pria.
Meski sebelumnya pernah patah berkali-kali tanpa menjalin hubungan.

Bagiku, pria yang bisa membuatku move on dari luka lama adalah orang yang istimewa.
Dan entah kenapa, aku yakin dia yang akan membersamaiku sampai kelak kami menua, hingga kembali menjadi debu.
Aku punya komitmen untuk pacaran hanya sekali seumur hidup.
Dan ku rasa, pria dengan masa lalu yang kelam ini cocok untuk kutemani minum kopi di masa tuanya kelak.

Aku sudah membayangkan kami menikah, punya anak lucu bernama Lintang Marleyani, hidup di dusun yang jauh dari keramaian, setiap akhir pekan menghabiskan waktu di atas bukit menikmati sepoinya angin, ketika sedikit menua gitaran sambil menyeruput kopi di teras tiap senja datang, lalu ketika masa pensiun datang kami hanya bercengkerama berdua menceritakan ulang ingatan-ingatan kami di masa muda.

Begitu sedikit bayanganku, begitulah harapanku.
Namun ternyata, tepat seperti apa yang ia ucapkan setelah mengucap kata putus.
"Tidak semua hal yang kamu inginkan, bisa terpenuhi."

Ya, dia tidak bisa menepati janjinya untuk menghabiskan sisa hidupnya denganku.
Dia tidak bisa memenuhi keinginanku untuk pacaran sekali seumur hidup.

Dia akhirnya memilih pergi, tanpa ada pertemuan terlebih dulu.
Ini menyakitkan, sungguh.

Selama bersama, kami memang banyak masalah, tapi banyak pula kebahagiaan yang bisa kami bagi.
Tawanya adalah bahagiaku, sakitnya adalah lukaku.
Bukankah cekcok dalam sebuah hubungan adalah hal biasa, seharusnya kami bisa mengatasinya?
Bukan memilih lepas tangan dan justru meninggalkan.

Aku hancur ketika harapan-harapan kecil yang kubangun perlahan, ia runtuhkan begitu saja.
Katanya, "di luar sana masih banyak lelaki yang lebih baik dari aku."
Ya tentu saja, dia hanya salah satu dari sekian banyaknya lelaki brengsek yang pernah masuk ke kehidupanku.

Semudah itu bagi dia meninggalkanku.
Semudah itu dia membuatku cinta, lalu menjatuhkannya begitu saja.
Dia hanya mengenalkan arti kebersamaan, tanpa mengajarkanku apa itu arti perpisahan.

Andai aku bisa mengontrol diri, aku tidak akan pernah memilih jatuh cinta dengannya.
Nyatanya, di tangannya, hatiku bukannya sembuh malah semakin hancur.

Senin, 10 Februari 2020

Putus


Aku sering merapalkan doa-doa

Juga sering mengikrarkan janji

Di hadapanmu

Tapi maaf, nyatanya aku pelaku pematah janji-janjiku sendiri

Maaf, lagi-lagi aku membuat kecewa

Maaf, aku tak bisa menjadi anak perempuanmu

Bapak...

Minggu, 02 Februari 2020

Rimba


Rinduku tersesat jauh

di rimbanya hatimu

Gloomy Valentine


"Happy Valentine," katamu sambil menyodorkan bungkusan putih tepat di depan mataku.
Aku tersentak kaget.
Reseptor otakku yang tak cukup peka ini butuh waktu beberapa detik untuk mentransfer kata-katamu menjadi makna yang bisa ku mengerti.
Tapi refleks tanganku begitu cepat.
Langsung ku raih bungkusan itu.
"Makasih," ucapku lirih.
Kuingat-ingat, beberapa menit lalu aku masih di toilet pom bensin.
Sedikit bercermin memastikan penampilanku paling tidak sudah lumayan.
Begitu keluar, hanya ada sepeda motor dan 2 helm kami nangkring di atasnya.
Kemana dia?
Aku duduk saja, menunggu di depan toilet.
Ah, ternyata dia ada di mini market pom bensin.
Aku tidak kepikiran sama sekali dia membelikanku sebungkus plastik putih berisi susu cokelat dan sekotak pocky.
Ketika motor melaju aku mulai senyum-senyum sendiri.
"Gila ya, dia bisa berlaku manis," gumamku.
Lalu aku mengingat beberapa jam sebelumnya.
Aku senang sekali ketika dia bilang akan bertandang ke rumah.
Sinyal bahagiaku bahkan sampai ke Ibuk tanpa aku bilang.
Semangat sekali aku mandi sambil mendendangkan lagu JKT48 Aitakatta.
Yak, tak butuh waktu lama aku sudah siap berangkat.
Cacing di perutku juga sudah mulai berontak sedari pagi tak diberi asupan.
5 menit...10 menit... 15 menit... Aku masih santai membaca Webtoon.
Tapi setelah setengah jam aku mulai gelisah.
Apalagi setelah satu jam, ragaku sudah berpindah ke depan TV, tapi pikiranku justru ingin memaki dia.
Kesal sekali, aku merasa dipermainkan.
Lalu ku bilang pada Ibuk tak jadi pergi.
Aku pun tak tega membiarkan cacing-cacing itu terus menggeliat, ya sudah ku beri makan saja.
Sial, pikiranku masih memaki-maki pria itu.
Lalu tiba-tiba dia muncul.
Di depan Bapak dan Ibuk.
Hatiku kacau, kesal, ingin ku pukul saja mukanya.
Mau menemui pun rasanya sudah tak perlu.
Tapi, apa kata Ibuk nanti?
Huft, dengan langkah gontai ku temui dia.
Apa-apaan dia malah senyam-senyum, tapi aku tidak bisa menolaknya.
Ah, sial memang.
Padahal tadi aku marah sekali, tapi sekarang jadi.... Arghhhhhh...
Dia itu makhluk apa sih? Nyebelin tapi juga ngangenin.
Bikin marah-marah tapi mendadak berlaku manis.
Ini sogokan kan? Susu kotak kesukaan dan sekotak Pocky.
Tapi dia harus tahu, tanpa gratifikasi pun aku tetap memaafkan.
Tapi dia juga harus tahu, aku senyum-senyum sendiri diboncengnya.
Rasanya mau meledak, bahagia sekali dihadiahi dua kotak cinta ini.
Memang, bahagiaku receh sekali, ya.
Terima kasih ❤️

(Memories 02.2019)