Jam 6 kurang 5 menit tepatnya, aku tergesa menyusuri jalan yang sedikit becek bekas hujan semalam.
Padahal jam 6, peribadatan harus sudah dimulai.
Aku tugas menjadi Lektor pagi ini, namun anehnya aku belum tahu harus membaca kitab, pasal, dan ayat apa.
Menit-menit terakhir menjelang ibadah dimulai, barulah aku diberi tahu tugasku.
Huft, nyaris saja.
Meski sedikit kelimpungan, aku berusaha sebaik mungkin membaca bagianku.
Peribadatan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya.
Kebetulan gereja kami kedatangan tamu dari gereja lain di Tangerang.
Singkat cerita, rombongan dari Tangerang rupanya sudah menyiapkan persembahan pujian.
Ada 2 buah pujian yang dibawakan.
Pujian yang pertama tentang kasih, sedang pujian yang kedua mereka membawakan lagu berbahasa Jawa berjudul Sakjege.
Lagu tersebut berirama riang, aransemennnya membuat siapa saja yang mendengarnya ingin ikut bergoyang.
Namun anehnya, mendadak aku merasa haru mendengar lagu tersebut.
Kepala meliuk ke kanan dan ke kiri mengikuti iramanya, tapi kedua mataku menitikkan air mata.
Lagu yang sudah ku kenal sejak masih kecil.
Namun baru kali ini aku benar-benar menghayati liriknya yang ternyata dalam.
Terlebih beberapa waktu ini, keadaanku sedang sangat kacau dan butuh penyemangat.
Lagu ini mengingatkanku tentang keberuntunganku bisa mengikut Yesus.
Seharusnya hidupku bahagia, seharusnya hidupku tentram.
Ya, jika aku memilih untuk bersyukur dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidupku.
Namun nyatanya, seringkali aku lelah sendiri berperang dengan keadaan.
Seringkali aku sudah mengeluh bahkan sebelum memulai.
Seringkali aku bebal, tetap mengikat sesuatu yang berpotensi besar melukai diri.
Lagu ini menyadarkanku untuk mengingat-ingat lagi kasih yang sudah Yesus berikan.
Mensyukuri lagi berkat yang sudah Ia sediakan selama ini.
Dan yang utama, melepaskan sesuatu yang bisa membuatku terluka.
Karena dari rasa ikhlas dan rela, rasa bahagia bisa tercipta.


