Sore ini, hujan turun begitu derasnya. Selain membuat mager, kondisi seperti ini biasanya membuat perut cepat lapar.
Jadilah, aku dan kakakku memutuskan membuat camilan sederhana dengan bahan seadanya.
Kakak membuka kulkas, ternyata yang bisa kami masak hanyalah tahu.
Tak berlama-lama, kakak segera memotong tahu menjadi dadu kecil-kecil, lalu mengocoknya dengan tepung bumbu.
Di tengah keasyikan kami menggoreng tahu, tiba-tiba ponselnya berdering.
Sayang sekali, kakak harus menemui temannya saat itu juga.
Sebenarnya kami cukup was-was, tak hanya karena hujan, tapi juga karena ia harus keluar rumah di tengah-tengah pandemi seperti ini.
Namun apadaya, ia bersikeras harus menemui temannya sebentar untuk mengambil barang.
Tugas menggoreng pun diambil alih oleh ibuk.
Belakangan ini, aku punya banyak waktu untuk mengobrol dengan ibuk, lantaran aku diharuskan bekerja dari rumah.
Namun, biasanya kami hanya membicarakan hal-hal di sekitar kami atau seputaran covid-19 yang sekarang ini menjadi momok besar.
"Kamu kapan nikah?" Tanya ibuk tanpa tedeng aling-aling.
Aku yang sedang menyeruput kopi panas mendadak tergagap mendengar pertanyaan ibuk.
Jujur aku bingung harus menjawab apa.
Tak bisa dipungkiri di usiaku sekarang ini, sudah besar keinginanku untuk memiliki keluarga laiknya teman-temanku.
Namun di lain sisi, aku masih belum sembuh betul dari lukaku sebelumnya.
"Santai ih buk, kakak juga belum." Jawabku mencoba tenang.
"Kamu wedok, nduk. Nglangkahi pun Ndak masalah." Sanggah Ibuk.
Aku diam mendengar kata-kata Ibuk barusan.
Suasana hening, sesekali terdengar suara minyak memercik dari teflon yang digunakan untuk menggoreng tahu.
Aku sedikit melamunkan kisahku yang gagal kemarin.
"Andai Ibuk tahu sakit yang aku rasakan kemarin," kataku dalam hati.
Orangtuaku sudah tahu kalau hubunganku telah kandas, tapi mereka tak cukup tahu penyebab hubunganku harus berakhir.
Aku sudah dalam sekali mencintai seorang pria, yang ternyata justru memberikan luka batin yang teramat sangat.
Pengkhianatan, kata-kata kasar, ketidakpedulian, dibuang begitu saja. Semua hal-hal buruk itu masih saja membayang di kepala, meski kadang sedikit mereda.
Herannya, meski sudah sesakit ini, aku masih sering merindukan lelaki brengsek itu.
Bahkan aku masih membayangkan kisah kami akan terangkai kembali.
Aku menghela napas panjang sebelum menjawab sanggahan ibuk.
"Buk, nggak usah kesusu ya. Aku kemarin sama mas mantan juga kesusu, jadinya kan kandas. Kali ini aku nggak mau kesusu lagi, buk." Jawabku.
Tanpa diduga, Ibuk justru memberikan penilaian pada mantanku.
Padahal selama ini Ibuk tidak pernah menilai dia.
"Katamu mantannya dia cantik-cantik to nduk. Memang bukan buatmu, dia playboy." Ucap ibuk.
Aku melongo mendengar kata-kata Ibuk barusan, darimana Ibuk tahu kalau mantanku player.
Ah, tapi sebisa mungkin aku tidak menjelekkannya di depan Ibuk.
Bagaimanapun dia pernah jadi sumber kebahagiaanku dulu.
"Yang udah ya udah buk. Kami sama-sama salah. Tapi sebenarnya aku eman-eman buk, karena sudah terlanjur dekat dengan keluarganya." Kataku menatap cangkir kopi yang hampir kosong.
"Loh, ndak masalah kok kalau kamu masih menjalin kedekatan dengan keluarganya. Kalau musuhan malah jadi masalah." Kata Ibuk sambil menyerok tahu yang sudah matang.
Aku menatap Ibuk yang posisi duduknya membelakangiku.
Jujur saja, aku tak menyangka ibuku akan berbicara seperti ini.
Aku sungguh merasa bersyukur karena Ibuk punya pandangan sebaik ini, meski tahu mantanku player.
Aku tidak bohong, salah satu hal paling berat yang aku rasakan setelah putus dengannya adalah hubunganku dengan keluarganya jadi terbatas.
Aku tidak bisa lagi leluasa mengunjungi keluarganya, menemani keponakannya bermain, bahkan untuk sekedar video call saja rasanya susah.
Bagiku, ibunya adalah ibuku. Kakaknya adalah kakakku. Keponakannya adalah keponakanku.
Aku sudah terlanjur menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri.
Dan rasa-rasanya akan berat jika nanti peranku digantikan oleh perempuan lain.
Rasanya aku masih ingin membersamai keluarga mereka.
Bahkan bapak, yang hanya bisa aku temui di makam saja terasa sangat dekat denganku.
Mantanku memang brengsek, tapi keluarganya tak ada kaitan.
Dan seperti kata Ibuk, aku akan tetap menjaga hubungan baik dengan mereka meski risikonya aku harus merasakan sakit lagi.