Senin, 27 Januari 2020

Sia-sia


Sia-sia aku lari sampai ujung Samudera Hindia

Jika isi kepalaku masih tetap kamu!

Kamis, 23 Januari 2020

Aku Belum Salim

17.55
Keterkejutanku membuncah
Tiba-tiba, bak keajaiban, ah atau orang beriman menyebutnya mujizat
Matamu terbuka, penuh, bulat seperti purnama
Bahagia bukan main
Kalau aku ilmuwan pasti sudah teriak eureka, eureka
Tak lama, tapi sungguh optimismeku meninggi
Engkau, pasti bangun
Dan aku bisa salim

20.30
Dokter yang galak itu tiba-tiba muncul
Membawa kabar bak disambar petir
Seperti ban yang kena paku, optimismeku hilang begitu saja
Katanya, harapannya makin tipis
Katanya, engkau sangat kritis
Katanya, minta yang terbaik sama Gusti

Di seberang jendela, hingar bingar pesta kembang api
Sementara engkau hanya membujur kaku di kasur
Uti, bangun
Besok raya
Aku ingin salim
Aku belum salim...

Indriati, malam raya 2019

*Uti akhirnya pergi untuk selama-lamanya 2 Juli 2019. Tepat 3 hari sebelum ulang tahunku dan 3 Minggu sebelum aku memenuhi keinginan Beliau untuk menjadi seorang pendidik :)

C1


Kamu mungkin tak tahu diam-diam kuaminkan kita tatkala malam itu, kamu membawaku beribadah bersama
Kamu mungkin tak sadar, genggaman tanganmu di pantai kala hari ulang tahunku, tetap membekas hingga tahun-tahun setelahnya
Kamu mungkin tak ingat, bila kita pernah satu bangku di bus yang sama, saling bersandar berbagi lelah tatkala turun dari Kalisoro
Untuk kamu yang hanya jadi masa lalu
Terima kasih pernah mengisi hari-hari
Di tengah sibuknya mengejar skripsi, kamu menghadirkan tawa sekaligus tangis
Semoga, kita selalu karib meski semesta memilih tak menyatukan

Rabu, 22 Januari 2020

Janji

Untuk Bapak yang belum pernah ku temui, tapi serasa Bapakku sendiri


Sore itu, kami berdua pergi ke pusara Bapak
Untuk pertama kalinya dia membawaku kesana, memperkenalkanku pada sosok yang tak bisa ku sentuh wujudnya
Meski begitu, aku selalu menyimak setiap dia bercerita tentang Bapak
Dia selalu semangat bercerita tentang sosok Bapak, aku pun jadi ikut semangat mengenal beliau
Berdasarkan ceritanya, aku menyimpulkan Bapak orangnya asyik. Ngenomi dan ngayomi
Bapak juga welas asih, ngalahan, dan sayang sama keluarga
TTS yang kutemukan di rak meja rumahnya, membuatku merasa dekat dengan Bapak
Hobi kami sama, mengisi kotak-kota kosong di waktu luang
Belum lagi beragam buku tua yang berjajar rapi di rak samping televisi
Sudah pasti Bapak ini orang yang cerdas
Mau membaca, lihai bermain musik, dan punya ketertarikan di dunia pendidikan
Rasanya aku seperti berkaca pada diriku sendiri
Menemukan sosok yang sepertinya benar-benar akan cocok diajak minum teh di sore hari sambil berceloteh atau berbagi jawaban TTS
Rasanya aku seperti menemukan sesosok aku yang lain, dalam diri seorang Bapak
Meski aku belum pernah bertemu
Meski sebenarnya aku penasaran dan benar-benar ingin bertemu
Rasanya sedikit kecewa karena aku terlambat datang
Bapak dulunya seorang pendidik
Bukan di sekolah umum, melainkan sekolah luar biasa
Satu nilai tambah yang membuatku semakin mengagumi sosok beliau
Jiwa seni mengalir kental dalam darah beliau, yang pada akhirnya juga menurun ke dia
Bagiku, pria yang hidup dengan buku dan alat musik adalah tanda kejeniusan
Dan aku merasa bahagia sekali, ketika pertama kalinya dia membawaku ke pusara Bapak
Memberikan aku waktu untuk mendoakan Bapak
Juga membersihkan tempat peristirahatan Bapak
Sungguh banyak yang ingin aku ceritakan pada Bapak, tapi hanya tertahan di bibir karena malu dia ada di sampingku


Kali kedua aku mengunjungi Bapak, aku sendirian
Datang dalam keadaan berantakan
Pulang dari mengajar langsung bergegas membeli karangan bunga untuk Bapak
Kupilihkan buket berwarna hijau, karena aku yakin Bapak suka warna hijau
Sesampainya di sana, kubersihkan dulu sekitar peristirahatan Bapak
Sebelum akhirnya air mataku berjatuhan di teriknya siang
Tidak ada pohon yang mencoba melindungiku, aku menangis sejadinya di bawah sengatan sinar matahari
Kala itu, aku baru tahu kalau dia bisa sejahat itu
Aku kacau, kecewa, tak ingin lagi memberinya maaf
Satu-satunya tempat yang ingin ku tuju waktu itu adalah pusara Bapak
Entah mengapa, disana aku bercerita banyak pada Bapak
Aku merasa sosok beliau memang sedang ada di sampingku, mencoba menenangkan
Aku minta maaf pada beliau, tak bisa lagi membersamai putra kesayangannya
Aku merasa bersalah pada beliau karena tak bisa menjaga putranya dengan baik
Aku juga minta maaf karena belum bisa mengajak anaknya menjadi manusia yang lebih baik lagi
Semua rasa sakit, cemburu, kalut, cemas di hati aku keluarkan disana
Entah perasaan apa itu, tapi aku sungguh lega bisa menangis di depan pusara Bapak


Bapak, meski aku tak bisa menjadi anakmu, aku gagal memenuhi janjiku untuk menjaga putramu, aku tak bisa lagi leluasa memandangi foto Bapak,
namun suatu saat nanti aku akan menggenapi janji yang satu ini
Ngeteh sore sambil ngisi TTS bersama
Nanti ya Pak, tunggu saja
Kelak, aku pasti akan menemui Bapak, berbagi isi buku yang pernah dibaca atau justru minta diajari main gitar hehehe
Sampai jumpa Bapak, aku sayang Bapak ☺️

Autotomi

Untuk pria yang pernah berbagi rahasia hidupnya denganku.....

Hai! Apa kabar?
Bagaimana hidupmu setelah bebas dari aku? Pasti bahagia ya!
Ah, tentu saja kamu bahagia
Usai memutuskan hubungan secara sepihak, kamu langsung deklarasikan 'FREE!'
Hmmm, bahagia sekali ya seperti burung liar yang lepas dari sangkar
Kontras memang dengan keadaanku sekarang
Hancur boi!
Aku sudah berusaha menata ulang kisah kita, tapi lagi-lagi kamu yang merusak tatanan
Aku sudah berusaha membangun lagi rasa percaya, tapi kamu malah asyik terpikat dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia
Apa bagimu, hidup hanya tentang bersenang-senang saja?
Kalian sama saja, tidak tahu menghargai diri sendiri dan orang lain!
Aku patah Boi, bak buntut cicak
Tapi tak apa, aku sedang melindungi diriku sendiri dari rasa sakit yang lebih parah
Aku bersedih, hingga kini masih
Aku marah tiap ingat kata-katamu yang merendahkanku
Aku kecewa, merasa salah ambil keputusan memberimu kesempatan kedua, kala itu
Aku kesal karena untuk bertemu terakhir kali saja, kau tak sudi padahal sudah membuat janji
Boi, kamu hanya memikirkan rasa sakitmu sendiri
Sementara sakitku?
Jika bagimu aku salah, bukankah seharusnya masih ada pintu maaf?
Aku memberimu kesempatan lagi, kenapa kau tidak bisa?
Tadinya. Ku pikir begitu. Kau memberi maaf, lalu kita kembali
Tapi kupikir-pikir lagi, memang sepertinya aku tak mampu lagi membersamaimu
Aku lelah sendiri jika harus selalu mengalah, juga menuruti egomu yang sebesar gunung
Aku sadar, ada saatnya aku harus menjadi cicak untuk diriku sendiri
Melepaskan sesuatu yang berharga demi tetap bertahan
Nanti, suatu saat akan tumbuh lagi semakin kuat

(21.01.2020)