Ketika seseorang yang ku kira akan berdampingan denganku di altar kelak, justru memilih pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Aku mengenalnya hampir 2 tahun lalu, ketika aku sendiri sedang berusaha move on dari luka lama.
Dia datang menawarkan cinta, di saat hatiku kian bebal bertahan pada luka sebelumnya.
Banyak pria yang mencoba menyembuhkan luka itu, tapi aku justru tak peduli.
Semakin didekati, aku justru makin risih.
Tapi pria yang satu ini beda.
Ia baru ku kenal, tapi rasa-rasanya sudah seperti kenal lama.
Tak butuh waktu lama buat kami saling mengenal, memutuskan bertemu, hingga memutuskan menjalin hubungan.
Kalau boleh jujur, dia pacar pertamaku.
Di usia yang sudah seperempat abad, aku baru pertama kali menjalin ikatan dengan pria.
Meski sebelumnya pernah patah berkali-kali tanpa menjalin hubungan.
Bagiku, pria yang bisa membuatku move on dari luka lama adalah orang yang istimewa.
Dan entah kenapa, aku yakin dia yang akan membersamaiku sampai kelak kami menua, hingga kembali menjadi debu.
Aku punya komitmen untuk pacaran hanya sekali seumur hidup.
Dan ku rasa, pria dengan masa lalu yang kelam ini cocok untuk kutemani minum kopi di masa tuanya kelak.
Aku sudah membayangkan kami menikah, punya anak lucu bernama Lintang Marleyani, hidup di dusun yang jauh dari keramaian, setiap akhir pekan menghabiskan waktu di atas bukit menikmati sepoinya angin, ketika sedikit menua gitaran sambil menyeruput kopi di teras tiap senja datang, lalu ketika masa pensiun datang kami hanya bercengkerama berdua menceritakan ulang ingatan-ingatan kami di masa muda.
Begitu sedikit bayanganku, begitulah harapanku.
Namun ternyata, tepat seperti apa yang ia ucapkan setelah mengucap kata putus.
"Tidak semua hal yang kamu inginkan, bisa terpenuhi."
Ya, dia tidak bisa menepati janjinya untuk menghabiskan sisa hidupnya denganku.
Dia tidak bisa memenuhi keinginanku untuk pacaran sekali seumur hidup.
Dia akhirnya memilih pergi, tanpa ada pertemuan terlebih dulu.
Ini menyakitkan, sungguh.
Selama bersama, kami memang banyak masalah, tapi banyak pula kebahagiaan yang bisa kami bagi.
Tawanya adalah bahagiaku, sakitnya adalah lukaku.
Bukankah cekcok dalam sebuah hubungan adalah hal biasa, seharusnya kami bisa mengatasinya?
Bukan memilih lepas tangan dan justru meninggalkan.
Aku hancur ketika harapan-harapan kecil yang kubangun perlahan, ia runtuhkan begitu saja.
Katanya, "di luar sana masih banyak lelaki yang lebih baik dari aku."
Ya tentu saja, dia hanya salah satu dari sekian banyaknya lelaki brengsek yang pernah masuk ke kehidupanku.
Semudah itu bagi dia meninggalkanku.
Semudah itu dia membuatku cinta, lalu menjatuhkannya begitu saja.
Dia hanya mengenalkan arti kebersamaan, tanpa mengajarkanku apa itu arti perpisahan.
Andai aku bisa mengontrol diri, aku tidak akan pernah memilih jatuh cinta dengannya.
Nyatanya, di tangannya, hatiku bukannya sembuh malah semakin hancur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar