Kamis, 02 Maret 2017

Hai, apa kabar?

Ragamu tak pernah nyata muncul di hadapanku, namun senyumanmu tak pernah kurang memenuhi setiap sosial mediaku. Rindu yang menggebu terus menerus menggugat untuk membuat temu denganmu. Mana bisa bertemu? Menyapa saja tak ada nyali. Enyahlah rindu! Kamu bukan lagi kamuku yang bisa seenaknya aku kangeni. Kita sudah putus! 
Niatku sudah bulat, mengendapkanmu dalam palung terdasar ingatanku. Biar saja akhirnya membusuk, biar saja memori itu diurai bakteri yang menamakan dirinya kesibukan, biar sajalah ingatan itu memfosil. Sungguh, aku sudah berkomitmen untuk tak lagi memedulikan apapun tentangmu. Aku sengaja menenggelamkan diriku dalam kesibukan siang malam. Ini namanya rencana pengalihan. Pusat semestaku adalah kamu, dulunya. Sekarang sengaja kumanipulasi sehingga kamu bukan lagi fokusku. Kamu bahkan sudah kuanggap tiada, sudah kutendang masuk ke  lubang hitam. Entah sekarang kamu ada di dimensi lain atau kamu sudah benar-benar lenyap. Ya intinya begitu, kamu sudah tereliminasi  dari peran utama rencana masa depanku. 
Aku baik-baik saja tanpa stalking sosial mediamu. Aku baik-baik saja tanpa tahu apa kesibukanmu kini. Aku masih tetap hidup meski kamu sudah tak lagi mengingatkanku makan! Namun, semua pengalihan yang kubuat, semua tembok raksasa yang kubangun susah payah, semua barrier alias tameng pertahananku runtuh begitu saja. Semuanya menjadi sia-sia. Sebuah serangan dadakan terdeteksi pada sebuah radar yang sengaja kupasang untuk berjaga. Ya, kamu menyerangku, dengan senjata sederhana, bukan bom molotov apalagi bom nuklir.  Senjatamu hanya sebuah pesan yang kau kirim di kala senja penuh genangan rintik hujan. Sebuah pesan bertuliskan "hai, apa kabar?" jelas tertera di layar ponselku dan aku yakin 99% pengirimnya adalah kamu(kecuali kalau kamu punya admin pribadi). Hahaha apa ini? Cuma senjata murahan. Cuma modal kuota dan sinyal bagus. Kau pikir aku luluh dengan senjata murahan seperti itu? Kau pikir pertahananku lemah? Kau pikir aku akan menyerah? Hahaha, sayangnya kamu benar. Aku memang lemah, pertahananku buruk, aku akui aku kalah. Aku menyerah. Aku tidak akan tahan untuk tidak membalas pesanmu. Salahku juga tidak menghapus semua kontakmu dulu. Pun kuhapus, aku masih hafal nomor ponselmu, pin BBMmu, nomor rumahmu, tanggal lahirmu, tanggal kita saling jatuh cinta, tanggal kita pergi berdua. Arghhhh, membusuk apanya? Nyatanya ingatan tentangmu tak pernah benar-benar mengendap, ada saatnya dia muncul kembali ke permukaan dan menghancurkan barrier pertahananku. Sebuah "hai, apa kabar?" darimu adalah senjata paling mematikan untukku. Kamu benar-benar penembak jitu, seranganmu tepat menembus ulu hatiku. Kalau sudah begini aku akan menyerah pada diriku sendiri. Kusegerakan membalas pesanmu, kita kembali dekat, kita saling berjanji memperbaiki diri, aku kembali menyerahkan hatiku padamu. Lalu pada suatu titik dimana aku meyakinimu dan mengembalikan peranmu sebagai pemeran utama rencana masa depanku,  kamu justru meragu lagi dan lagi. Lalu kamu perlahan hilang. Kamu akan bilang begini sebagai pesan terakhir yang tak pernah berakhir "Kamu sempurna, aku sederhana. Aku banyak dosa, kamu terlalu baik untukku." Aku meyakini sesuatu yang sudah tak punya keyakinan bahkan pada dirinya sendiri.  Kamu menambah dosamu dengan menyakitiku dan aku menambah kebaikanku dengan terus-terusan percaya pada janjimu. Ah bukan, lebih tepatnya kebodohan. Aku bodoh karena terus mengulang melakonkan skenario yang sama dengan aktor yang sama. Aku bodoh karenamu. Iya kamu, manusia tak berhati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar