Selasa, 17 Oktober 2017

Curhat (lagi)

"Bekerjalah sesuai passionmu maka hasil kerjamu pasti memuaskan." Ah, bagus ya nasehatnya, kelihatan memotivasi sekali. Padahal kalau kita bawa ke kehidupan nyata, rasanya sulit menemukan pekerjaan yang sesuai passion kita. Contoh saja zaman sekarang banyak sekali sarjana non ekonomi yang bekerja di bank. Sebenarnya agak aneh juga ketika beberapa waktu yang lalu moncer sindiran Pak Presiden kepada wisudawan salah satu kampus pertanian mengenai mayoritas lulusannya yang tidak bekerja di bidang pertanian, justru malah di perbankan. Menurutku pribadi itu nggak salah sih ketika seseorang bekerja tidak sesuai bidang studinya. Bisa saja bidang studinya nanti dia manfaatkan sebagai hobi saja.
Aku adalah salah satu dari sekian banyak sarjana yang pernah bekerja tidak sesuai bidang studiku. Waktu itu aku baru saja lulus kemudian diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta. Tentu saja aku merasa bangga. Di saat teman-temanku masih pontang-panting nglamar sana-sini sementara aku sudah diterima bekerja, rasa syukurku muncul berkali lipat. Awalnya demikian. Aku merasa sangat bersyukur. Aku merasa beruntung. Namun, seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa tempatku bukan di perusahaan itu. Aku mulai merindukan suasana kelas yang gaduh candaan murid-murid, aku merindukan curhatan khas anak baru gede yang bribikannya selalu lebih dari satu, aku merindukan bicara di depan mereka dan mengawasi mereka dari belakang kelas. Akhirnya kuputuskan keluar dari perusahaan tersebut. Dan sekarang aku mengajar? Belum! Hidup tak membawaku pada jalan semudah itu.
Statusku sekarang jobless alias pengangguran. Tapi tidak sepenuhnya karena aku memiliki samben sebagai tentor les privat. Tapi menurutku itu bukan pekerjaan. Meski begitu, aku senang melakukan samben ini. Sedikit banyak, kerinduanku akan ruang kelas terobati. Selama ini aku bekerja di depan monitor yang hanya bisa berkedip. Dan sekarang yang kuhadapi adalah manusia beranjak remaja yang suka sekali bercerita tentang cemewewnya di sekolah. Lucu mereka ini hahaha.
Aku ini idealis sekali. Aku masih bersikukuh pada keinginanku untuk mengajar di kelas formal. Jadi aku hanya memasukkan lamaran ke sekolah-sekolah, menunggu panggilan, dan ternyata sampai sekarang belum ada panggilan. Hari ini tepat 3 bulan aku resign dari perusahaan itu. Keidealisanku mulai sedikit terkikis, pikiranku mulai realistis. Satu yang baru aku percayai "mencari pekerjaan sesuai passion itu susah". Banyak yang harus dipertaruhkan, semisal waktu. Temanku harus menunggu setahun setelah wisuda, baru dia mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sekolah formal. Memang aku harus bertaruh waktu jika masih kukuh mempertahankan cita-citaku tersebut. Dan sepertinya aku sudah tidak menikmati waktu luangku ini seperti dulu. Pagi hariku terlalu longgar hingga aku bingung karena tidak ada kesibukan sama sekali. Sepertinya kalimat bekerjalah sesuai passion mulai lenyap dari pikiranku. Sepertinya aku tidak bisa sesabar teman-temanku yang menunggu kesempatannya bekerja sesuai passion datang. Sepertinya, realistis akan menang dari idealis. Bekerja nggak sesuai passion lagi? Entahlah. Time will answer. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar