Minggu, 29 Januari 2017

Kak

Surat untuk seorang yang jauh, yang lahir lebih dulu dari kandungan yang sama denganku
.
.
Salam rindu dari adikmu yang tak pernah kau panggil "Dik"
Izinkan aku bercerita sedikit kisah kita di waktu kecil, barangkali kau lupa, aku akan membantumu mengingatnya. 
Aku memanggilmu "mas" waktu itu. Dan aku pernah bergelut dengan pikiranku sendiri kenapa aku harus memanggilmu mas padahal kau tak pernah memanggilku dik, tidak adil. Kita sering bermain bersama mas-mas lain yang satu kampung dengan kita. Kita pernah berebut kelereng, berebut tazoz, berebut stick nintendo, bermain "umbul", karambol, nyari becacil di kuburan, nyari ikan di kali, nyari belut di persawahan, berlarian mengejar layangan, main bola hingga senja tenggelam. Ingatkah? Mas, ingatkah kita dulu pernah mengambil uang di celengan hanya untuk bermain ding-dong saat bapak ibuk pergi? Aku masih ingat betul malam itu, aku tidak bisa berbohong dan akhirnya kita ketahuan. Nakal! Tak apa, itu pengalaman tak terlupakan untukku. Mas, ingatkah kau kita sering saling menggelitiki telapak kaki sebelum kita tidur? Waktu itu kita masih SD, kamar kita sama. Aneh memang, tapi entah mengapa kita sama-sama suka menggelitik telapak kaki. Aku sering iri padamu, Mas. Ibuk sering memberimu pakaian yang baru, sedang aku hanya bisa "nglungsur" baju-bajumu atau baju saudara jauh kita. Memang bajuku kadang lebih bermerk, tapi itu baju bekas, aku lebih menginginkan yang baru daripada sisa orang. Tapi itu dulu, Mas. Sekarang kita bahkan bisa membeli pakaian baru sendiri tanpa harus dibelikan Ibuk. Aku senang ketika pergi ke rumah nenek, berboncengan sepeda denganmu. Aku senang ketika masa panen hampir tiba, kita sering mengusir burung di sawah bersama. Aku senang satu SD denganmu karena uang gedungku jadi dapat diskon hehehe. 
Tapi Mas, ketika kamu beranjak remaja, kamu semakin menyebalkan. Kita sudah tak sedekat dulu lagi. Apalagi ketika kamu mulai masuk STM, jam sekolahmu kadang agak aneh, sekolah malam. Aku sudah sangat jarang berkomunikasi denganmu. Tanya PR pun aku tak pernah. Kita sepasang asing dibawah atap yang sama. Ketika kuliah pun demikian, kita merasa jauh meski satu rumah. Aku tak pernah cerita masalah apapun kepadamu, pun sebaliknya. Kisah asmaraku tak pernah kau ketahui karena aku tak pernah cerita sedikitpun. Kau juga tak pernah menanyakan hal itu jadi kupikir memang tidak penting bagimu. 
Tiga tahun kau merantau membawa perubahan yang cukup signifikan bagi hubungan kita. Maaf sekarang aku tak lagi memanggilmu mas, kuganti dengan "kak". Aku lebih suka begitu, terdengar lebih ceria. Ternyata jarak justru membuatku ingin bercerita banyak denganmu. Kita jadi sering curhat. Kita jadi saling bergantung dan membantu. Ternyata jarak memang paling bisa membuat rindu. Sesekali aku merindukanmu dan merasa khawatir ketika kau memposting uang recehan dan lembaran ribuan saat tanggal tua. Kak, mungkin saat ini kau iri karena aku bisa bebas bersenang-senang dengan Bapak Ibuk dirumah sementara kau jauh di rantau timur. Aku pun pernah merasa ingin merantau saat suasana rumah sedang tidak kondusif. Ketika bapak ibuk bertengkar karena kesalahpahaman, aku ingin berada di posisimu, Kak. Jauh dan tidak tahu apa yang terjadi dirumah. Tidak tahu apa yang diperdebatkan orang tua. 
Kak, aku tidak pernah membencimu. Jika aku pernah berkata kasar padamu, percayalah itu tak sungguhan. Aku tidak pernah benar-benar marah padamu. Kuharap kau pun begitu. Saat ini, kau sedang apa? Hujankah? Hatimu baik-baik sajakah? Apa ada perempuan jelek yang menyakitimu lagi? Kalau ada bilang sini, biar aku lawan. Aku sungguh benci pada mbak-mbak yang selalu saja mematahkan hatimu. Kamu ini tidak jelek, Kak. Temanku bilang kamu ini ganteng. Kalau itu terlalu menyakitkan tinggalkan saja, cari yang lain. Kubilang kamu tidak jelek, lebih gampang nyari pasangan. Kak, sedalam apapun aku pernah menyakitimu, percayalah aku tak akan rela jika ada orang lain menyakitimu. Kalau kamu sakit aku juga merasa sakit. Aku tidak tahu bagaimana suasana hatimu sekarang, tapi kalau butuh telinga aku siap kapanpun, Kak. Kita saudara meski tidak mirip, kita sudah terbiasa saling berbagi sejak kecil. Jadi apa salahnya jika kau berbagi bebanmu denganku? 
Kak, seburuk apapun perlakuanku padamu, percayalah bahwa aku sungguh mengasihimu dan akan terus menunggu kepulanganmu. Terima kasih sudah menghadiahkanku banyak benda bagus. Aku senang dengan hadiah, tapi aku lebih senang kalau kita tidak lagi berjarak. Baik raga maupun hati. 

Dari seseorang yang merindukanmu namun selalu gengsi untuk berucap rindu

Ditulis ketika Januari sedang hujan-hujannya, sesekali gerimis, seringkali deras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar