Halo kamu yang aku bingungi harus memanggilmu apa. Mantan? Tapi
kita tak pernah terikat dalam status apapun. Kusebut saja masa lalu, OK? Baiklah,
masa lalu bagaimana hidupmu sekarang? Baik – baik sajakah? Atau sebaliknya?
Maaf aku membuka kotak memoriku kembali. Aku berusaha
menguburnya sedalam mungkin, namun ada kekuatan lain yang menggalinya sebisa
mungkin. Ah, mungkin cuma rindu. Mungkin aku terlalu terbawa suasana saat
membaca Distilasi Alkena.
Mengingatmu tak pernah kusesali. Mengenangmu bukanlah
pekerjaan yang sia – sia. Namun melupakanmu selalu saja merepotkan. Berapa kali
aku mencoba sebanyak itu pula aku mengalami kegagalan. Kau yang menjanjikan kau
pula yang mengingkari. Aku yang memujamu aku pula yang patah hati. Kau, kau
terlalu banyak memainkan logika, sedangkan aku, hatiku kau anggap puzzle yang
bisa kau mainkan, kau berantakkan dalam sekejap. Kau tata lagi, lalu kau obrak –
abrik lagi. Berkali – kali aku berjanji meninggalkanmu, berkali – kali pula kau
usik keteguhanku untuk menjauh darimu. Bagiku, memaafkanmu semudah menyiram
tanaman. Sangatlah mudah, hingga perasaanku goyah lalu tumbuh lagi bahkan
semakin subur.
Aku adalah kamu ketika kamu mengatakan sayang kepadaku. Aku juga
begitu,aku rasa aku menyayangimu. Tapi kesalahanku adalah aku terlambat
menyadari perasaan itu, aku terlalu gengsi untuk mengaku rindu, bahkan lidahku
selau kelu untuk sekadar mengatakan aku juga menyayangimu. Kita hidup dalam
dimensi yang sama, namun kita saling jatuh cinta dalam waktu yang berbeda. Bukan
salahmu kau mencari hati lain yang butuh kau isi. Bukan salahmu kau
mengacuhkanku seolah aku adalah sesuatu yang asing bagimu. Namun bisakah kau
tak sekejam itu? Bisakah kau tak usah mengatakan hal – hal buruk dihadapanku? Bisakah
kau tak secepat itu melupakanku? Aku masih berharap ada sisa-sisa aku di
endapan memorimu. Aku masih berharap suatu saat ingatanmu meledak dan hanya aku
yang tersisa disana. Ah, tapi hal semacam ini hanya akan menghambat mimpiku. Seriusnya,
bisakah kau tak lagi menarik ulur harapan untuk kita bisa bersama? Biarkan aku
pergi tanpa harus berpamitan karena kamu masuk dalam kehidupanku juga tanpa
permisi.
Jadi siapa yang jahat? Aku yang menyalahkanmu atas perasaan
yang tak pernah terselesaikan atau kamu yang memulai semua permainan tanpa peraturan
ini? Atau justru waktu yang pantas kita salahkan? Karena tak pernah merestui
kita saling jatuh pada waktu yang bersamaan? Entahlah, bagiku kini tak ada faedahnya
mencari siapa pihak yang harus dipersalahkan. Bisa bangkit dan menjalani hidupku dengan
normal saja aku sudah bersyukur. Mengingatmu adalah hobi baruku di kala itu,
namun sekarang mengenangmu hanya boleh sesekali saja kulakukan. Ada bahagia
lain yang hampir kupunyai, kuikat, dan kusiram agar selalu tumbuh. Tidak ada
lagi kamu dalam daftar prioritasku. Maaf, kamu harus tereliminasi, pulanglah
dengan sesalmu, bawalah serta isak tangis dan kepedihanku yang disebabkan olehmu.
Tapi tunggu, aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu. Darimu aku belajar
mengikhlaskan, darimu aku belajar memaafkan, dan darimu aku belajar untuk
mengasihi diriku lebih lagi. Terima kasih, masa lalu. :)
#Junal365Hari #Day9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar