Jumat, 20 Januari 2017

Pertemuan Pertama (Masa Lalu)

Dia? Dia siapa? Tidak ada seorang “dia” yang bisa aku pamerkan saat ini. Yaps, mohon dimaklumi aku sekarang sedang kosong alias j*mblo. Dimaklumi dan dipahami aja ya, nggak usah dikasihani plis, jadi j*mblo nggak semengenaskan itu kok hahaha. Karena hari ini tema challenge-nya tentang pertemuan dengan “dia”  tapi aku lagi nggak punya “dia”, maka izinkan aku ceritakan pertemuanku dengan “dia yang telah lalu”.
“Dia yang telah lalu” bukan yang teristimewa untukku, namun pertemuan dengannya adalah yang paling mengesankan.  Kami berkenalan via chat, emmm lebih tepatnya dikenalin temen sih. Dia kakak tingkatku, satu tahun diatasku tapi beda prodi. Sebenarnya satu gedung sih kalau kuliah, tapi nggak tahu kenapa nggak pernah ketemu. Kayaknya akunya yang menghindar sih hahaha. Jadi hampir satu tahun komunikasinya cuma via chat. Waktu itu dia pernah punya pacar, katanya bosen nunggu aku yang susah diajak ketemu. Iyalah, akunya kan memang sengaja menghindar. Beberapa bulan berlalu katanya dia putus sama pacarnya. Dan aku juga lagi di posisi yang sama. Enggak putus sih, kan nggak punya pacar hihihi. Tapi jujur waktu itu aku juga lagi patah hati. Ada lelaki lain yang berhasil membuatku luluh dan membuangku begitu saja(atau mungkin aku yang kege’eran?). “Dia yang telah lalu” curhat masalah mantannya sama aku. Waktu dia ngajakin makan keluar nggak tahu kenapa aku langsung bilang iya gitu aja. Dia sampai  shocked nggak nyangka akhirnya aku mau diajak keluar. Pikirku sih lumayan buat pengalihan daripada terus-terusan kepikiran sama yang udah bikin patah hati. Dijemput ke  rumah? Enggak, aku nggak mau Ibuk samapi tahu aku pergi sama lelaki asing. Kusebut asing karena aku belum pernah cerita sama Ibuk. Akhirnya ketemuan di pom bensin wkwkwk. Nggak romantis banget yak janjiannya di pom bensin? Masih inget waktu itu makan di warung ramen yang cahaya lampunya nggak begitu terang. Nggak tahu kenapa ya “Dia yang telah lalu”  kok kelihatan jadi cakep (kalau kamu baca ini jangan ge’er ya, ini kan pemikiranku dulu hahaha), bersih bersinar tapi nggak kayak s*nlight sih. Kayaknya waktu itu aku terpesona sih, kayaknya lho ya wkwkwk. Setelah itu aku jadi lebih gampang kalau diajakin “Dia yang telah lalu”keluar. Bahkan aku pernah piknik, berdua aja sama “Dia yang telah lalu”. Ini pertama kalinya aku bepergian jauh sama lelaki dan cuma berdua saja. Kalau boleh jujur sebenarnya aku takut, takut dinakalin hahaha. Tapi untungnya “Dia yang telah lalu” orang baik, gombal sih tapi nggak nakal kok.
Terus “Dia yang telah lalu” itu siapa? Mantan? Bukan, dia bukan mantan. Hanya teman yang pernah mencoba melampaui batas pertemanan namun akhirnya gagal. Ya begitulah adanya, nyatanya kami nggak pernah jadian. Aku pernah marah padanya, berhari – hari nggak balas chat, dan dia dengan bodohnya kerumah bawa buket bunga terus ditaruh di depan pintu. Aku tahu dia datang tapi aku tetap nggak mau bukain pintu (dulu aku jahat banget sih), setelahnya hujan turun dengan derasnya. Dia pulang kehujanan. Dia satu-satunya lelaki yang rela menerjang hujan demi mendapatkan maaf dariku. Tapi tetap saja waktu itu aku masih marah padanya hahaha. Dia baik, tapi aku belum bisa menerimanya. Aku nggak mau dia cuma jadi pelarianku saja karena sampai saat itu aku belum sepenuhnya move on.   
Sekarang kami berteman kok. Nggak sedekat dulu sih, tapi seenggaknya nggak bermusuhan. Untuk “Dia yang telah lalu”, terimakasih ya, pernah membuatku merasa istimewa. J

#10DaysKF #WritingChallenge #Day4 #Jurnal365Hari #Day21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar