Dia? Dia siapa? Tidak ada seorang
“dia” yang bisa aku pamerkan saat ini. Yaps, mohon dimaklumi aku sekarang
sedang kosong alias j*mblo. Dimaklumi dan dipahami aja ya, nggak usah
dikasihani plis, jadi j*mblo nggak semengenaskan itu kok hahaha. Karena hari
ini tema challenge-nya tentang pertemuan dengan “dia” tapi aku lagi nggak punya “dia”, maka izinkan
aku ceritakan pertemuanku dengan “dia yang telah lalu”.
“Dia yang telah lalu” bukan yang
teristimewa untukku, namun pertemuan dengannya adalah yang paling mengesankan. Kami berkenalan via chat, emmm lebih tepatnya
dikenalin temen sih. Dia kakak tingkatku, satu tahun diatasku tapi beda prodi. Sebenarnya
satu gedung sih kalau kuliah, tapi nggak tahu kenapa nggak pernah ketemu. Kayaknya
akunya yang menghindar sih hahaha. Jadi hampir satu tahun komunikasinya cuma
via chat. Waktu itu dia pernah punya pacar, katanya bosen nunggu aku yang susah
diajak ketemu. Iyalah, akunya kan memang sengaja menghindar. Beberapa bulan
berlalu katanya dia putus sama pacarnya. Dan aku juga lagi di posisi yang sama.
Enggak putus sih, kan nggak punya pacar hihihi. Tapi jujur waktu itu aku juga lagi
patah hati. Ada lelaki lain yang berhasil membuatku luluh dan membuangku begitu
saja(atau mungkin aku yang kege’eran?). “Dia yang telah lalu” curhat masalah
mantannya sama aku. Waktu dia ngajakin makan keluar nggak tahu kenapa aku
langsung bilang iya gitu aja. Dia sampai
shocked nggak nyangka akhirnya aku mau diajak keluar. Pikirku sih
lumayan buat pengalihan daripada terus-terusan kepikiran sama yang udah bikin patah
hati. Dijemput ke rumah? Enggak, aku
nggak mau Ibuk samapi tahu aku pergi sama lelaki asing. Kusebut asing karena
aku belum pernah cerita sama Ibuk. Akhirnya ketemuan di pom bensin wkwkwk. Nggak
romantis banget yak janjiannya di pom bensin? Masih inget waktu itu makan di
warung ramen yang cahaya lampunya nggak begitu terang. Nggak tahu kenapa ya “Dia
yang telah lalu” kok kelihatan jadi
cakep (kalau kamu baca ini jangan ge’er ya, ini kan pemikiranku dulu hahaha),
bersih bersinar tapi nggak kayak s*nlight sih. Kayaknya waktu itu aku terpesona
sih, kayaknya lho ya wkwkwk. Setelah itu aku jadi lebih gampang kalau diajakin “Dia
yang telah lalu”keluar. Bahkan aku pernah piknik, berdua aja sama “Dia yang
telah lalu”. Ini pertama kalinya aku bepergian jauh sama lelaki dan cuma berdua
saja. Kalau boleh jujur sebenarnya aku takut, takut dinakalin hahaha. Tapi untungnya
“Dia yang telah lalu” orang baik, gombal sih tapi nggak nakal kok.
Terus “Dia yang telah lalu” itu
siapa? Mantan? Bukan, dia bukan mantan. Hanya teman yang pernah mencoba
melampaui batas pertemanan namun akhirnya gagal. Ya begitulah adanya, nyatanya
kami nggak pernah jadian. Aku pernah marah padanya, berhari – hari nggak balas
chat, dan dia dengan bodohnya kerumah bawa buket bunga terus ditaruh di depan
pintu. Aku tahu dia datang tapi aku tetap nggak mau bukain pintu (dulu aku
jahat banget sih), setelahnya hujan turun dengan derasnya. Dia pulang
kehujanan. Dia satu-satunya lelaki yang rela menerjang hujan demi mendapatkan
maaf dariku. Tapi tetap saja waktu itu aku masih marah padanya hahaha. Dia baik,
tapi aku belum bisa menerimanya. Aku nggak mau dia cuma jadi pelarianku saja
karena sampai saat itu aku belum sepenuhnya move on.
Sekarang kami berteman kok. Nggak
sedekat dulu sih, tapi seenggaknya nggak bermusuhan. Untuk “Dia yang telah lalu”,
terimakasih ya, pernah membuatku merasa istimewa. J
#10DaysKF
#WritingChallenge #Day4 #Jurnal365Hari
#Day21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar