Aku mengingat percakapan via chat dikala Sabtu sore itu. "Kamu masuk?" Tanyamu. "Masuklah, libur hanyalah ilusi." Jawabku sedikit becanda. "Hahaha, salah jurusan sih." Jlebbb. . . Entah kamu sedang becanda atau nggak, perkataanmu itu menohok sekali. Aku sedikit tersinggung. Tapi kubenarkan perkataan itu. Aku merasa pekerjaanku sedikit melenceng dari jurusan kuliahku.
Ah, kamu kok jahat banget sih ngomong kayak gitu. Tapi kok omonganmu benar, kan aku jadi tidak bisa membela diri. Kamu belum ngrasain sih susahnya nyari kerja. Belum ngrasain ngelamar di banyak sekolahan tapi nggak ada panggilan kerja. Kamu belum ngrasain jadi pengangguran sih. Makanya kamu bilang gitu, makanya kamu nggak mikirin gimana perasaanku setelah kamu ngomong gitu. Nyatanya aku tersinggung, meski ucapanmu benar.
Aku tahu maksudmu baik, aku tahu kamu sedang memberi semangat agar aku tak menyerah begitu saja, aku tahu kamu sedang memotivasi agar aku terus mengejar cita - citaku, tapi bisakah tak kau sampaikan dengan cara seperti itu? Aku bukannya marah padamu, aku hanya tak suka saja pada caramu menyampaikan.
"Maksudmu baik, namun kamu kurang baik dalam penyampaian."
#Jurnal365Hari #Day10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar