Minggu, 22 April 2018

Menyaksikan Kematian

Pernahkah menyaksikan kematian di depan mata?
Kematian karena kecelakaan bukan hal yang baru bagiku.
Rumahku berada tepat di depan gang maut yang sering merenggut nyawa manusia.
Truk tercebur di kali, orang yang kena serangan jantung tiba-tiba jatuh dari motor, hingga tabrakan maut yang meninggalkan jejak darah di jalan dan juga beranda rumahku.
Ya, beranda rumahku adalah persinggahan sejenak bagi banyaknya tubuh tak bernyawa sebelum akhirnya mereka dibawa ambulans dan dikebumikan nantinya.
Kakekku sendiri pun meninggal tepat di jalan raya samping rumah.
Seorang pemuda yang kebanyakan minum ciu nekat mengendai sepeda motor.
Entah bagaimana kejadiannya, kakekku sudah tergelepar begitu saja di samping rantang tongseng yang kuahnya tumpah ke jalan.
Bau darah yang anyir sekaligus tongseng kambing bercampur memenuhi udara sejenak.
Aku tidak melihatnya langsung.
Aku masih TK waktu itu.
Begitulah yang kudengar dari para orang dewasa.
Aku tidak sedih waktu itu.
Rumahku mendadak ramai, tenda biru terpasang, banyak kursi ditata.
Tetangga berdatangan dan memenuhi dapur, piring-piring penuh berisi permen fox.
Lalu tiba gerombolan orang-orang berbaju hitam yang memasukkan amplop ke sebuah peti.
Aku tak peduli, aku hanya merasa senang karena rumahku ramai dan kantung bajuku penuh permen fox.
Belum lagi saat ikut 'brobosan', bagitu banyak koin bergambar gunungan yang berhasil kukumpulkan.
Sampai-sampai dompet wadah kalung milik Ibuk kuambil dan kuiisi penuh koin.
Setelah masuk SD aku mulai paham bahwa kematian lebih erat dengan tangisan.
Semakin dewasa, semakin banyak kematian yang aku tangisi.
Termasuk kematian mendadak seorang Bapak yang sudah kuanggap ayahku sendiri.
Beliau meninggal bersamaan dengan hari pertama aku menganggur karena resain dari kantor lama.
Di saat aku bahagia karena menghirup udara kebebasan, justru ada hal yang jauh lebih besar mendukakan hati.
Kepergiannya banyak ditangisi, membuktikan bahwa dia adalah sosok yang baik semasa hidupnya.
Meski begitu, kami percaya bahwa beliau meninggal dalam keadaan bahagia karena sedang menyanyi setelah perut kenyang terisi nasi soto.
Baru-baru ini aku kembali menyaksikan kematian di depan mata.
Bukan kecelakaan lalu lintas seperti biasanya.
Namun kecelakaan karena sengatan listrik dan gravitasi.
Percayalah, malam itu aku sungguh ingin membenci manusia yang menemukan listrik.
Juga menyalahkan gravitasi yang selalu menjatuhkan apapun.
Ini pertama kalinya aku menyaksikan seseorang jatuh dari ketinggian dan  darah mengalir deras dari kepala.
Aku masih sempat membantu memegangi pintu mobil untuk membawa si Bapak ke rumah sakit.
Menyaksikan sandal jepitnya lepas dari telapak kaki dan melihat darah di bagian kaki, entah darimana.
Namun begitu mobil pergi, kakiku lemas.
Aku meremas-remas kertas di tangan berharap mendapat sedikit kekuatan.
Seketika aku ingin menangis, mataku sempat tak mampu membendung air yang memaksa jebol.
Namun temanku menguatkan, memberi secercah harap meski aku yakin beliau tidak akan selamat.
Dan benar saja, sehari sebelum Jumat Agung, di hari perjamuan terakhir, beliau meninggal.
Meninggalkan kenangan Paskah paling menyedihkan sepanjang masa.
Hingga sekarang, bayangan itu tak juga lenyap.
Di kelamnya jalanan malam, kenangan peristiwa itu sering muncul tiba-tiba.
Meninggalkan sedikit bekas sembab di mata.
Aku tidak mengenal sosok beliau, tapi beliau tersenyum ketika kusapa.
Itu senyuman pertama sekaligus terakhir yang bisa kulihat dari beliau.
Berkali-kali menyaksikan kecelakaan di depan mata, ini adalah kecelakaan yang paling tragis.
Dan mungkin, ingatan akan peristiwa Rabu malam itu akan bertahan seumur hidup.

Kematian itu pasti, waktunya saja yang selalu jadi misteri. 

-Di tulis saat sedang melayat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar